
Rania kaget bukan main ketika Melisha langsung bersujud tepat di hadapannya setelah sampai di kantor polisi. Wanita itu bahkan memegang kaki Rania dan hendak menciumnya.
Rania melangkah mundur, menunduk untuk membimbing Melisha agar segera bangun. Ia merasa tidak pantas di pelakukan seperti itu. Dirinya bukan Tuhan apa lagi orang penting sehingga seseorang harus bersujud di depannya.
"Maafkan aku Rania, aku mohon. Aku menyesali semua perbuatan aku selama ini. Tolong aku ...." Melisha terus bersimpuh di kaki Rania.
"Aku sudah maafin kak Melisha jauh sebelum kakak minta maaf, jadi bagunlah," ucap Rania kembali membantu Melisha bangun, namun urung wanita itu tetap bersujud di depannya.
"Baguslah kalau kau sudah sadar dengan kesalahan-kesahalan dan perbuatan tidak manusiawimu itu," sinis Rangga.
Ia menatap sinis Melisha. Rasa dendamnya sampai sekarang belum juga mereda. Memaafkan? Hatinya tak seluas dan sesabar Rania.
"Tolong bebaskan aku dari sini Rania. Aku mohon bujuk suamimu agar meringangkan hukumannya. Aku tidak mau mati di penjara."
"Bukannya kamu memang mau matikan? Kata polisi kamu mencoba bunuh diri."
"Mas, udah kasian kak Melisha." Tegur Rania.
Wanita itu mengelus tangan Rangga agas tetap tenang.
Melisha mengeleng dengan air mata berlinang, raut wajah penyesalan terlihat jelas di manik wanita itu.
"Aku hampir di perk*osa oleh tahanan lain, aku tidak mau mati di sini Rania. Setidaknya aku harus memparbaiki diri sebelum ajal menjemputku."
__ADS_1
Tak terasa air mata Rania menetes membayangkan bagaimana penderitaan Melisha selama ini di balik jeruji besi. Wanita itu berjongkok, memegang kedua pundak Melisha yang sedari tadi bergetar hebat karena menangis.
"Maafkan aku kak, untuk membebaskan dirimu aku tidak punya kuasa apa-apa. Keputusan hakim sudah keluar dua bulan yang lalu, dan tidak bisa di ganggu gugat."
"Kak Melisha yang tabah ya."
"Rania aku mohon."
"Maaf Nona, jam besuk sudah berakhir," peringatan polisi.
Rania mengangguk seraya melirik Rangga yang bergeming di tempatnya.
"Aku pamit ya kak. Aku akan sering berkunjung jika ada waktu luang."
***
"Aku kasian liat kak Melisha Mas, apa hukuman memang tidak bisa di ringangkan?"
"Tidak bisa, dan tidak akan pernah. Hatiku tidak seluas hatimu Rania yang bisa memaafkan kesalahan seseorang dalam waktu singkat."
Rania terdiam, tak bisa memaksakan kehendak lagi. Lagipula jangan sampai hanya karena ini, ia dan Rangga bertengkar.
"Mampir ke Indoapril dulu mas, mumpung di luar. Susu sama pempres Rayyan tinggal dikit."
__ADS_1
Mengangguk, hanya itu respon yang di keluarkan Rangga.
Sesampainya di indo April. Rangga dengan setia menemani Rania keliling rak mencari pempres juga susu.
"Kenapa cuma dua?" protes Rangga. "Sekalian ambil stok sebulan Yang, lagian masa kedaluarsanya lama."
Rania mengangguk, mengambil beberapa kaleng susu formula juga pempres dengan ukuran besar.
"Udah mas."
Rangga memutar bola mata jengah, selalu saja jika belanja sepeti ini, Rania hanya belanja keperluan bersama tidak untuk dirinya.
"Belanja buat kamu juga Sayang. Cemilan, minuman atau yang lainnya. Mau mas pilihin?"
Rania mengeleng. "Nanti aja mas, aku kangen sama Rayyan."
Rangga mengacak-acak rambut Rania gemas. Memgambil beberapa cemilan yang menurutnya di sukai oleh istirnya hingga troli yang ia dorong penuh.
Sepanjang mengantri di kasir, Rangga tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Bahkan laki-laki itu tanpa malu mengecupnya di depan semua orang.
"Malu," bisik Rania.
"Ngapain? Orang udah sah juga."
__ADS_1
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น