
Setelah di rasa jauh dari mansion, dan menemukan tempat yang lumayan sepi, Rangga langsung menepikan mobil dan berhenti dengan aman. Melepas sabuk pengaman, lalu memeluk Rania sangat erat.
Sementara wanita berbadan dua yang sedang di peluk itu tekejut, refleks mengelus rambut Rangga yang kini menyembunyikan wajahnya di antara buah dadanya.
"Mas marah Ran, sakin marahnya nggak bisa ngelakuin apapun," gumam Rangga, air mata laki-laki itu berhasil membasahi pakain Rania.
"Mas marah kenapa? Sini cerita sama aku," ucap Rania lembut.
"Mas marah kalau ada yang hina kamu Rania, rasanya mas mau bunuh orang itu." Rangga mendongak. "Di dalam perut kamu itu anak mas Rania, bukan anak laki-laki lain." Air mata Rangga semakin membasahi pipi.
Tidak ada seorang ayah yang sanggup jika anaknya di fitnah, bahkan sebelum lahir sekalipun. Hati Rangga sakit jika mengigat semua perkataan ayahnya. Ia pernah kecewa tapi tak pernah sekecewa ini.
"Iya mas, nggak ada yang ngomong kalau anak di perut aku anak orang lain. Di sini tuh anak papa Rangga sama mama Rania." Rania membimbing tangan Rangga agar mengelus perutnya yang semakin membuncit.
Dari perkataan Rangga barusan, Rania bisa menyimpulkan kalau isi kertas itu adalah hinaan untuknya. Tapi itu tidak masalah untuk Rania. Dengan Rangga yang selalu mempercayainya sudah lebih dari cukup.
"Aku nggak suka sayang," gumam Rangga.
"Iya, aku tau mas."
***
__ADS_1
"Sayang?" panggil Rangga meregangkan otot-ototnya seraya menguap.
Ia baru saja bangun setelah jam menunjukkan angka 8. Semalam Rangga juga tidak jadi menemui Arga di gedung terbengkalai tempat janjian mereka. Namun, Arga tidak mempermasalahkan itu dan menunggu waktu Rangga kapan saja.
Karena hari ini hari minggu, laki-laki itu bebas tidur sampai jam berapapun tanpa di recoki oleh istri tercintanya.
"Kenapa mas?" tanya Rania.
Wanita itu menghampiri sang suami, dan memberikan morning kiss seperti biasa, apa lagi Rangga sudah memanyungkan bibirnya.
Sejak pulang dari Mansion, dan kejadian Rangga yang menangis seperti anak kecil di mobil. Tingkah Rangga sangat manja hingga pagi ini.
Rangga langsung menarik pinggang Rania dan mendudukkan di pangkuannya. "Wangi banget istri mas, tumbem mandi pagi," gumam Rangga membenamkan bibirnya di tengkuk sang istri yang kini menyepol rambutnya.
"Nggak ada, kemarin udah jenguk-jenguknya sekarang nggak usah. Di sana banyak pembantu yang bakal bantu, mas udah nyuruh kepala pelayan ngawasin ayah. Istri mas cukup di rumah istirahat."
"Tapi mas ...."
"Jangan ngeyel, mas nggak suka di bantah. Perut kamu udah besar banget itu."
"Ya udah, tapi telpon kepala pelayan untuk nanyain kabar nggak papa?"
__ADS_1
"Nggak papa, lagian disana ada orang gila, ntar dia gigit kamu lagi," bisik Rangga.
"Ish kejam banget suami tampan aku ini."
"Apa lagi di ranjang."
Rania langsung melepaskan diri saat mendapat bisikan terakhir yang membuatnya merinding. Apa lagi suara serak Rangga, sungguh berbahaya.
"Mandi sana!"
Rangga mengangguk tanpa membantah lagi, ia harus bertemu Arga pagi ini mumpung ada waktu dan Relia, Rayna ada dirumah menemani Rania.
"Sayang, mas mau keluar bentar," ujar Rangga sebelum masuk ke kamar mandi, pasalnya Rania selalu menyiapkan pakaian sesuai kegiatannya.
"Pekerjaan mas?"
"Bukan, tapi ketemu teman lama, santai aja," sahut Rangga.
Rania mengangguk walau Rangga tidak mungkin melihatnya. Sebenarnya wanita itu ingin bertanya lagi, tapi urung dan memutuskan bicara nanti saja.
...****************...
__ADS_1
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น