Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 55 - Diaryku


__ADS_3

"Tunggu nak." Nenek Nena mencegah kepergian Rangga.


Banyak yang ingin Nena bicarakan pada laki-laki beralis tebal itu, terlebih tentang Rania. Selama tinggal di sini, Rania hanya behagia di depan orang saja tidak jika sedang sendiri.


"Kenapa Nek?" tanya Rangga berusaha terlihat tenang walau hatinya sedang gusar.


Kali ini bukan lagi takut kehilangan, melainkan khawatir akan kondisi Rania. Rangga curiga ini semua hanya akal-akalan Winarti. Wanita seperti Winarti sangat licik, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, mungkin menjual Raniapun wanita paruh baya itu tega.


Bagi Winarti tidak ada yang lebih penting dari uang.


Rangga melangkah mendekat. "Nenek tidak tahu apa masalah kalian, tapi nenek mohon jangan tinggalin Nia lagi ya nak. Nenek tidak tega kalau dia pura-pura pahagia. Setiap malam dia selalu menangis di kamarnya."


Nena tidak berbohon. Ia sering mendengar Rania menangis sesegukan di kamarnya sendiri dan mengumamkan banyak kalimat. Rania takut anaknya lahir tanpa ayah, wanita itu tak ingin saat anaknya lahir akan di gunjing anak haram, dan berbagai ke khawatiran terhadap anaknya.


Rangga lagi-lagi di buat bersalah mendengar cerita Nenek Nena. Ternyata penderitaan yang ia berikan pada Rania sangatlah menyakitkan.


"Boleh saya masuk ke kamarnya Nek?" izin Rangga. Laki-laki itu ingin mencari petunjuk di mana keberadaan Rania sekarang.


"Masuk aja nak."

__ADS_1


Mendapat izin, Rangga langsung saja masuk ke kamar wanita yang sangat ia cintai. Rangga memejamkan mata, aroma khas Rania menguar di ruangan itu yang membuat rindu Rangga sedikit terobati.


Lama Rangga mematung, hingga bergerak kesana kemari mencari alamat Rania, berharap wanita itu menulisnya di buku atau yang lainnya.


Namun, nihil. Rania terlalu rapi untuk ukuran menulis sesuatu di sembarang tempat. Hanya beberapa buku kesehatan di laci paling bawah.


Saat akan pergi, Rangga tak sengaja melihat buku berwarna ungu di atas tempat tidur, ia langsung mengambil dan membukanya.


Diariku


Tak ada yang spesial dari buku diary seorang Rania, diantara puluhan lembaran kosong, hanya satu lembar yang dicoreti tinta yang terlihat sangat indah.


Tapi aku tau itu semua tidak akan terjadi, aku bukanlah apa-apa di mata keluarga kak Rangga. Maaf jika aku menjauhkan kak Rangga dari anak aku. Aku takut mereka mencelai anakku.


Hanya itu isi diary Rania. Namun, mampu membuat manik Rangga berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata.


"Kamu salah Ran, selama ini aku berjuang untuk kebahagian kita. Sekarang aku kembali, kenapa kamu pergi? Apa benar kamu membenciku?"


Rangga mengambil ponselnya, kembali menghubungi Rania. Namun, hasilnya tetap sama ia di blokir.

__ADS_1


Ia beralih pada salah satu kontak, dan mendial icon hijau. Panggilannya tidak di jawab, saat mencoba sekali lagi, no itu sudah tidak bisa di hubungi.


Rangga mengeram kesal, Winarti baru saja memblokirnya. Ini semua mencurigakan bagi Rangga, takut Rania benar-benar di aniyaya ibunya sendiri.


Mencari kontak lain yang bisa di hubungi, pilihannya tertuju pada no telpon Agas. Beberapa panggilan tak terjawab hingga suara di seberang telpon terdengar.


"Lo tau alamat rumah Rania di kampung?" tanya Rangga langsung pada intinya.


"Nggak, ngapain nanya gue? Lo udah ketemu Rania kan?"


"Belum, Rania pergi dari rumah Nenek Nena tadi pagi. Katanya ke kampung."


"Yaudah, tunggu sampai balik aja," santai Agas yang tidak tahu bagaimana sikap ibu Rania yang sebenarnya.


Di pikiran Agas, Rania mungkin jauh akan tenang jika bersama ibunya.


"Goblok!" maki Rangga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2