
Satu bulan telah berlalu setelah pertengkaran Agas dan Rangga di kampus. Rangga tak pernah lagi kasar apa lagi membentak Rania. Namun, bukan berarti laki-laki itu membiarkan Rania pergi begitu saja, tidak.
Rangga selalu menggap Rania kekasihnya dan terus mendekati juga menemuinya kapan saja.
Rania yang baru saja sampai di kampus, harus menghentikan langkahnya dari pagar saat benda pipih di dalam tasnya berdering.
Kak Rangga is Calling ....
Rania langsung menjawab panggilan dari laki-laki itu. "Iya ada apa kak?"
"Kamu dimana Ran? Bentar lagi acara di mulai, kamu bakal datang nemenin aku kan? Hari ini acara spesial yang selama ini aku tunggu selama bertahun-tahun," ucap Rangga di seberang telpon.
"Aku bakal datang kok kak, tapi nanti. Aku masih ada urusan sama dosen."
"Jangan lama-lama, aku kangen," rengek Rangga.
"Iya."
Setelah sambungan telpon terputus, Rania kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dosen yang berurusan dengannya. Lama Rania di sana, mungkin hampir satu jam hingga urusannya selesai.
__ADS_1
Karena hari ini adalah hari spesial orang yang ia sukai, Rania segera bersiap-siap untuk menemui Rangga. Walau ia memutuskan untuk menjauh, bukan berarti ia harus mengabaikan hari berharga Rangga.
Laki-laki itu sangat menginginkan gelar dokter. Sejak dulu Rangga selalu bercerita banyak hal tentang impiannya, dan Rania suka mendengarkan jika laki-laki itu mulai berangan-angan.
"Salah satu alasan aku mau jadi dokter kandungan, karena mau ngertiin istri aku nanti saat hamil. Aku tidak mau orang lain yang melihat tubuh istriku."
"Kamu tahu Ran? Menjadi dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia, membatu orang-orang yang kesakitan. Apa lagi dokter kandungan, mereka menyelamatkan dua nyawa dan membatu seorang perempuan menjadi seorang ibu. Pokoknya aku bangga jika suatu hari nanti bisa jadi seorang dokter."
"Jangan pernah ninggalin aku ya Ran, tetap di samping aku dan dukung semua impian aku."
"Emang istri kakak di masa depan siapa?" Rania bertanya sembari mengelus rambut Rangga yang kini tidur di pangkuannya.
"Pasti, aku mau kak."
Rania tersenyum dengan mata berkaca-kaca mengingat percakapannya dengan Rangga dulu. Ia mengira masa depan yang mereka rencanakan akan terwujud ternyata tidak.
Pip ...
Rania terlonjak, langsung minggir mendengar klakson mobil lumayan nyaring. Rania menunduk, ketika mobil mewah itu melewatinya, bahkan baju Rania kotor karena ban mobil itu tidak sengaja melintasi botol berisi air.
__ADS_1
"Yah basah," gumam Rania.
Tak ingin mempermasalhkan bajunya, ia segera menyembrang menuju penjual bunga di seberang jalan. Sebelum menemui Rangga, Rania ingin membeli bunga kesukaan laki-laki itu.
Mawar putih, bunga yang selalu menjadi lambang cintan keduanya.
"Kak Rania!" sapa pengaja toko bunga. "Tumben sendiri, biasanya kalau beli bungan pasti sama kak Rangga."
"Kak Rangga wisuda hari ini. Aku pesan buketnya satu, di kemas secantik mungkin ya!" perintah Rania mendudukkan diri di bangku yang berada di dekat taman buatan di toko itu.
Ponselnya kembali berdering dengan penelpon yang sama seperti tadi.
"Sayang, kamu dimana?"
"Lagi beli bunga buat kamu, aku nggak bakal kabur di hari spesial kamu tenang aja kak."
"Aku tidak butuh bunga Rania, aku cuma butuh kamu. Datanglah sebelum ayah dan Melisha datang!"
"Ok ... oke aku pasti datang," lirih Rania.
__ADS_1
...****************...