Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 142


__ADS_3

Rania bergerak gelisah dalam pelukan Rangga, akhir-akhir ini ia susah tidur, dan pinggangnya terasa nyeri, sebentar hilang sebentar sakit.


Peluh membasahi kening Rania. Ia mengigir bibir bawahnya, kali ini bukan lagi kontraksi palsu yang ia dapatkan. Rasa sakit yang terus bersambung satu sama lain membuatnya lemas.


"Ssssshhh ... mas Rangga," lirih Rania meremas tangan Rangga. Ia memilih bersandar di kepala ranjang.


Rania mengantur nafasnya yang mulai tidak beraturan, ia merasakan mulas seperti ingin buang air besar. Waktu yang di tetapkan dokter masih ada seminggu tapi gejala yang ia rasakan seperti ingin melahirkan saja.


"Mas Rangga!" pekikan Rania tertahan, wanita itu memejamkan matanya.


Laki-laki yang sedari tadi namanya di panggil tak kunjung membuka mata. Rangga baru saja terlelap karena menemani Rania begadang.


"Mas Rangga bangun, perut aku sakit," lirihnya sekali lagi seraya mengantur nafas, kali ini bukan lagi meremas tangan, melainkan meremas rambut sang suami. Membuat laki-laki itu terbangun dengan ringisan kecil.


"Sakit Sayang ...."


"Diam mas, perut aku sakit!"


Mata yang tadinya sayu kini melebar mendengar rintihan sang istri. Rangga langsung bangun, mengelus perut Rania juga peluh yang membasahi keningnya.


"Kita kerumah sakit sekarang," ujar Rangga langsung turun dari ranjang untuk mengendong Rania yang terus merintih kesakitan.

__ADS_1


"Kayaknya air ketuban aku pecah mas," lirih Rania.


"Shiiittt." Rangga langsung panik, mengendong sang istri keluar dari kamar seraya berteriak di Mansion yang sedikit temarang pencahayaan. Ya mereka sedang menginap di Mansion karena permintaan Edwin.


"Siapkan mobil sekarang!" teriak Rangga seraya menuruni satu persatu anak tangga.


Sangat di untungkan ada sopir pribadi yang siap siaga 24 jam di Mansion, hingga membuat Rangga tidak terlalu kelimpungan.


Di dalam mobil, Rangga terus menengkan sang istri yang terlihat sangat kesakitan, tak peduli Rania mengigit tangannya.


"Lebih cepat pak, air ketuban istri saya sudah pecah!" cecar Rangga.


"Yang kuat ya sayang, sebentar lagi kita sampai," bisik Rangga membenamkan bibirnya di kening sang istri.


"Tarik nafas buang." Rangga memberi intruksi yang ia ketahui saja. "Kita hampir sampai."


***


Di ruang persalinan terjadi situasi menegangkan, katika hampir pembukaan sembilan tetapi posisi bayi dalam kandungan tidak berubah. Kepala Bayi tidak pada tempatnya, membuat Rania susah untuk melahirkan.


Padahal pemeriksaan akhir beberapa hari yang lalu, posisi bayi sangat baik, tapi sekarang malah berubah.

__ADS_1


"Mas Rangga maafin aku kalau selama ini jahat sama mas." Rania menangis saat mengetahui situasi yang ada. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada bayinya.


Rangga menunduk, membenamkan bibirnya di puncuk kepala Rania. "Iya mas maafin kamu, jangan nyerah ya, kamu perempuan kuat," bisik Rangga berusaha tegar walau ia juga sangat khawatir.


Air ketuban sudah lama pecah, sudah hampir pembukaan 9 tapi belum ada tanda-tanda apapun dari posisi bayi di dalam sana. Siapapun akan panik jika berada dalam situasi ini.


"Sampaikan maaf aku ke Ayah, kak Melisha sama ibu Mas," lirih Rania.


"Jangan aneh-aneh sayang, kamu bisa minta maaf langsung nanti."


"Berhenti mengedang Nona, itu akan membuat anda lelah!" peringatan dokter yang berusaha mengurut perlahan perut Rania agar posisi Bayi kembali pada tempatnya.


Sekuat tenaga Rania untuk tidak mengedang, percuma semuanya terjadi begitu saja hingga ia benar-benar kelelahan.


Cengkraman di tangan Rangga melemah, Rania tak punya tenaga lagi. "Lakukan sesuatu untuk anak kita mas," lirih Rania menatap Rangga penuh putus asa. Ia sudah hilang tenaga.


"Tidak ada cara lain Tuan, kita harus melakukan operasi," putus sang dokter.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2