
Karena kondisi Rania sudah membaik, akhirnya dia di perbolehkan pulang oleh dokter dengan syarat wanita itu tidak boleh melamun lama-lama yang bisa mengakibatkan otaknya berpikir hal-hal aneh yang akan memicu cemas berlebihan.
Rangga menawarkan diri untuk mengendong sang istri. Namun, Rania menolak dan hanya bergelayut manja di lengan sang suami.
Keduanya sampai di rumah di saat adik-adiknya sudah berangkat ke sekolah masing-masing. Kedua gadis belia itu sangat khawatir saat Rania di larikan kerumah sakit. Ngotot ingin menginap menemani sang kakak, tapi Rangga lebih ngotot menyuruh mereka pulang karena harus sekolah dan belajar.
"Mas mau makan apa?" tanya Rania, tanpa istirahat langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk sang suami.
Sudah lama keduanya tidak makan berdua.
"Pesan aja Ran, kamu baru pulang. Istirahat gih!" sahut Rangga yang duduk di sofa ruang tamu seraya menyalakan Tv sebagai pengalihan fokus.
Aturan untuk keduanya dari dulu tidak pernah berubah. Jika sedang berdua saja dan tidak ada hal yang sangat penting, mereka tidak boleh pegang ponsel demi menghargai satu sama lain.
"Aku nggak papa kok Mas. Ayo buruan mau makan apa!" desak Rania.
"Terserah kamu aja kalau gitu."
"Kok terserah, mas, kayak cewek aja deh."
Rangga menghembuskan nafas panjang. Apa hanya perempuan yang bisa mengucapkan kata 'Terserah' ?
"Ayam kukus lemon sama Kangkung tumis aja kalau gitu."
"Siap suamiku."
***
Aroma masakan yang begitu mengugah selera membuat Rangga tidak tahan duduk di sofa depan Tv. Laki-laki itu segera menyusul Rania yang ternyata sibuk menata makanan di atas meja, padahal mereka akan makan berdua saja
__ADS_1
Cup
Rangga mengecup pipi Rania dari samping, tentu saja dengan tangan melingkar di pinggang.
Rania berbalik dengan senyuman. "Ayo makan mas, keburu dingin."
"Minta suap sama istri boleh nggak sih?"
"Nggak boleh," jawab Rania menyerahkan piring berisi nasi pada Rangga.
"Yah selera makan mas hilang tiba-tiba." Rangga memasang raut wajah yang sangat menyedihkan demi mendapat simpati dari Rania.
Bukannya mendapat simpati, wanita itu malah fokus memakan makanannya sendiri tanpa memperdulikan Rangga sedikitpun.
"Sayang?" rengek Rangga.
"Suapin!"
Rania memutar bola mata jengah, harusnya yang bersikap manja adalah dirinya karena baru keluar dari rumah sakit, ini malah suaminya yang ingin di manja dengan dalih sudah lama tidak ketemu.
Akhirnya Rania menyuapi sang suami, satu sendok untuk dirinya dan satu sendok untuk Rangga.
Selesai makan, Rangga mengajak Rania duduk di sofa depan Tv, ia masih penasaran tentang respon Rania saat ia menyebut nama Agas kemarin.
Rangga melirik Rania yang kini sibuk memakan ciki di sampingnya. Ah wanita itu terlihat mengemaskan jika sedang makan, seperti anak kecil yang minta di karungin.
"Eh." Rania tekejut saat tubuhnya tiba-tiba di tarik begitu saja hingga berada dalam pelukan Rangga.
"Perut udah kenyang, udah dingin-dingin juga. Sekarang, kamu nggak mau ngomong sama mas tentang Agas yang buat kamu gugup, hm?"
__ADS_1
Rania terdiam, tidak menyangka Rangga masih mengingat itu, padahal ia sudah lega tadi.
"Kecewa seseorang lebih besar saat tau kebenaran dari orang lain, di banding tau dari orang yang bersangkutan langsung."
Rania mendongak, kini ekspresi yang di tunjukkan Rangga sangat serius.
"Rania."
"Kalau aku cerita, mas jangan marah!" pinta Rania, mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji?"
"Nggak janji, tergantung cerita kamu dulu," jawab Rangga.
Percalah, Rangga orangnya cemburuan dan ia tidak bisa janji kalau saja Rania bercerita yang bisa memanacing api cemburu dalam dirinya.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama kak Agas."
Alis Rangga bertaut. "Yang nuduh kamu siapa?"
"Ng-nggak ada, aku cuma mau perjelas, takut mas marah. Saat di kampung, kak Agas ngungkapin perasaanya sama aku malam sebelum dia pulang, cuma itu. Aku nggak cerita sama mas, karena takut mas bakal marah sama kak Agas. Tapi sumpah demi apapun, aku nggak nerima atau ngasih kesempatan sama dia mas. Aku cuma cinta sama mas Rangga. Jangan marah!" Rania mendongak untuk memastikan ekspresi Rangga.
Tangan wanita itu terulur untuk mengelus rahang tegas sang suami.
"Nggak ada suami yang nggak marah kalau tau ada seorang laki-laki yang ngungkapin perasaan sama istrinya Ran," ujar Rangga dengan suara datarnya.
...****************...
Tekan Vote, tebar bunga sebanyak-banyaknya dan jangan lupa like, ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น
__ADS_1