Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 51 - Menciptakan Momen Sebelum Kehilangan


__ADS_3

"Kak Agas, dari tadi telponnya bunyi," ucap Rania setelah Agas keluar dari kamar mandi hanya memakai kaos biasa di lengkapi dengan celana pendek. Laki-laki itu sepertinya baru selesai mandi.


"Siapa?" tanya laki-laki itu seraya mengeringkan rambutnya, berjalan ke ruang tamu untuk mengecek.


"Nggak tau kak," jawab Rania tanpa menyadari senyuman Agas.


Bagaimana tidak, laki-laki itu berhasil memancing emosi sahabatnya, lihatlah, setelah melihat storynya tentang istri idaman, ia di teror habis-habisan. Mau lewat pesan atapun telpon, mungkin jika terus di biarkan, Rangga akan gila karena kejahilannya.


"Udah sana siap-siap, keburu tengah malam dan semakin dingin," ujar Agas meraih ponselnya di atas meja, kemudian berjalan ke teras untuk menerima panggilan Rangga.


Sementara Rania sudah masuk ke kamar, untuk bersiap-siap. Mereka akan jalan-jalan ke pasar malam di sabtu malam, layaknya pasangan kekasih.


Agas langsung menjauhkan ponselnya setelah menjawab panggilan Rangga, mungkin jika ia terlambat sedikit saja, gendang telinganya akan rusak karena teriakan emosi.


"Agas sialan, dimana lo sembunyiin Rania? Gue tau istri idaman yang lo maksud itu milik gue! Gestur tubuh bahkan rambutnya, gue tau itu Rania!" emosi Rangga di seberang telpon.


Laki-laki itu mencari Rania sudah berhari-hari dan saat melihat status sahabatnya, ia langsung tersulut emosi.

__ADS_1


Bukan lagi candaan, tapi Rangga takut Rania benar-benar menikah dengan Agas dan meninggalkan dirinya. Tidak lucu saat sahabatnya menjadi ayah anaknya sendiri.


"Dia bukan Rania, dia calon istri gue," jawab Agas sangat santai.


"Agas gue peringetin lo ya, jangan lakuin apapun atau lagi mengambil milik gue! Gue udah cerai sama Melisha jadi lo nggak punya alasan rebut Rania dari gue!" peringatan Rangga tak main-main.


Namun, Agas malah semakin tertawa dan ada sedikit lega di hatinya setelah mendengar Rangga sudah menceraikan Melisha. Itu artinya tidak ada hambatan lagi antara Rania dan Rangga untuk bersatu. Tapi di satu sisi ia juga bersedih, karena akan kehilangan orang yang ia cintai, dan parahnya akan menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Baguslah."


"Agas ban*gsat gue ...."


Senyuman manis dengan lesung pipi, rambut panjang yang tergerai indah membuat Rania sangat memesona malam ini.


"Itu suara Rania, sekarang lo sharelock gua bakal nyusul!" perintah Rangga, bukannya menjawab Agas malah memutuskan sambungan telpon begitu saja.


Maaf Ga, gue bukannya mau misahin kalian berdua. Gue cuma mau ngabisin waktu sama Rania walau hanya semalam saja, sebelum dia jadi milik lo.

__ADS_1


Agas tersenyum mencoba menutupi rasa sedihnya akan kehilangan.


"Dah cantik aja nih bumil," ucap Agas mengacak-acak rambut Rania. "Duduk dulu, gue baru mau pesan taksi!" perintahnya.


"Kok Taksi? Kan ada motor kak Agas. Pemborosan kak kalau naik taksi, mending uangnya beliin bensin, 50 rb cukup dan lebihnya di tabung," ujar Rania seraya duduk di kursi teras.


Jiwa mak-mak di dalam otak Rania mulai berkerja jika menyangkut uang, bukan pelit tapi berhemat.


"Mulai deh, pintar banget sih pembagian sama penyimpanan," ujar Agas.


"Harus kak, jadi ibu rumah tangga harus pintar ngitung uang biar cukup. Baik-baik kalau kita dapat suami banyak uang bisa seenaknya, tapi kalau nggak? Kasian suaminya kalau belum gajian uang dah habis, harus minjam sana-sini."


"Istri idaman para kaum adam," puji Agas masuk ke rumah untuk menganti celana, mengambil jaket juga helm.


Awalnya ia tidak ingin membawa Rania jalan-jalan naik motor, tapi mau gimana lagi, wanita itu yang protes, dan tahu sendiri Rania sedikit keras kapala.


"Aku bukan istri idama siapapun, bahkan mungkin nggak ada yang mau sama aku. Aku perempuan kotor dan sedang hamil, mereka bukannya beruntung malah akan mendapat sial," gumam Rania.

__ADS_1


"Ngomong apasih? Gue nggak dengar," kesal Agas langsung memasang helm di kepala Rania.


...****************...


__ADS_2