Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 101 - Teror?


__ADS_3

"Nggak mau, kalau mati ya udah mati bareng aja apa susahnya?" tegas Rania tidak habis pikir dengan pikiran Rangga.


"Rania, mas bilang lompat, mas nggak mau kamu celaka!" bentak Rangga.


"Kalau nggak mau aku celaka usain tenang kendaliin mobil mas, di lapangan ini kosong tinggal nunggu habis bensin aja apa susahnya sih?"


Rangga terdiam sejenak mencerna kalimat Rania, benar juga kenapa ia tidak kepikiran dari tadi. Lapangan kosong, ia bisa putar di mana saja dan menunggu.


Diam-diam ia mengulum senyum, ah kenapa otaknya tidak berkerja cerdas seperti sang istri. Mengikuti saran Rania, akhirnya mobil mereka berhenti karena kehabisan bensin dan itu sudah menjelang sore, bahkan wanita yang memberinya ide sudah tertidur.


Sunggu Rangga tidak habis pikir, Rania bisa sepositif ini bahkan ketika dalam bahaya.


Rangga memesan taksi lebih dulu sebelum keluar dari mobil. Setelah taksinya datang, barulah Rangga mengedong sang istri dan mengantarnya pulang.


"Kejalan ... pak," perintah Rangga.


Ia menyandarkan kepala Rania di pundaknya dengan tangan melingkar di pinggang, sesekali membenamkan bibirnya di sana.


***


"Mas mau kemana lagi? Udah malam ini, nggak cape?" cegah Rania saat Rangga pamit pergi setelah makan malam.


"Mas mau ambil mobil sayang," jawab Rangga. Ia tidak mengatakan sekaligus pergi menyelidiki siapa yang membuat rem mobilnya blong, tidak mungkin rusak begitu saja.


"Jangan pulang tengah malam, aku nggak bisa tidur kalau belum nyium ketek mas," ujar Rania malu-malu.


"Aaa gemes banget deh. Iya sayang, mas pulang sebelum jam sepuluh, cuma ngambil mobil aja. Jangan lupa baju dinasnya di pakai, biar mas ngasih nyium ketek sepuasnya," bisik Rangga menggoda.

__ADS_1


"Mas ih, bajunya buat masuk angin aja itu."


"Ck, alasan aja bumil satu ini. Mas pergi dulu, dah sayang, mau nitip sesuatu nggak?"


Rania mengangguk seraya berfikir apa yang ia inginkan. "Ubi kayu bakar tapi gosong."


"Hah?"


"Ubi bakar gosong mas, aku mau makan itu, beliin ya."


Rangga mendesah pasrah seraya mengangukkan kepalanya. Apa lagi ini, bagaimana rasanya ubi bakar gosong, sungguh aneh.


Sepeninggalan Rangga, Rania memutuskan berbaring di tempat tidur saraya memainkan ponselnya, baru saja akan menonton, notifikasi pesan dari no asing membuatnya tertarik.


083718*****: Mungkin hari ini kamu selamat, tapi jangan harap di lain waktu!


Rania menelan salivanya kasar membaca pesan itu, apa maksudnya kejadian rem blong siang tadi ulah sang pengirim pesan?


Centang satu pertanda sudah tidak aktif, wanita itu menelpon seluler tidak bisa di hubungi atau berada di luar jangkauan. Sepertinya ia di blokir.


Rania mengigit bibir bawahnya, melirik keadaan sekitar, ia langsung beranjak untuk memeriksa jendela apa sudah terkunci atau belum, tak lupa menutup gorden. Keluar kamar dan melakukan hal yang sama.


"Ina?" Rania mengetuk pintu kamar adiknya.


"Iya mbak, mbak butuh sesuatu?" tanya Rayna.


"Jendela sama hordennya jangan lupa di tutup ya takutnya ada sesuatu."

__ADS_1


"Iya mbak, tapi kenapa kok mbak kayak ketakutan gitu?"


"Nggak papa tidur gih!"


Rania juga menyempatkan ke kamar Relia sebelum ke kamarnya. Ia takut orang yang mengirim pesan padanya mencelai dirinya atau orang terdekatnya.


Ia langsung menghubungi sang suami.


"Halo mas, mas dimana?" tanya Rania.


"Masih di jalan sayang, kenapa?"


"Pulang!"


"Kok pulang, mas baru sampai di lapangan ini."


"Pokoknya mas pulang sekarang, atau aku marah. Pulang ya mas."


"Kamu kenapa sayang?" ulang Rangga, sikap Rania tidak seperti biasa.


"Aku bilang pulang!" lirih Rania.


"Iya mas pulang sekarang!" Putus Rangga.


Laki-laki itu melirik montir di sampingnya. "Tolong di bawa ke bengkel ya pak, hubungi saya jika sudah selesai!"


"Iya Tuan."

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa tebar bunga sebanyak-banyaknya, vote juga di tekan ya💃💃💃💃😘


__ADS_2