Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 105 - Bumil Manja


__ADS_3

Baru saja sampai di rumah dan mendapat beberapa pertanyaan dari Rayna, suara mobil memasuki garasi juga mulai terdengar, pertanda suaminya baru saja pulang dari kantor. Ia hanya meletakkan tasnya di sofa kemudian keluar untuk menyambut sang suami dengan senyuman seperti biasa.


"Cantik banget istri mas, darimana sayang?" tanya Rangga seraya mengamit pinggang sang istri memasuki rumah, menyerahkan beberapa kantong cemilan yang di titipkan Rania padanya tadi.


"Habis jalan mas, ngilangin suntuk," jawab Rania langsung menyerahkan pemberian Rangga pada Rayna setelah itu mengikuti sang suami ke kamar. Tidak mungkin kan Rania membawa belanjaan Rangga ke kamar, apa yang akan di katakan adik-adiknya nanti.


Setelah berada di kamar, Rania langsung memeluk sang suami, menyembunyikan kepalanya di dada bidang Rangga.


"Eh, istri mas kenapa lagi, hm? Manja banget."


"Pengen meluk aja, kangen."


Rangga terkekeh geli, melepas jam tangan juga tasnya. Mengendong Rania ala anak koala walau sedikit susah karena perut buncit sang istri. Duduk di sofa dengan Rania dalam pangkuannya. Ia melerai pelukan wanita itu sebentar, melepas kemeja juga baju kaos yang ia kenakan hingga bertelanjang dada.


"Sini peluk lagi sayang." Rangga kembali mendekap Rania.


"Istri mas pasti ada masalah kan, makanya manja gini. Beneran nggak mau cerita?"


Hening, Rania tak menyahut, wanita itu memejamkan matanya dengan nafas memburu.


"Sayang."


"Aku dari kantor polisi ketemu ibu," lirih Rania.

__ADS_1


"Sama siapa? Kok nggak ngajak mas? Mas kan bisa antar sayang."


"Aku tau mas lagi sibuk makanya pergi sendiri. Mas, aku beneran bukan anak ibu, makanya ibu tega jual aku," adu Rania.


Elusan di punggung Rania terhenti, Rangga sudah mengira ini sejak awal, tidak ada ibu kandung yang tega menjual anaknya.


"Baguslah kalau dia bukan mertua mas. Mau kamu anak ibu atau bukan, itu nggak penting Ran. Karena sekarang kamu istri mas, dan nggak bakal ada yang berani ganggu lagi."


Rangga melerai pelukannya, dan mengecup seluruh wajah Rania yang ternyata sudah basah akan air mata. "Nangis lagi kan, padalah mas nggak suka. Mau di hukum, hm?" Rania mengeleng.


"Kalau gitu jangan nangis."


Rania menganggukkan kepalanya, meraih tangan Rangga agar menyentuh perutnya. "Coba mas ajak bicara anak kita!" perintah Rania mengalihkan topik, tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa saja membahayakan anaknya. Tadi pagi ia merasakan sesuatu di dalam sana. Awalnya memang sakit tapi sangat menyenagkan.


"Ish mas narsis."


"Eh, kok gerak?" heran Rangga, setelahnya ia tersenyum saat sadar akan sesuatu. "Beneran udah bisa gerak sayang?"


"Iya mas, dari pagi."


Rangga langsung menurunkan Rania dari pangkuannya, kemudian merebahkan di sofa. Menunduk untuk mengecup perut Rania berkali-kali.


"Mas kok nangis?" Kini giliran Rania yang bingung karena sikap Rangga, setetas air membasahi perutnya.

__ADS_1


"Nggak nyangka aja, mas beneran bakal jadi ayah, didalam sini benar-benar ada kehidupan baru. Kalian harta mas yang paling berharga."


"Peluk lagi mau?"


"Mandi bareng aja gimana? Belum mandi sore kan bumilnya Rangga? Sekalian ... Sssttt sakit sayang," rintih Rangga.


Rangga mengelus dadanya dimana ada biji-biji di sana, kebiasaan Rania saat gemes yaitu mengigitnya.


"Makanya jangan nakal, apaan cuma di gigit bentar aja udah ngeluh apa kabar aku yang tiap malam ... eh maksud aku itu, yaudah ayo mandi." Rania gelagapan sendiri saat tersadar akan ucapannya, apa lagi melihat seringaian Rangga.


Rangga lansung mengendong Rania masuk ke kamar mandi, dan menurunkannya tepat di bawah shower.


"Mas aku boleh minta sesuatu?"


"Apa tuh?"


"Bebasih ibu ya? Aku udah maafin dia bagaimanapun selama ini ibu udah rawat aku dan adik-adik aku sampai sebesar ini. Aku juga nggak mau nyimpen dendam sama siapapun, terlebih aku bakal lahiran," pinta Rania.


"Beneran?"


"Iya mas."


"Ntar mas pikir-pikir dulu," gumam Rangga tak ada niatan untuk menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2