
Semuanya sudah terungkap, siapa dalang di balik Rem blong juga penguntit Rania yang sebenarnya. Namun, Rangga belum ingin menuntut orang itu. Ia masih mencari kasus lain untuk memberatkan tuduhan.
Laki-laki itu ingin, orang yang telah menganggu istrinya harus mendekam di penjara minimal 10 tahun, kalau perlu seumur hidupnya.
"Benarkan apa kata gue? Mantan istri lo pelakunya," kesal Agas di seberang telpon.
Laki-laki itu sudah menyelidiki semuanya bersama teman-teman nakalnya, dan semua bukti mengarah pada Melisha, teruma tetang rem blong itu. Penjahat yang telah lepas dari kantor polisi, berhasil Agas tangkap dan mengurungnya di sebuah gudang.
Menyiksa pelaku itu hingga mengakui siapa yang menyuruhnya dan siapa yang membebaskan dirinya dari penjara.
"Gue udah kirim remakan pengakuan orang itu. Tentang Teror gue itu yakin si Melisha juga, tapi buktinya nggak terlalu menguntungkan karena nggak mengarah langsung ke dia. Dia pakai ponsel dan no sekali pakai. Yang harus lo lakuin, temuin ponsel itu!"
Rangga memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Kenapa masalahnya semakin melebar dan tak ada ujungnya? Ia baru tahu bawah Melisha seclicik itu hingga rela melakukan hal kotor demi melukai dirinya dan Rangga.
"Makasih Gas, nanti gue telpon lagi," ujar Rangga mengakhiri panggilan.
Rangga segera membuka room chatnya dengan Agas, ingin tahu isi remakan yang di kirimkan laki-laki itu barusan.
"Lepasin saya! Saya hanya di suruh dan di bayar untuk melakulan semuanya! Saya di tugaskan untuk membumuh wanita hamil bernama Rania. Memastikan dia mati sebelum melahirkan anaknya!"
"Siapa yang nyuruh kamu?"
__ADS_1
"Nona Melisha, aaakkkkhhhh. Tolong lepasin saya!"
Tangan Rangga terkepal, tubuhnya bergetar hebar menahan amarah. Sebenarnya apa motif Melisha ingin membunuh Rania? Bunkah masalah mereka sudah selesai. Tinggal menunggu surat cerai dari pengadilan dan semua warisan akan di bagi dan di pindah tangankan masing-masing.
Kalau saja tidak ada rencana ingin menjebloskan Melisha ke penjara, Rangga sudah menemui wanita iblis itu untuk ia siksa hingga puas, sayangnya ia tidak bisa. Rangga masih waras untuk tidak membocorkan rencanya, pura-pura bodoh agar Melisha semakin menjadi dan salah langkah.
Amarah dalam diri Rangga hilang menguap begitu saja saat merasakan tangan mungil memeluknya dari belakang.
"Mas ngapain di sini?" tanya Rania lembut. Wanita itu baru saja bangun dari tidur siangnya, dan melihat Rangga berdiri menghadap jendela.
Rangga berbalik, lalu mengecum bibir sang istri. "Lagi mikirin nanti ketemu dedek pakai gaya apa," seloroh Rangga.
"Iisssh otaknya selangk*angan mulu," gerutu Rania.
Mengejak wanita itu karena tak bisa memeluknya seerat dulu lagi karena perut besar yang menghalangi.
"Yaudah, mas kan bisa gantian meluk aku dari belakan."
"Mau di peluk Yang?"
"Taulah, terserah mas," jawab Rania kembali berjalan menuju brangkar hendak berbaring lagi. Namun, tubuhnya keburu di peluk dari belakang, tak lupa kecupan di leher ia dapatkan.
__ADS_1
"Gini, hm?"
"Iya, aku kangen sama mas."
"Mas lebih kangen sama kalian."
"Mas Rangga, tadi bicara sama siapa? Kok kayak serius banget?" tanya Rania.
"Oh tadi mas telponan sama Agas bahas sesuatu."
Rania sontak berbalik menghadap Rangga. "Ka-kak Agas?" ulang Rania.
"Iya, kenapa? Kok kayak gugup gitu?"
"Oh nggak papa, cu-cuma ...."
"Cuma?"
"Nggak ada." Rania buru-buru menghindari tatapan penuh selidik Rangga. Wanita itu baru teringat akan pengakuan Agas di kampung dulu, dan ia takut Rangga mengetahuinya dan marah.
...****************...
__ADS_1
Tebar bunga sebanyak-banyaknya jangan lupa💃💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹