Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 78 - Kehangatan di Pagi Hari


__ADS_3

Desa*han di dalam kamar bernuansa ungu warna kesukaan pengantin baru itu mulai terdengar bersahut-sahutan. Peluh membanjiri tubuh keduanya, dinginnya Ac seakan tidak berguna bagi keduanya.


Ini bukan malam pertama atau pertama kali melakukannya, tapi entah kenapa Rangga begitu ketagihan pada tubuh Rania. Perut dan buah dada yang semakin besar membuat Rania terlihat semakin seksi di mata Rangga.


Erangan kenikmatan lolos dari bibir mungil Rania karena permainan Rangga yang begitu mengetarkan jiwa. Tangan yang semula mencekram sprei, kini meremas rambut Rangga penuh sensasi kala laki-laki itu bermain di bawah tubuhnya.


Mulut yang sempat terbuka kembali di bungkam oleh Rangga, hingga desa*han yang keluar dari mulutnya tengelam.


"Manis," bisik Rangga dengan deru nafas yang memabukkan jiwa.


Keduanya terkulai lemas setelah terbang bersama dalam surga kenikmatan dunia.


Rania mengatur napasnya, ia merapatkan kakinya yang terasa pegal karena kalakuan Rangga.


"Cantik banget istri Rangga," gumam Rangga, langsung menarik selimut untuk membalut tubuh polos Rania. Menyembunyikan wajah itu di dada bidangnya.


Sementara yang di peluk masih sibuk mengatur nafas, Rangga seakan ingin membunuhnya pagi-pagi. Tak memberikan kesempatan sedikitpun.


"Ganas banget," lirih Rania membalas pelukan sang suami. Menghirup aroma percintaan mereka.


"Tapi kamu suka. Gimana tadi. Aaaahhhh mas, lebih cepat, lagi Mas," ujar Rangga menirukan suara Rania tadi, jangan lupakan ekpresi meledek laki-laki itu.

__ADS_1


"Ish Apaan sih." Rania langsung mencubit perut Abs yang sangat berotot milik Rangga.


"Auww, sakit sayang, KDRT ini. Kalau nggak mau di laporin, harus ngasih jatah lagi," goda Rangga.


Bugh


"Gemes banget bumilnya Rangga." Laki-laki itu dengan sikap menahan kepalan tangan Rania yang akan memukul dadanya. "Daripada di pukul, mending suaminya di sayang-sayang aja."


***


Jika Rania dan Rangga sedang menikmati pagi yang penuh akan keringat, lain halnya dengan kedua gadis yang sedari tadi sudah bangun. Keduanya juga sudah membersihkan rumah, layaknya rumah sendiri.


Rasa lapar menghampiri keduanya. Namun, pemilik rumah tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Rayna sudah mengecek dapur dan tidak mendapatkan bahan makanan apapun di sana.


Wajar saja, ini rumah baru tanpa pembantu, dan mereka baru sampai semalam.


"Mbak Nia kok tidurnya kelamaan, Lia kan lapar Mbak," rengek Relia duduk di sofa embuk, setelah mengepel sesuai perintah Rayna, anak tengah si garang yang tak ingin dirinya di bantah apalagi hanya Relia.


"Mungkin mbak lagi kecapean," jawab Rayna.


Relia mendengus, beranjak dan berjalan menuju kamar Rania yang kedap suara dari dalam, jika berteriak dari luar mungkin pengantin itu akan dengar, tapi jangan harap bisa mendapat sahutan karena itu tidak akan terdengar.

__ADS_1


Inilah yang membuat Agas dan teman-tamanya kesusahan, karena keinginan Rangga di luar batas wajar.


"Ngapain sih kamu Lia? Ingat mbak udah nikah, di dalam mbak lagi sama suaminya." Cegah Rayna saat Relia hendak mengetuk pintu.


"Tapi Lia lapar."


Rayna langsung menarik tangan adiknya keluar dari rumah sederhana itu. "Mbak masih ada tabungan uang, mending nyari tukang bubur, daripada nunggu mbak."


"Mbak nggak takut kesasar? Nggak malu juga?"


"Ish mbak dari kampung bukan berarti katro Ya. Sekarang tuh dah canggih Lia, lagian kampung kita juga bukan pedalam banget. Kalau kesasar ada Google maps, malu? Malu cuma di lakukan sama orang yang nggak pecaya diri," ujar Rayna.


Rayna bukan gadis yang peduli akan segala hal, omongan orang lain ia anggap sebagai angin lalu, telinganya sudah kebal. Dan ia memutuskan menjalani hidup sesuai yang dia inginkan tanpa mendengarkan komentar orang lain.


Hidup, hidup kita, yang jalanin kita, lalu untuk apa mengikuti keinginan masyarakat jika tidak nyaman dan senang?


...****************...


Asupan Pagi🤭


__ADS_1


__ADS_2