
Rania bangun sangat pagi hanya untuk menyiapkan sarapan untuk ibu dan adik-adiknya. Kebetulan ada nasi sisa dan beberapa sayuran juga telur yang bisa ia jadikan bahan membuat nasi goreng.
Untuk ngidam aneh-aneh seperti benci aroma bawang dan bahan-bahan dapur lainnya, Rania tidak mengalami itu, mungkin sang pencipta tahu bahwa hidupnya sudah sangat susah saat ini.
Rumah sederhana yang dulunya penuh akan tawa kini sepi seperti tak berpenghuni padahal masih ada ibu dan adik-adiknya.
Sejak sepeninggalan sang bapak, ibunya berubah menjadi wanita yang haus akan uang, melimpahkan semua hutang bapak padanya. Rania di suruh membayar semua hutang dengan dalih hutang itu ada karena dirinya. Bapak terlalu memanjakannya.
Rania tersenyum senang, setelah nasi goreng ala kadarnya sudah selesai. Wanita berbadan dua itu segera membangungkan adik-adiknya teruma Relia yang harus ke sekolah.
"Lia ayo bangun dek, ntar kamu telat kesekolah." Rania menguncang tubuh Relia sedikit keras. Kebiasaan Relia ternyata tidak pernah berubah, susah di bangungkan saat pagi hari.
"Bentar lagi mbak Ina, Lia masih ngantuk," gumam Relia membuat Rania tertawa kecil.
"Hey, ini mbak Nia, bukan Ina," ujarnya dengan lembut.
Tidak ada yang tahu semalam Rania tidur di ruang tamu beralaskan tikar tipis, karena di kamar sedikit gerah juga tak ingin kedua adik-adiknya tidur dengan sesak.
Rania memeganggi perutnya yang terasa melilit, ia tak melanjutkan membangunkan Relia, berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Wanita itu berjongkok di kloset.
__ADS_1
Huek ... huek ... huek
Suara mual Rania sampai terdengar ke kamar ibunya, wanita paruh baya itu segera bangun dan menuju sumber suara, terlebih Winarti kebelet pipis.
"Siapa yang munta pagi-pagi?" gumamnya.
Berbarengan dengan datangnya Winarti di depan kamar mandi, Rayna juga Relia sudah ada di sana.
"Mbak Rania baik-baik aja?" tanya Rayna khawatir, apa lagi melihat wajah pucat sang kakak.
Berbeda dengan Winarti yang menatap penuh selidik pada Rania. Tapi tidak mungkin, Rania bukan perempuan nakal, pikir Wanita itu.
"Hua akhirnya Lia bisa makan masakan lezat mbak Rania lagi," seru Relia langsung menuju meja makan.
"Makasih mbak," sahut Rayna ikut menyusul Relia.
"Ayo bu!" ajak Rania sekali lagi meraih tangan ibunya. Namun, wanita itu malah menarik tangan Rania masuk ke kamar.
Winarti menatap Rania penuh selidik. Menarik cardigang yang menutupi lekuk tubuh putrinya itu, tak lupa menganggat baju kaos Rania sampai dada dengan paksa.
__ADS_1
"Bu!" tegur Rania.
"Kamu hamil!" tanya Winarti dengan nada membentak, sembari memperhatikan perut Rania yang sedikit membuncit.
Bagaimana tidak membuncit, perut Rania sudah jalan 3 bulan, sangat di untungkan pertumbuhan perutnya lambat, dimana saat ia memakai cardigan atau hodie, tidak akan terlihat seperti hamil. Namun, pertumbuhan bayinya baik-baik saja dan normal.
"Ng-nggak, Rania nggak hamil bu, bagaimana Rania bisa hamil ...."
Plak
Tamparan mendarat di wajah mulus Rania, membuat pipi mulus itu terasa kebas.
"Bu?" Rania memeganggi pipinya.
"Buktikan sama ibu kalau kamu beneran tidak hamil, tunggu di sini, ibu bakal beli tespek buat kamu!" ujar Winarti tajam.
Rania jatuh terduduk di lantai yang tak beralaskan apapun, ia menangis, ia takut ibunya akan kecewa. Tanpa wanita itu sadari, di ambang pintu, Winarti tersenyum licik, seperti merencanakan sesuatu.
...****************...
__ADS_1