Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 145


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, usia Baby Rayyan sudah sebulan lebih. Rania tetap pada pendiriannya tinggal di rumah mereka walau Edwin meminta agar tinggal di mansion.


Bukan tanpa alasan, tetapi Rania tidak ingin merepotkan siapapun dengan kondisinya sekarang yang butuh bantuan. Jika dirumahnya sendiri, ada Rayna dan Relia yang membantu. Tapi di Mansion? Sepi tak berpenghuni, hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang.


Namun, Rania sudah berjanji pada ayah mertuanya akan tinggal di mansion, setelah anaknya genap 40 hari dan ia mulai terbiasa merawatnya tanpa di bantu.


Lagian akhir-akhir ini Rangga sangat sibuk, mengurus hotel, kantor pusat juga acara aqikah sekaligus pernikahan ulang mereka.


Rania duduk di sofa ruang tamu seraya mengendong Rayyan yang baru saja bangun. Putranya sama sekali tidak rewel.


Menyusui bayi mungil itu sembari memainkan tangan Rayyan yang lucu.


"Anak Mama pinter banget, nggak nangis ya bangun tidur," ujar Rania berusaha mengobrol dengan buah hatinya.


Sekarang di rumah, Rania hanya berdua saja dengan putranya. Rayna ada kelas sore, Relia ada kerja kelompok bersama teman-temannya.


Baru saja Rayyan selesai menyusu, Rania di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang langsung mengecup keningnya.


Mata wanita itu sedikit mengercap sebelum tersenyum, sakin seriusnya menyusui dan bermain dengan si kecil, ia sampai tidak menyadari keberadaan Rangga.


"Mas Rangga," sapa Rania langsung berdiri seraya menguluran tangannya untuk menyalimi tangan Rangga.


"Sendiri Yang? Adik-adik mana?"

__ADS_1


"Lagi ada tugas mas," jawab Rania mengikuti sang suami ke kamar.


Ia meletakkan bayi mungilkan di tempat tidur, kemudian menghampiri Rangga dan membantunya membuka jas dan kemeja agar segera membersihkan diri seperti biasa.


"Nggak usah sayang, mas bisa sendiri. Cukup ngurusin anak kita, jangan terlalu di porsir tenaganya," cegah Rangga.


"Nggak lelah juga, ngurus anak sama ngurus suami kan emang tugas aku, apa lagi mas baru pulang kerja, capek keringetan."


Usai membantu Rangga membuka baju Rania tak lupa menyiapkan pakaian rumah. Seraya menunggu laki-laki itu selesai mandi, Rania membaringkan tubuhnya di samping Rayyan yang mengercap-erjap lucu.


Kadang Rania gemes sendiri pada putranya, bahkan sering kertelaluan mengigit tangannya hingga mendapat teguran dari Rangga.


"Kesayangan Papa lagi ngapain, hm?" tanya Rangga ikut berbaring di samping Rania, memeluk wanita itu dari belakang.


"Lagi mikirin beban Negara papa," gurau Rania menyerupai suara anak kecil.


"Heh ngapain mikirin beban negara?" Rangga tertawa.


"Ya pengen aja katanya mas."


"Bisa aja istri mas."


Rania bergeser sedikit menghadap Rangga, mengecup bibir laki-laki itu sekilas. "Lepas dulu mas, aku mau buat kopi sama makan malam nanti."

__ADS_1


"Nggak usah, peluk mas aja."


"Manjanya entaran ya, aku nyelesaiin pekerjaan dulu, mumpung Rayyan sama mas."


Rangga mengangguk pasrah, sepeninggalan Rania ia kini menatap buah hatinya. Bermain dan bercerita banyak hal.


"Anak Papa kalau besar nanti nggak boleh membangkan sama orang tua ya, nurut sama mama, papa. Mamanya jangan di buat nangis apa lagi sedih," gumam Rangga.


"Mama adalah malaikat tak bersayap, yang rela mempertaruhkan nyawa buat ngelahirin Rayyan, jadi jangan buat kecewa Mama ya," nasehat Rangga padahal putranya mana tahu itu semua.


"Rayyan harus beda sama Papa, jangan niru sifat Papa, kalau sifat Mama dikit aja ya, terlalu baik dia sampai Papa sering kesal nak." Kali ini Rangga berbisik takut Rania mendengarnya atau ia akan terkena omelan.


"Ck, senyum mulu anak papa, kita jalan-jalan yuk."


Rangga langsung bangun, lalu mengendong tubuh mungil yang sedang mengisap tangannya.


"Mama, kita kedepan bentar nyari angin ya," pamit Rangga.


"Iya mas, jangan terlalu jauh."


"Iya sayang."


...****************...

__ADS_1


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2