
Dengan wajah yang masam dan pandangan mata yang mengisyaratkan rasa marah, Zyan tidak henti - hentinya bergumam dalam hatinya. Sudah hampir setengah jam Ia menunggu Yuna, namun sampai sekarang Yuna belum menunjukkan batang hidungnya. Amarah Zyan semakin membara dikala anak - anaknya mulai bertingkah di dalam mobil.
" Diam! Kalian bisa diam nggak sih! "
Kedua anaknya langsung terdiam sambil menatap dengan tatapan takut kepada Papanya.
" Papa kenapa marah - marah sih! " Tanya Kayana. Si kecil yang masih imut dalam balutan dress lucu yang Ia pakai.
" Papa nggak marah sayang, Papa hanya kesal saja karena dari tadi Bunda nggak keluar - keluar"
" Papa! Jio laper? "
" Kamu ada - ada saja sih. Papa lagi kesel bisa - bisanya mikirin perut! "
" Papa kok marah - marah sama Kak Jio, kan kak Jio cuma bilang laper. Lagian Kayana juga laper Pa. Dari tadi Kayana sama Kak Jio belum makan "
" Yaudah, sekarang kita masuk ke dalam cari makanan ya. Kamu jio! Sekarang juga kamu hubungi Bunda kamu, suruh buruan ke mobil sekarang! "
" Iya Pa "
Dari dulu memang Zyan memperlakukan Jio berbeda dengan Kayana. Itu mungkin karena Jio adalah anak tirinya. Tapi meskipun begitu, Jio tidak pernah membenci Papa tirinya. Jio tetap menyayangi Papa tirinya seperti yang Bundanya ajarkan selama ini.
Jari kecilnya mulai bekerja mencari nomor Bundanya dan menelfon bundanya sesuai dengan perintah Papanya. Setelah selesai, wajah kecilnya Ia sandarkan pada jendela mobil. Ia melihat kebahagiaan keluarga lain yang Ia lihat di luar mobil.
" Jio kangen Ayah. Jio mau ketemu Ayah "
air matanya menetes. Mengingat kebahagiaannya dulu ketika Ia bersama dengan Ayahnya. Andai waktu itu bisa terulang kembali, Jio sangat ingin memeluk ayahnya. Hati seorang anak kecil masihlah sangat suci, Ia bisa merasakan siapa yang benar-benar menyanyanginya.
" Duh, sepertinya Aku harus kembali ke mobil Zyv" Ucap Yuna kepada Zyva.
" Oh, yaudah. Sekalian saja kita kenalan dengan suami mbak Yuna? "
" Jangan sekarang ya? Sepertinya suami saya harus buru - buru ke kantor. Ya bukan gimana - gimana sih, tapi dia orangnya emosian. Ini saja dia marah - marah karena saya belanjanya terlalu lama "
" Oh gitu ya, yaudah nanti kita bisa kenalan di lain waktu ya mbak? "
" Iya sorry ya Zyv? "
" Iya nggak apa - apa "
Melihat Yuna yang seperti ketakutan dengan sikap suaminya, membuat Zyva merasa takut juga jika Ia menikah dengan Zyan. Apakah Zyan akan bersikap seperti itu kepadanya?
" Ayo kita makan Zyv? "
" Ayo "
__ADS_1
" Kamu kenapa? "
" Ya enggak sih, kasihan saja melihat mbak Yuna. Sepertinya suaminya galak kepadanya. Padahal mbak Yuna itu wanita yang baik lho? "
" Ya begitulah manusia Zyv. Mereka itu tidak pernah merasa puas. Sudah mendapatkan istri baik tapi tidak diperlakukan dengan baik. Makanya kamu hati - hati dalam memilih laki-laki "
" Kenapa jadi Aku? "
" Ya Aku hanya memberi saran sama kamu "
" Apa sih, sok dewasa "ucap Zyva sambil memukul manja tangan dari Alvin.
Zyan yang tengah memesan makanan bungkus untuk anaknya tidak sengaja melihat Zyva dan Alvin yang sedang bercanda. Mereka terlihat sangat dekat sekali bak sepasang kekasih yang sedang berkencan. Hal itu membuat Zyan tebakar cemburu. Ia mengepalkan tangannya seperti ingin memukul laki - laki yang mendekati kekasihnya itu.
" Siapa laki-laki itu, berani - beraninya dia mendekati Zyva " Ucap Zyan dalam hati.
" Papa, itu kakak cantik "
Kayana, menunjuk ke arah Zyva yang sedang makan dengan Alvin.
" Iya sayang, itu kakaknya cantik ya? "
" Bukan Papa. Itu kakak cantik, kakak cantik Kayana. Kayana mau ketemu kakak cantik Pa? " Rengek Kayana yang berada dalam gendongan Papanya.
" Jangan sayang. Lain kali ya? "
" Kenapa Zyv? "
" Enggak. Tadi Aku seperti mendengar suara tangisan Kayana, anak dari mbak Yuna "
" Oh, ya mungkin saja mereka di sekitar sini "
" Vin, kamu penasaran nggak sih sama suami dari mbak Yuna. Aku penasaran deh, seperti apa ya suaminya, kok bisa segalak itu sama mbak Yuna "
" Penasaran juga sih. Tapi nggak baik ngomongin orang, nanti kalau orangnya nongol bisa habis kamu sama suami mbak Yuna "
" Benar juga sih "
Sebuah mobil terparkir di sudut parkiran yang ada di restoran ternama. Seorang wanita cantik yang memakai dress dan bertubuh sexy berjalan menuju mobil itu. Walau sudah memiliki dua anak, penampilan Yuna tidak kalah dengan anak ABG. Ia masih terlihat muda dan cantik. Ia masuk ke dalam mobilnya dan mendapati anak laki-lakinya menangis di dalam mobil.
" Jio, kamu kenapa nak, kok menangis? "
Anak kecil itu berusaha menghapus air matanya dan berusaha menyimpan kesedihannya dari bundanya. Ia tidak mau jika Papa dan Bundanya bertengkar lagi karena dirinya.
" Jio nggak apa - apa Bunda. Jio cuma kangen saja sama ayah "
__ADS_1
" Jio yakin, hanya kangen saja sama Ayah, tidak ada yang lain? "
" Iya Bunda "
" Oh iya, Papa sama dedek Kayana kemana? "
" Papa sama dedek Kayana sedang cari makan di dalam sana, soalnya dedek Kayana lapar Bun "
" Kamu nggak diajak, kamu kan juga belum makan sayang? "
" Jio belum lapar Bunda "
Sebagai seorang Ibu, Yuna tahu kalau anaknya sedang berbohong. Ia pasti sedang menjaga hati bundanya. Ia mengeluarkan biskuit dari barang belanjaannya dan memberikannya untuk Jio.
" Oh iya, Bunda tadi ada beli biskuit. Jio mau nggak? " Sambil menunjukkan biskuit favorit Jio.
" Mau Bun. Kebetulan Jio laper "
" Tadi bilangnya nggak laper ? "
" Laper dikit Bunda "
Sesaat setelah itu Zyan bersama Kayana datang dengan membawa makanan. Zyan masuk ke dalam mobil, namun sedihnya hanya Kirana yang dibelikan makanan. Sementara Jio hanya diam dan menikmati biskuit dari Bundanya. Melihat itu Yuna hanya diam, Ia mencoba menahan emosinya di depan anak - anak hingga mereka semua tiba sampai rumah.
" Kalian semua bersih - bersih ya, habis itu baru boleh main "
" Iya Bunda "
Setelah selesai mengurus anaknya, Yuna menghampiri suaminya yang ada di kamar. Ia seperti tidak tahan menyimpan amarahnya. Dengan keberaniannya, Ia mencoba berbicara dengan suaminya.
" Maksud kamu apa Mas? "
" Kamu ngapain sih. Datang - datang marah - marah nggak jelas "
" Marah - marah nggak jelas kamu bilang mas! Kenapa kamu memperlakukan anak kita dengan cara berbeda. Mas, mereka masih kecil. Mereka belum tau apa - apa tentang ini semua "
" Anak kita kamu bilang ? Jio bukan anak saya. Sudah untung saya masih mau menerima dia di rumah ini. Dengar kamu! "
" Kamu menikahiku, itu berarti Jio juga anak kamu mas. Kasihan Jio diperlakukan seperti ini! "
" Aku tidak menikahimu. Orang tuaku yang menikahkan kita. Dan Kirana, Kirana adalah anak yang terlahir karena keterpaksaan. Kalau bukan karena mamaku yang menaruh obat di minumanku, tidak akan ada Kirana "
" Jadi kamu juga menyesal dengan hadirnya Kirana? "
" Iya. Karena semua ini, Aku tidak bisa memiliki wanita yang Aku cintai "
__ADS_1
" Jahat kamu mas. Anak sekecil Jio dan Kirana tidak pantas kamu lakukan seperti ini. Aku bisa pastikan kamu akan menyesal karena sudah mensia-siakan mereka Mas "
" BRRUAAK! "