
Janji yang di ucapkan Rania pada Agas belum juga ia tepati. Wanita itu belum berani mengabari Rangga tentang kehamilannya, ia takut mendapat penolakan dari laki-laki itu.
Rania mengigit bibir bawahnya setelah bertelponan dengan Agas yang baru saja mengingatkan dirinya untuk mengabari Rangga.
Ia memejamkan mata, mencoba mencari keberanian dalam dirinya. Ia mulai mengetikkan beberapa angka ke ponselnya setelah itu memencet icon berwarna hijau.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Suara terdengar dari seberang telpon.
Suara itu, suara yang sangat ia rindukan selama ini. Suara ayah dari janin yang ada di dalam perutnya.
"Halo ...."
Hening, Rania hanya menangis tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya isakan yang lolos dari mulut wanita itu.
"Rania!"
Tut
Rania langsung menutuskan sambungan telpon saat Rangga menyadari bahwa itu dirinya.
***
__ADS_1
Di ibu kota, seorang laki-laki tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap nanar gagang telpon yang baru saja mati.
"Itu pasti Rania," gumam Rangga, ia tahu betul bagaimana suara Rania, walau tidak mengatakan apapun, tapi suara isakannya sudah menjelaskan semuanya.
Laki-laki itu beranjak dari duduknya hendak pergi. Namun, lagi dan lagi Melisha datang.
"Mas mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar, ada apa lagi kamu kesini? Apa kamu tidak lelah terus mengunjungiku setiap hari?" ketus Rangga akan sikap Melisha.
Karena wanita itu pergerakannya harus terbatas, bahkan untuk menanyakan kabar Rania saja tidak bisa. Selama ini Rangga hilang kabar bukan berarti ia melupakan wanita yang sangat ia cintai.
Satu yang Rangga sesalkan saat di Bandung dulu. Ia dengan tega makan siang di Cafe tempat Rania bekerja. Tapi Rangga berani bersumpah, itu bukan keinginannya, tapi keinginanan Edwin.
"Aku ikut," rengek Melisha.
"Tidak semua yang aku lakukan harus melibatkan kamu Melisha, aku punya kehidupan sendiri!" bentak Rangga. Untung saja ruang kerjanya kedap suara.
"Karena kehidupanmu itu tentang wanita murahan yang tidak tahu diri itu Mas, itulah mengapa aku tidak ingin Mas pergi menumuinya, aku tidak ingin Mas berpaling lagi."
"Dia bukan wanita murahan camkan itu!" Rangga menatap tajam Melisha. "Sebenarnya apa yang kau inginkan, kenapa tidak ingin menceraikan aku hm?" Rangga mencengkram rahang Melisha sakin kesalnya.
__ADS_1
Jika saja bukan karena satu tujuan, ia tidak mungkin kembali kerumah dan mengurus perusahaan. Tujuannya yaitu mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya di perusahaan ini.
Bukan takut melarat atau miskin, tetapi Rangga tidak ingin menempatkan Rania dalam rumah tangga dengan ekonomi sulit. Sudah cukup Rania hidup terombang ambing karena uang.
"Rangga!"
Rangga sontak melepaskan cengkramannya dari Melisha.
"Jadi begini kelakuan kamu sama istrimu saat ayah tidak ada? Apa karena wanita itu?"
"Berhentilah menuduh Rania setiap apa yang aku lakukan. Atau aku akan benar-benar mewujudkan tuduhan kalian!"
Brak!
Rangga menutup pintu dengan kasar, rahangnya mengeras. Ia melewati para karyawannya dengan tatapan mematikan hingga tak ada yang berani menyapa.
"Sialan!" teriak Rangga meninju setir mobilnya. Hidup dalam tekanan sangatlah menyiksa batin Rangga. Terlebih kali ini tidak ada yang menghibur apa lagi menenangkan dirinya.
Menenui Rania? Itu sama saja ia menyerahkan nyawa wanita itu pada ayahnya. Rangga tahu betul sekarang pergerakannya di awasi dengan ketat. Sekali salah langkah maka semua pengorbanannya akan sia-sia.
...****************...
__ADS_1