Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 136


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, pertegkaran demi pertengkaran terjadi pada hubungan Rania dan Rangga. Tapi itu semua bukan tolak ukur akan renganggang sebuah hubungan, tapi pertengkaran kecil seperti itu malah semakin membuat keduanya saling cinta.


Perut yang semakin buncit dengan usia 8 bulan lebih, beberapa minggu lagi menjelang kelahiran. Membuat calon papa muda itu sangat sibuk mengurus keperluan sang istri.


Sebagai calon dokter Obgyn Rangga sedikit tahu apa-apa saja yang di perlukan. Laki-laki itu juga sudah mengajak sang istri belanja perlengkapan Bayi. Kini kamar mereka penuh akan hal tentang bayi.


Ya, untuk saat ini Rangga belum bisa memberi Rania rumah yang lebih luas, tapi untuk kebutuhan dan yang lainnya sedikit demi sedikit terpenuhi.


Rangga mengernyit saat pulang kerja, rumah sunyi dan Rania tidak menyambut kedatangannya seperti biasa. Beberapa kali Rangga memanggil nama sang istri. Namun, tidak ada sahutan apapun.


Di saat ia mulai khawatir, ia tidak sengaja mendengar suara seseorang di kebun belakang saat ia ke dapur. Senyumnya mengembang melihat sang istri yang entah telponan dengan siapa.


"Siapa sayang?" bisik Rangga lansung memeluk Rania dari belakang yang kini berdiri di ambang pintu belakang dengan ponsel di telinganya.


Wanita yang sedang di peluk segera berbalik seraya tersenyum. "Kepala pelayan. Katanya ayah udah lebih baik sekarang, udah bisa bicara jelas. Mas nggak kangen sama ayah? Udah sebulan lebih nggak mampir."


"Bagus dong kalau udah sembuh, sekarag kamu nggak perlu repot-repot telpon pelayang cuma mastiin keadaan ayah," jawab Rangga masih terlihat acuh akan kondisi ayahnya.


Selama ini Rangga hanya mengetahui kondisi Edwin dari Rania saja yang setiap hari menanyakan kabar Edwin pada kepala pelayan.


"Ish, nggak boleh gitu mas sayang."

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh, hm?"


"Mas." Panggil Rania ragu.


"Kenapa sayang?"


"Duduk dulu sini." Rania menarik Rangga duduk di kursi busa yang ada di dekat kebun belakang. Setelah duduk ia menatap sang suami tidak yakin.


"Bentar lagi kan aku lahiran, apa aku boleh ketemu ayah sebentar aja? Aku cuma mau minta restu ayah sebelum anak kita lahir!" pinta Rania.


Rangga terdiam, percayalah hati laki-laki itu sedikit perih mendengar permintaan sang istri. Ia merasa gagal menjadi seorang suami. Istrinya harus mengemis restu ayahnya karena ketakutan saat melahirkan nanti.


Walau tahu pusatnya hanya satu, tapi tidak menutup kemungkinan sebagian polisi menerima suap dari pihak tersangka.


"Sebenarnya aku juga mau ketemu bapak sebelum lahiran, tapi kan nggak di bolehin sama mas karena jauh. Jadi gantinya sama ayah aja ya!" bujuk Rania.


Lagi, Rangga tak mengeluarkan suara, hanya menarik Rania agar bersandar di dadanya, seraya mengelus surai panjang milik sang istri. Rangga menumpukan dagunya di puncuk kepala Rania.


"Maafin mas buat kamu takut kayak gini," gumam Rangga merasa bersalah akan semua yang ia lakukan.


"Mas nggak salah, toh aku juga ikut-ikut aja. Aku cuma takut, aku atau anak aku kenapa-napa pas lahiran nanti karena apa yang kita lakukan dari awal salah mas. Banyak yang nggak suka sama hubungan yang kita jalin. Dan setidaknya aku mau minta maaf sama ayah mas untuk apa yang aku lakukan. Ayah mas nggak salah, wajar jika dia marah sama aku. Tidak ada orang tua yang suka jika ada seseorang yang mengusik rumah tangga anaknya, begitupun dengan ayah. Aku salah dan aku ingin minta maaf. Boleh kan aku ketemu ayah?"

__ADS_1


Rangga mengangguk sebagai jawaban, ia semakin mendekap sang istri. "Jangan nyalahin diri terus seperti ini Ran. Masa lalu biarlah berlalu, kita menata masa depan sama anak kita nanti."


"Iya mas, makanya aku mau minta maaf biar rasa bersalah aku lega dikit."


Rania mendongak menatap manik Rangga yang ternyata berkaca-kaca. "Ish apaan, gitu aja mau nangis." Rania terkekeh geli, seraya menguyel-uyel pipi sang suami.


"Aaauuww," ringis Rania kala tangannya di gigit.


"Jangan ngetawain makanya."


"Mas, kalau di suruh milih antara aku atau anak kita, bakal milih siapa?" tanya Rania.


"Atau," jawab Rangga.


"Kok atau?"


"Mas maunya itu, gimana dong?"


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2