Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 65 - Mengulur Waktu


__ADS_3

Hari H yang tak pernah di tunggu-tunggu oleh Rania akhirnya datang juga. Wanita berbadan dua itu kini berada di kamar bersama MUA. Ia di hias secantik mungkin layaknya pengantin pada umumnya.


MUA sedikit kesal dan kewalahan, karena wanita yang ia dandani tak henti-hentinya meneteskan air mata, hingga fondation dan beberapa bedak kembali terhapus dan tidak merata.


"Maaf mbak, tapi bisa jangan nangis dulu! Ini kapan selesainya, acara hampir di mulai." Omel MUA.


"Maaf mbak," lirih Rania berusaha menahan air matanya saat MUA selesai menghapus bulir-bulir bening di pipinya dengan tisu.


Jika Rania di dalam kamar terlalu lama karena make up, maka kedua gadis cantik yang selesai dengan dandanannya tengah berjalan gelisah di balkon lantai tiga, di sana tak ada orang yang berlalu lalang, hingga mumudahkan dirinya untuk bertukar kabar dari Agas yang katanya sudah berangkat sejak semalam setelah mengurus lapor-melapor.


Sayangnya laki-laki itu sedikit kesasar setelah sampai di kota terdekat kampung Rania. Katanya dari kota itu masih harus menempuh waktu kurang lebih 10 jam, dan pas memasuki pemukiman, jalan rusak dan tanjakan tinggi Agas dan Rangga dapati.


Sialnya mereka membawa mobil Sportcar yang sangat ceper, dimana dapat lobang sedikit saja maka bawahnya akan menyentuh tanah.


"Abang udah di mana? Bentar lagi acara di mulai," ucap Rayna setelah sambungan kembali terhubung.


Orang yang sedang di tanya, segera mengedarkan pandangannya mencari nama jalan, dan kebetulan Agas melihat pembatas.

__ADS_1


"Perbatasan desa Kemaru, apa masih jauh?" tanya Agas balik. Sementara Rangga sudah menancap gas sebisa mungkin agar segera sampai.


Dalam hati ia terus berdoa semoga Rania tidak jadi menikah dengan Jeky, atau ia akan mengamuk di kampung orang.


"Masih jauh kak, tapi nggak jauh-jauh amat. Beberapa kilometer dari sana, abang bakal dapat perpatan tiga, abang belok kiri dan terus aja, nggak usah belok lagi."


"Ok, nanti gue kabarin lagi!"


Setelah selesai bertelponan, keduanya kembali ke lantai dasar, di sana sudah banyak tamu yang datang, terutama orang-orang sekampung, juga tetangga kampung.


"Mbak Ina udah jam delapan, bentar lagi Bang Jeky muncul," bisik Relia dari arah belakang.


"Lia punya ide mbak." Gadis belia itu segera menarik Rayna ke tengah-tengah kerumunan untuk mengambil jus berwarna merah, satu untuknya dan satu untuk Rayna.


"Kamu haus Lia?"


"Ish, bukan mbak. Kita temui bang Jeky."

__ADS_1


Keduanya langsung berjalan menuju ruangan Jeky, tersenyum sangat ramah setelah sampai di kamar.


"Bang Jeky udah selesai? Tamu dan pak penghulu udah datang bang," ujar Rayna basa-basi setelah tahu maksud Relia.


"Sudah, saya akan segara menyusul."


"Sepertinya abang gugup mau nikah sama mbak Nia, minum dulu bang." Relia menyerahkan segelas jus pada Jeky


"Aaaaakkkkhhhh." Rayna tiba-tiba berteriak dan menumbruk tubuh Relia hingga jus yang ada di tangan gadis belia itu tumpah, membasahi jas Jeky yang berwarna putih tulang.


"Ma-maaf bang, Ina nggak sengaja. Tadi Ina liat tikus." Rayna langsung mengelus jaz Jeky, tanpa laki-laki itu sadari tangan Rayna kotor karena debu.


Bagaimana tidak, gadis itu menyapu dinding hingga sampai di kamar Jeki tadi, alhasil tangannya kotor.


"Dasar anak-anak tidak berguna!" maki Jeky.


Rayna dan Relia segera pergi dari sana. Bertos ria.

__ADS_1


"Berhasil Lia, setidaknya kita bisa ngulur waktu dikit, pasti bang Jeky lagi nyuruh ajudannya nyari Jaz."


...****************...


__ADS_2