Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 35 - Penyusup


__ADS_3

Sudah jam lima sore, tetapi Rania tak kunjung keluar dari kelas, membuat Agas yang ada di parkiran juga tidak pulang. Ia merasa bersalah pada wanita itu karena membawanya pada teman-temannya.


Siapa saja akan tersingung saat mendengar itu, kesannya Rania di cap sebagai pelakor tapi itu memang adanya. Terlebih akhir-akhir ini wanita itu sedikit sensitif terhadap hal-hal sekecil apapun, mungkin karena sedang hamil.


Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Agas segera mengirim pesan pada Rania.


Agas: Dimana? Kelasnya belum selesai?"


Rania yang sedang duduk termenung di kelas langsung tersadar saat ponselnya bergetar, ia memeriknya dan mendapati pesan dari Agas.


Rania: Masih lama kak.


Agas: Gue tunggu kalau gitu, setelah selesai langsung ke parkiran ya!


Rania: Nggak usah nungguin aku kak, mending kak Agas pulang lebih dulu.


Rania kembali menyimpan ponselnya kemudian menyembunyikan kepalanya di antara lipatan tangan, dirinya lelah pura-pura bahagia. Rumor tentang dirinya mulai terdengar bisik-bisik. Bagaimana jika mereka tahu ia juga sedang hamil.


Merasa hari mulai gelap, Rania segera beranjak, ternyata kampus sudah sepi, hanya beberapa orang saja yang berkeliaran.


Wanita cantik itu tak langsung pulang, melainkan menuju minimarket terdekat untuk belanja sesuatu. Setelah sampai, langkahnya langsung tertuju pada rak-rak susu khusus ibu hamil.


Bagaimanapun keadaanya ia harus memperhatikan janin yang kini tumbuh di perutnya. Setidaknya jika ia tidak bisa bersama Rangga, ada darah daging laki-laki itu di hidupnya.

__ADS_1


Rania sedikit berjinjit untuk mengambil susu ibu hamil rasa coklat.


"Rania? Ngapain lo di sini? Lo hamil? Anak siapa?" tanya seseorang membuat Rania menoleh. Ternyata yang menegurnya adalah Sintia, teman kelasnya.


"Itu ... aku ...."


"Udah di pakai sama siapa aja? Kak Rangga, kak Agas? Atau laki-laki lain? Jadi cewek kok murahan banget," ejek Sintia, setelah itu pergi dari sana.


Rania memejamkan matanya, mencoba menetralisir rasa sakit yang teramat di hatinya. Ia langsung mengambil susu hamil itu dan beberapa cemilan lainnya dan segera menuju kasir.


Sepanjang jalan menuju rumah, Rania merasa aneh akan sesuatu. Apa lagi saat memasuki gang rumah kontrakannya. Sesekali wanita itu menoleh saat merasakan seseorang mengikutinya, tapi saat berbalik tidak ada siapa-siapa.


Rania semakin mempercepat langkahnya, agar sampai di rumah. Ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya, takut ada yang berniat jahat.


***


Tok


Tok


Rania tersentak saat gedoran pintu lumayan keras terdengar padahal sudah jam 2 pagi. Karena penasaran, wanita itu beranjak dan mengintip di jendela.


Kakinya terasa lemas melihat dua orang berpakaian hitam memakai topeng tengah berdiri depan rumahnya.

__ADS_1


Rania kembali ke kamar, dan langsung menguncinya rapat-rapat. Ia mulai ketakutan sendiri, jangan sampai orang itu masuk kerumahnya.


"Buka pintunya!" teriak salah satu laki-laki, membuat Rania semakin takut, ia mengigit bibir bawahnya.


"Bapak, tolong Rania," gumam Rania dengan mata berkaca-kaca.


Brak!


Tubuh Rania semakin bergetar kala dobrakan pintu terdengar, dan mendengar suara langkah semakin dekat ke kamarnya. Tak berapa lama, suara ketukan kembali terdengar, bukan lagi di depan rumah, malainkan di depan kamarnya.


"Saya tau kau ada di dalam, maka keluarlah atau saya akan membukanya dengan paksa!" ancam laki-laki itu.


Rania tidak menjawab, berusaha setenang mungkin agar tidak mengeluarkan suara. Sialnya benda pipih di sampingnya berdering menbuatnya kelabakan sendiri.


Tak memperhatikan, Rania menekan tombol hijau, padahal niatnya untuk mematikan benda pipih itu.


"Rania, lo baik-baik aja? Gue mimpi buru tentang lo," ucap seseorang di seberang telpon.


Brak!


Pintu kamar terbuka, menampilkan dua orang berbadan kekar sangat menakutkan.


"Si-siapa kalian? Kalian mau apa?"

__ADS_1


"Tangkap Dia!"


...****************...


__ADS_2