
Rangga masih betah dalam posisi yang sama, ia sedikit tenang jika memeluk sang istri seperti ini. Semua yang di katakan Rania juga masuk ketelinganya, nencerna baik-baik dan membenarkan.
Tapi untuk bicara ia belum ingin, ia sedang menikmati rasa nyaman itu. Tahu apa ketakukan terbesar Rangga saat penjualan saham yang sangat ia harapkan gagal?
Takut Rania hidup sengsara dengannya, sampai sekarang ia belum bisa memberi apapun pada wanita itu, apa lagi usia kandungan Rania semakin hari semakin bertambah, baik-baik kalau lahiran normal, jika sesar bagaimana?
Kedua, ia tidak ingin Rania meninggalkan dirinya karena tak punya uang.
"Mas Rangga, beneran butuh dana? Gimana kalau kita jual kebun bapak aja? Biar aku yang bicara sama Ina dan Lia, lagian itu milik kita bertiga."
Mendengar kalimat itu, Rangga langsung mendongak dan mengelengkan kepalanya. "Kamu ngomong apa hm? Itu milik kamu sama Ina dan Lia, jangan di jual apalagi cuma mau bantu mas. Mas bisa ngatasin sendiri. Mas meluk kamu bukan karena sedih, tapi pengen di manja aja," jawab Rangga.
"Kamu tahu Rania? Arti kesuksesan nggak akan berarti tanpa merasakan sebuah kegagalan. Cukup selalu berada di samping mas, dan mendukung apa yang mas lakukan sudah cukup menjadi kekuatan untuk melangkah jauh kedepan."
Rania tersenyum, syukurlah jika Rangga tidak sedih. "Pasti. Mau peluk lagi? Sini sayang, aku peluk manja."
"Sayang," manja Rangga memeluk tubuh Rania, kini posisinya berada di samping sang istri.
__ADS_1
"Apa sayang? Mau minum susu?" tawar Rania di jawab anggukan oleh Rangga.
"Ya udah tunggu sini mas, aku buat dulu ...."
"Mas!" tegur Rania saat Rangga mengendongnya menuju ranjang.
"Ngapain susah-susah buat, kalau yang original ada?"
Mata Rania sontak membulat. Ayolah, kenapa suaminya selalu berotak mesum. Lupakah laki-laki itu baru saja bersedih karena masalah di kantor?
Rangga mengeleng. "Jangan mikir yang nggak-nggak sayang, nggak anu kok, cuma megang aja," ralat Rangga.
"Yang mau negokin siapa hm? Mas cuma mau megang."
"Peluk aja, kalau megang ntar kebablasan."
***
__ADS_1
Rangga berangkat kerja seperti biasa, laki-laki itu lebih gencar lagi mengajukan kerjamasama keberbagai perusahaan agar bisa mendapatkan suntikan dana untuk merealisasikan rencanya yang telah ia susun menjadi proposal.
Jam makan siang setengah jam lagi tiba, tapi pekerjaan Rangga belum selesai. Dengan berat hati ia meraih ponselnya untuk mengabari sang istri kalau ia tidak bisa makan siang di rumah.
Baru saja akan menelpon, Rania lebih dulu menghubungi dirinya.
"Mas, aku ada di depan hotel, bawain makan siang," ujar Rania di seberang telpon.
"Sama siapa?" kaget Rangga.
"Sendiri, aku mau beri semangat buat mas. Ruangan mas di lantai berapa?"
Rangga tak kuasa menahan senyum mendapat perhatian lebih dari Rania. "Mas jemput kamu di lobi," ujar Rangga setelahnya menutup sambungan telpon begitu saja.
Laki-laki itu berjalan keluar dari ruangan kebesarannya hanya memakai kemeja berwarna biru tanpa dasi yang melekat sakin buru-burunya, takut istri cantiknya di goda oleh tamu hotel.
Saat pintu lift di buka, ia langsung tersenyum melihat sang istri berdiri di meja resepsionis, tapi respon yang di berikan Rania berbeda darinya. Wanita itu menatapnya dengan raut wajah kesal, apa ia terlambat? Atau punya salah? Sepertinya tidak.
__ADS_1
...****************...
Ritual setelah membaca jangan lupa🤗🤗🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹