
Setelah sampai di rumah dan istirahat sebentar, Rania membuatkan suaminya kopi yang sedang duduk di sofa seraya membaca surat kotrak antar kejasamanya dengan Alvi.
Tak ada yang mencurigakan atau sebagainya, malahan dana yang ia ajukan sedikit di tambah.
"Mas di minum kopinya, aku ke kamar dulu." Rania meletakkan secangkir kopi kemudian beralih ke kamar.
Wanita berbadan dua itu membersihkan tempat tidur juga pakaian Rangga yamg tergeletak di sofa. Sudah biasa baginya mendapati baju atau celana Rangga berserakan di kamar. Karena laki-laki itu jika ganti baju seperti orang di kejar, terlalu buru-buru.
"Ya ampun mas ngangetin aja," ujar Rania langsung memegang lengan Rangga yang melingkar di lehernya. Sementara Rangga menyembunyikan wajahnya di pundak sang istri.
"Nyaman banget deh meluk gini yang."
"Manja mode on ya suami aku."
"Cium sayang," rengek Rangga.
"Nggak ada ..."
Bruk
Tubuh Rania terduduk di ranjang karena dorongan Rangga, tubuhnya langsung tertindih walau tidak sakit karena Rangga menyanggah tubuhnya.
"Kopinya udah habis?"
"Udah, pekerjaan mas juga udah selesai. Ngantuk pengen bobo tadi kelonin."
Rania senyum lebar, menguyel-uyel pipi Rangga. Suaminya malam ini sangat bahagia dan juga manja padanya. "Ayo sini sayang, peluk sama aku." Ia mendorong tubuh Rangga kesamping, kemudian memeluknya sangat erat.
__ADS_1
***
Jam tiga pagi, Rangga harus terbangun karena sentuhan seseorang di hidung mencungnya. Ia perlahan-lahan membuka mata dan mendapati Rania sedang mencium hidungnya.
"Kenapa sayang?" tanya Rangga dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mas kok tidurnya kayak kebo? Aku bangun dari tadi, udah di gigit juga hidungnya. Aku kan kesal," gumam Rania yang sudah terbangun jam 2 pagi tadi.
"Ada yang sakit?"
Rania mengeleng. "Aku pengen makan eskrim pisang," gumam Rania.
"Besok ya, nggak baik makan eskrim pagi-pagi gini sayang."
"Aku maunya sekarang mas, pengen banget, aku nggak mau tidur sebelum makan itu," rengek Rania seperti anak kecil.
"Pisang original aja, di tambah lelehan mayones mau? Mas ngasih sekarang juga," tawar Rangga.
Lama Rania berfikir hingga ia mengangguk. "Nggak papa deh yang penting pisang, aku mau makan dua." Ia menaikkan dua jarinya seperti anak kecil.
Rangga menyeringai, membimbing tangan Rania agar memasuki selimut di mana pisang original yang ia maksud berada. Padahal Rania tidak bercanda ingin makan Pisang sesungguhnya.
"Pisangnya masih tidur, bangunin dulu sayang," bisik Rangga.
"Mas!" bentak Rania langsung menarik tangannya. "Kenapa sih mesum mulu pikiraanya? Aku kan pengen pisang," lirih Rania dengan mata berkaca-kaca siap menangis.
Rangga langsung gelagapan sendiri, ia mengira Rania tidak akan semarah ini padanya. "Eh, maaf sayang. Udah jangan nangis, mas nyari sekarang, mau es krim kan?" tanya Rangga di jawab anggukan oleh Rania.
__ADS_1
Nyawa laki-laki itu langsung terkumpul setelah mendapat bentakan dari sang istri, buru-buru turun dari tempat tidur. Mengambil hodie dan kunci mobil.
"Mas, celananya!"
"Ah iya mas lupa." Rangga kembali ke lemari mengambil celana pendek. Karena terburu-buru ia sampai lupa memakainya.
"Tunggu di sini, mas cariin dulu. Cuma es krim kan? Yang lain?"
"Itu aja, jangan lama-lama," ujar Rania memejamkan mata saat Rangga mengecup keningnya.
Sebenarnya ia kasian pada Rangga, tapi ia juga sangat mengiginkan Es krim.
***
Rangga kembali menenteng kresek setelah keliling cukup jauh mencari indoapril yang buka 24 jam. Ia menghembuskan nafas kasar saat membuka pintu dan mendapati Rania sudah tidur.
"Untung sayang dan lagi hamil," gumam Rangga mengacak-acak rambutnya. Percayalah di bangunkan tengah malam sangat menyebalkan tapi demi sang istri apapun akan ia lakukan.
Rangga berjalan ke dapur untuk menyimpan es krim yang ia beli di frezer, takut mencair dan Rania ngambek pagi-pagi.
Ia kembali tidur di samping sang istri, mengigit pipi cubi itu gemes, kemudian beralih pada perut bunci Rania. "Mulai berani ngerjain Papa, hm?"
"Eug, mas," gumam Rania.
...****************...
Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banyaknya dan ramaikan kolom komentar
__ADS_1