Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 135


__ADS_3

Rania kali ini benar-benar marah pada Rangga, sampai-sampai wanita itu memilih tidur bersama Rayna hingga pagi hari. Bahkan saat Rayna bercerita bahwa Rangga tidak makan malam, wanita itu sama sekali tidak peduli.


Rania hanya ingin kejujuran, bukan yang lain. Tapi sepertinya Rangga masih tetap pada pendiriannya, tidak ingin jujur. Bau amis saat Rangga memeluknya, Rania sempat mencium itu, dan ia yakin bau itu adalah darah.


Usai memasak dan olahraga pagi di halaman rumah, barulah Rania masuk ke kamarnya dan mendapati sang suami tengkurap dengan bantal menimpa kepala laki-laki itu.


Takut Rangga sesak nafas, Rania menghampiri Ranjang berniat menyingkirkan bantal setelah itu mandi. Namun, kebaikan hatinya malah membuatnya dalam masalah.


Tangganya di tarik hingga terjerambah ke ranjang, ingin lepas tapi tak semudah itu. Rangga sudah mengunci pergerakan tubuhnya. Kaki laki-laki itu kini berada di atas pahanya.


"Mas aku mau mandi."


"Udah marahnya, sekarang kita selesain sekarang, mas nggak mau lama-lama berantem," ujar Rangga menatap Rania.


Laki-laki itu sengaja bagun pagi-pagi buta hanya untuk menununggu kedatangan Rania di dalam kamarnya.


"Yaudah, mas jujur dulu dari mana? Aku nyium bau amis di tubuh mas," lirih Rania.


Rangga memejamkan mata sebelum menjawab yang sejujurnya. "Mas habis ketemu orang yang mau bunuh kamu hari itu, dan mas mukul dia sampai masuk rumah sakit. Tenang aja mas nggak sampai bunuh dia kok," gumam Rangga langsung bersembunyi di ceruk leher sang istri.


Dirinya sekarang sudah siap menerima omelan dari istrinya karena melanggar janji. Janji yang ia ucapkan dulu saat pertama kali mereka pacaran, dimana Rangga tidak lagi ikut-ikutan Agas berkelahi jika ada yang mengusik.

__ADS_1


"Gimana? Ada yang luka jika mas jujur kayak gini? Kenapa nggak dari sore aja jujurnya?"


"Mas takut kamu marah."


"Aku lebih marah kalau mas nggak jujur."


"Sekarang di maafin kan? Iya kan sayang? Janji ...."


"Nggak usah janji, kalau ujung-ujungnya di langgar mas."


***


Selalu saja apapun alasannya, tidak ada baikan dan menyelesaikan masalah yang benar-benar tuntas sebelum olahraga ranjang di pagi hari. Seperti yang di lakukan Rangga dan Rania sekarang.


Remasan Rania pada lengan bergantian rambut sang suami kala kenikmatan itu kembali menyapa untuk kesekian kalinya.


"Mas!" panggil Rania dengan nafas terengah-engah saat Rangga menarik tubuhnya hingga berada di atas tubuh laki-laki itu.


"Sekali lagi, kamu yang pegang kendali," pinta Rangga dengan tangannya yang bergerak nakal meraba sesuatu yang sangat kenyal juga besar.


"Ak-aku lelah," keluh Rania.

__ADS_1


Rania mendesis saat Rangga semakin meremas bahkan kembali meninggalkan jejak kepemilikan di buah tak berpohonnya.


Akhirnya wanita itu mengikuti keinginan sang suami, hingga keduanya benar-benar terkapar karena lelah berolahraga.


"Udah mas," gumam Rania tak sanggup lagi, tapi Rangga masih menyusuri tulang selangkanya.


"Hm."


"Mas," bentak Rania dengan mata terpejam.


"Tidur sayang."


Rania mendengus, bagaimana ia bisa tidur dengan tenang, jika Rangga masih sibuk menganggu dirinya seakan tidak puas. Awalnya Rania memaklumi karena sudah seminggu lebih Rangga tidak mendapat jatah. Tapi sekarang sepertinya sudah kelewat batas.


"Mas masih kangen," bisik Rangga.


"Aku benar-benar lelah mas."


"Iya kan mas bilang tidur sayang, mas cuma meluk aja kok nggak macem-macem."


...****************...

__ADS_1


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2