
Kedatangan Agas yang tiba-tiba di rumah Rania, membuat wanita itu sedikit terkejut, terlebih Rangga sedang tidak ada di rumah.
Entah dengan tujuan apa Agas berkunjung kerumahnya siang-siang seperti ini. Rania mempersilahkan Agas masuk terlebih dahulu, karena di dalam rumah ada Rayna jadi tidak masalah.
"Duduk dulu kak," ujar Rania mempersilahkan dan di jawab anggukan oleh laki-laki manis dan tampan itu.
"Ina, buatin ...."Rania melirik Agas.
"Yang dingin-dingin aja kalau ada," potong Agas tanpa rasa cangung atau malu sedikitpun, padahal wanita di hadapannya sedikit canggung ketika mengingat apa yang di katakan Agas saat di kampung dulu.
"Maaf ya nggak sempat jenguk hari itu, bertepatan soalnya sama wisuda gue." Agas memulai pembicaraan.
"Nggak papa kak, oh iya sekarang kerja apa?"
"Nyolong kayaknya seru deh Ran."
Rania sontak tertawa karena jawaban Agas, sungguh selera humornya sangat receh.
"Di minum bang." Rayna meletakkan segelas air dingin berwarna untuk Agas kemudian ikut duduk di samping Rania dengan Rayyan di gendongannya.
"Rangga mana?"
__ADS_1
"Oh, mas Rangga lagi keluar bentar, beli pempers buat Rayyan," jawab Rania.
Agas hanya menganguk-anggukan kepalanya paham. Tujuan laki-laki itu ke ibu kota adalah untuk menemui Rangga sesuai perintah laki-laki itu sendiri.
Setelah wisuda ia menjadi penganguran tanpa arah, itulah mengapa Rangga menawarkan pekerjaan untuknya. Menjadi tangan kanan sahabatnya, untuk mengurus hotel yang sedang berkembang pesat, sementara Rangga akan menguru Fan Group yang hampir gulung tikar karena semua investor menarik bahkan membatalkan kerjasama secara terang-terangan.
"Udah sampai lo?"
"Nggak, ini masih di jalan," jawab Agas.
Bisa-bisanya Rangga bertanya hal konyol padahal jelas-jelas Agas sudah duduk anteng di rumahnya.
"Ya kali kan arwah lo sampai duluan," gumam Rangga menghampiri Rania dan menyerahkan belanjaan yang ia bawa.
"Gimana bro? Bibit unggul kan? Iyalah, secara gue tampannya nggak manusia," narisis Rangga. "Kapan nyusul, biar anak gue ada temannya, di jodohin sabilah."
Rayna menahan tawa mendengar selorohan kakak iparnya, ini pertama kalinya ia melihat Rangga berbicara panjang lebar. Biasanya Rangga hanya bicara seperlunya saja jika di rumah, tidak tahu saat di kamar bersama Rania.
Merasa canggung, Rayna memutuskan ke kamar, lagi pula tidak ada kerjaan lagi di rumah.
"Baru juga mau kerja udah nyuruh nyusul aja. Nantilah, nunggu gue sukses dulu, cewek mah belakangan, banyak yang antri. Soal Anu, gampang asal ada uang." Agas menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Tobat bro, tobat."
"Iyadah yang udah tobat, nanti gue tobat kalau dah nemu yang pas juga."
"Mau jadi adek ipar gue nggak?" Rangga mengedipkan sebelah matanya.
"Bicarain apa sih? Kok seru banget."
Pembicaraan keduanya harus berhenti karena kehadiran Rania. Sudah cukup membahas dunia luar, atau ia akan mendapat omelan bertubi-tubi.
"Ini mas mau nawarin Agas, kerja di hotel daripada ngangur kan."
"Oh, bagus dong ada yang bantuin mas."
"Ga, lo nggak takut gitu gue bawa lari semua uang lo. Secara gue yang bakal handel sepenuhnya, ya walau dalam pengawasan Lingga tetap aja. Kita cuma orang asing nih. Mungkin aja gue punya dendam yang belum tuntas, dan bakal balas dengan cara ngancurin usaha yang udah lo bangun susah payah?"
"Pecaya aja dulu, terjadi atau nggaknya urusan belakangan. Lagian kalau emang benar udah lama lo ngancurin gue. Nggak ada yang lebih hancur selain lo ngambil orang yang gue sayang."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1