
Rania, wanita berbadan dua itu tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya sehabis pulang dari sekolah Relia. Rangga seperti orang kesurupan dan bertingkah aneh.
Saat sampai di rumah, laki-laki itu langsung masuk ke kamar, memeriksa setiap sudutnya. Tidak sampai di situ, Rangga juga naik ke tempat tidur seraya melompat-lompat.
Rania hanya bisa menghela nafas panjang melihat itu semua, suaminya seperti bocah kerasukan reong. Ia berjalan mendekat tepat di samping tempat tidur, mengulurkan tangan untuk meraih tangan sang suami.
"Mas ngapain sih? Aneh banget tau nggak. Turun, ntar tempat tidurnya roboh!" perintah Rania dengan suara lembut.
Lompatan Rangga berhenti, menatap sang istri dengan datar. "Justru itu, Mas mau ngetes seberapa kuat tempat tidur ini," jawab Rangga tanpa dosa.
"Buat apa sih? Cuma di pakai tidur nggak bakal roboh Mas."
Pletak
"Auwwww," desis Rania saat Rangga menyentil keningnya. Bagaimana tidak, ia sangat gemas pada istrinya itu. Tidak peka apa yang ia inginkan. "Mas sakit," protes Rania.
"Utu-utu sayangnya Rangga, sini peluk." Laki-laki itu memutuskan duduk di tepi ranjang dan meraih pinggang Rania, mengusap kening sang istri bekas sentilannya. "Kamu dapat beasiswa bukan karena nyogok 'kan?" tuduh Rangga berhasil membuatnya mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Kok ngomong gitu? Mas nggak percaya aku pintar?"
Rangga mengeleng. "Nggak, buktinya sekarang kamu bego, nggak peka." Rangga menyembunyikan kepalanya di antara gunung kembar sang istri. "Padahal keinginan Mas udah di ubun-ubun, kesal jadinya," gumamnya.
"Memangnya mas mau apa?" Mengelus rambut Rangga. "Mau makan?"
__ADS_1
"Iya," sahut Rangga.
"Yaudah lepasin, aku panasin makanan dulu, atau mau yang baru?"
"Makan kamu," jawab Rangga.
"Huh?"
"Makan kamu sayang, kamu nggak tega sama anak kita? Dia dari kemarin udah kangen banget sama papanya."
Tawa Rania pecah, sekarang ia mengerti kenapa Rangga bertingkah aneh seperti ini. Ternyata kebelet. Ia melerai pelukan Rangga, menanggup kedua pipi sang suami.
"Anak kita apa junior Mas yang kangen hm?" goda Rania mengecup bibir tebal Rangga.
"Itu tau,"
Tidak salahkan jika ia mengajak suaminya terlebih dahulu? Karena sedari tadi Rangga hanya mengoda terus.
"Nggak seru, ranjangnya berdecit kalau kita gerak." Manja Rangga.
"Kalau gitu Papa yang sabar ya, setelah pulang, baru jenguk dedek."
***
__ADS_1
Karena panas yang tak tertahankan di dalam kamar, keduanya memutuskan duduk lesehan di ruang tamu beralaskan karpet sedikit tebal.
Rangga sengaja mengeser semua kursi agar keduanya bisa beristirahat dengan tenang. Rangga tidur di panggkuan sang istri, sementara Rania bersandar di tembok yang sudah di lapisi bantal.
"Mas aku mau bicarain sesuatu sama Mas," ujar Rania tiba-tiba padahal Rangga hampir memejamkan mata.
"Kamu butuh sesuatu?"
"Ibu sama bang Jeky ...."
Kalimat Rania harus tepotong karena deringan ponsel Rangga. "Tunggu bentar ya Ran."
Rangga langsung bangun, berjalan ke belakang untuk menerima telpon dari Agas.
"Gimana, semuanya udah beres Gas?"
"Udah, kunci rumah ada si satpam pengaja rumah lo. Susah banget dah nyari rumah yang sesuai keinginan lo. Jauh dikit dari hotel."
"Thanks ya Gas, lo emang sabat gue paling ...."
"Sahabat lo kan emang cume gue," potong Agas.
"Hm, iyadah, sebahagia lo Gas. Tapi sekali lagi terimakasih."
__ADS_1
"Santai, sisa uangnya udah gue Tf lagi, tuh. Nggak nyangka mobil lo tarifnya tinggi padahal udah bekas."
...****************...