Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 155


__ADS_3

7 tahun Kemudian.


Waktu begitu cepat berlalu, Rangga berhasil mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Tapi bukan menjadi dokter Abgyn melainkan menjadi dokter bedah.


Alasannya merubah spesialis, sangatlah sederhana, tak bisa membayangkan jika istrinya di bantu melahirkan oleh pria lain. Itulah mengapa Rangga mundur menjadi dokter Obgyn dan lebih memilih dokter bedah.


Pendididikan yang di tempuhnya tidak lah mudah. Tetapi ada seorang wanita yang selalu memberinya semangat di kala lelah. Dia adalah Rania, wanita yang tak pernah mengeluh tentang dirinya.


Selalu mengalah, jika sikap egoisnya kadang-kadang kumat.


Senyuman Rangga mengembang ketika melihat sang istri juga putranya berjalan mendekat membawa buket mawar putih.


"Selamat Sayang atas gelarnya." Rania langsung mengecup pipi sang suami setelah Rangga turun dari panggung.


Rangga baru saja wisuda untuk gelar spesialisnya.


"Selamat Papa, Rayyan bangga sama papa." Anak laki-laki berusia 7 tahun langsung memeluk Rangga sangat erat.


Tak ada rasa bahagia, melebihi rasa bahagia yang diterima Rangga hari ini. Laki-laki itu memeluk erat istri dan putranya.


Terharu, pasti. Apa yang ia cita-citakan terpacai bersama keluarga kecilnya. Bahkan beberapa bulan lagi anak kedua mereka akan lahir kedunia.


***


"Sayang, kamu dimana?" Teriak Rangga yang baru saja sampai di Mansion.


Kini Rangga tak lagi berkerja di perusahaan. Semua urusan perusahaan ia serahkan pada Lingga dan Agas. Kedua pria itu sangat di percaya oleh Rangga.


"Di kamar mandi mas," sahut Rania.


Mengetahui keberadaan sang istri, Rangga langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Tubuhnya terasa lemas, ia baru saja melakukan operasi bedah pertamanya.


Sebuah kecupan mesra mendarat di bibi Rangga. Ia membuka matanya dan mendapati sang istri menunduk hanya menggunakan handuk.


Brugh


Tubuh Rania terhuyung jatuh tepat di atas tubuh Rangga.

__ADS_1


"Mas aku mau pakai baju dulu." Rania memberontak, ini masih pagi bahkan semua orang belum bangun.


"Mas lelah dan ngantuk," gumam Rangga menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri yang wangi.


Pergi jam 10 malam dan baru kembali subuh-subuh buta siapa yang tidak mengantuk? Tapi apalah daya, resiko seorang dokter harus kehilangan jam tidurnya di waktu-waktu darurat.


Rania tak lagi memberontak, mengelus rambut Rangga hingga laki-laki itu terlelap tanpa drama apapun, pertanda Rangga benar-benar sangat lelah.


Setelah Rangga terlelap, barulah Rania memakai pakai lengkap. Menemui Rayyan di kamar sebelah.


"Sayang, anak Mama ayo bangun udah jam 8," ucap Rania lembut seraya mengecup pipi putranya.


Mata emerald Rayyan langsung terbuka. Jam delapan? Yang benar saja. Laki-laki itu langsung bangun tanpa memperdulikan Mamanya. Mandi dan langsung bersiap-siap.


Tubuh Rayyan terduduk lemas di kursi belajar setelah memeriksa jam weker di atas meja.


"Mama kok bohongin Abang? Baru jam tujuh juga," gerutu Rayyan.


Rania cekikikan, menghampiri Rayyan dan kembali mengecup pipinya.


"Anak cowok nggak boleh tidur sampai siang."


"Anak Mama udah tampan, ayo sarapan dulu."


"Papa?"


"Papa masih tidur nak."


"Tuh kan anak cowok nggak boleh tidur sampai siang, tapi Papa masih tidur," gerutu Rayyan mendudukkan diri di meja makan.


Melahap sarapan yang telah di buat Rania, anak laki-laki usia 7 tahun itu makan seorang diri karena Rania menghilang lagi entah kemana.


"Panggeran Papa udah rapi." Rangga ikut duduk di meja makan.


Rania baru saja membangungkan laki-laki itu setidaknya memperlihatkan pada Rayyan bahwa suaminya juga bangun pagi.


"Setelah sarapan, mas lanjut tidur aja biar Rayyan berangkat sama aku."

__ADS_1


"Biar mas aja, udah cukup tidurnya tadi."


Rania mengangguk mengerti, ikut kedepan mengantar suami dan putranya.


"Salim dulu sama Mama." Perintah Rangga.


Rayyan mencium tangan Rania tak lupa memeluk perut buncit wanita itu.


"Dedek jaga Mama ya, abang sekolah dulu."


"Sayang banget ya sama dedeknya?" tanya Rania.


"Iya Mama, Abang sayang sama dedek, apa lagi kalau cewek."


"Kalau cowok gimana?" tanya Rangga seraya mengecup kening Rania.


"Nggak masalah. Kata Papa, mau cewek atau cowok abang harus sayang sama dia."


Rania melambaikan tangannya sebagai pengantar kepergian sang suami.


Hidup Rania kini jauh lebih bahagia. Tak ada lagi yang berani mengusik hidupnya. Winarti, wanita itu sudah keluar dari penjara, sempat membuat gaduh karena ingin mengambil Rayna dan Relia, namun, Rangga tak memyerahkan adik iparnya itu. Bahkan ingin menempuh jalur hukum.


Alhasil, Winarti kembali ke desa dan tak pernah menganggu kehidupan Rania lagi. Melisha, Wanita itu tidak lagi ada di penjara, melainkan di rumah sakit jiwa sejak kejadian 7 tahun lalu saat Melisha hampir di perkosa oleh orang suruhannya sendiri.


Penderitaan Rania telah berakhir, kisah yang diawali dengan kesedihan dan penuh air mata. Kesabaran yang selalu di tanamkan dalam hati kini berbuah manis. Semuanya berakhir bahagia.


...****************...


...ENDING...


Terimakasih atas support kalian selama ini. Tanpa kalian dedek bukanlah apa-apa😘.


Berkat dukungan kalian, dedek bisa menyelaikan kisah ini.


Mohon maaf jika cerita dan ending tidak memuaskan bagi kalian, dedek sudah berusaha melakukan yang terbaik.


See you readers tersayangnya Dedek, nantikan cerita dedek selanjutnya🙏😘

__ADS_1


Love-love sekebun bunga buat kalian Semua🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2