Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 88 - Berkebun


__ADS_3

Tidur nyenyak Rangga harus terganggu karena deringan ponsel di samping bantal. Dengan mata sedikit terbuka, ia meraba tempat tidur untuk mencari beda pipih itu. Tanpa melihat siapa sang penganggu Rangga langsung menjawabnya.


"Halo, ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Saya sudah menemukan Desainer interior yang pas untuk hotel kita tuan. Kebetulan dia ada di kota ini, dan ingin bertemu sekarang juga," ujar sekretaris Rangga di seberang telpon.


"Baiklah, tentukan saja tempatnya, saya berangkat sekarang," sahut Rangga seraya bangun dari tidurnya, tak lupa memutuskan sambungan telpon.


Untung saja sekretaris yang menemaninya di perusahaan induk dulu ingin ikut dengannya di banding tinggal di sana. Katanya sih, Rangga jauh lebih baik daripada pak Edwin yang suka seenaknya.


Setelah mencuci muka dan rapi dengan setelan jas, Rangga mencari sang istri yang sudah tidak ada di kamar. Ia berjalan ke halaman belakang yang masih sangat kasong belum di tumbuhi apapun dan mendapati sang istri tengah berdiri bersama penjaga rumah juga Rayna.


"Rania?" panggil Rangga di ambang pintu membuat wanita itu menoleh dan segera mendekat.


Alis Rania saling bertaut melihat penampilan Rangga yang terlihat sangat rapi, bukankah laki-laki itu mengatakan tidak ada kerjaan lagi.


"Mas mau kemana?" tanya Rania.


"Mas ada urusan dadakan sayang. Mas pergi ya," mengusap rambut Rania dan tak lupa mengecup keningnya.


"Iya," jawab Rania seraya mengangguk.

__ADS_1


Sebelum benar-benar pergi, Rangga menyempatkan diri melirik halaman belakang. "Ngapain penjaga rumah masuk? Mas nggak suka kamu dekat sama laki-laki." Peringatan Rangga.


"Oh itu, aku rencana mau buat kebun sayur di sini, makanya manggil penjaga biar di bantu, lagian ada Ina mas, nggak berduan juga."


"Jangan angkat yang berat-berat, mas nggak mau kamu kesakitan nanti."


"Iya sayang, nggak bakal. Udah ih, ntar mas telat lagi. Ayo aku antar sampai depan." Rania berjalan lebih dulu membawa jas yang berada di tangan Rangga tadi.


"Kalau nggak sempat pulang sebelum makan malam, kabarin ya mas biar aku nggak khawatir." Rania menyerahkan jas pada Rangga.


"Pasti, dah bumil cantik."


"Bangku itu di pindahin ke depan aja pak, kalau bisa halaman ini harus kosong sama benda-benda ya," ujar Rania. "Bisa nggak pak?"


"Bisa neng."


"Oh iya pak, di dekat sini ada nggak penjual tanah gembur yang udah di campur sama pupuk kandang. Kisaran 1:1:1, isinya pupuk kandang, tanah, sama sekam."


Pak Dadang penjaga rumah itu mengaruk kepalanya, sedikit berpikir ada atau tidak keinginan majikannya itu.


"Kalau langsung ke campur nggak ada neng, tapi pisah-pisah ada, nanti saya bantu campurin nggak papa," jawabnya.

__ADS_1


"Oh gitu ya pak, nggak papa deh, daripada nggak ada sama sekali. Berkebun secara hidroponik biayanya sedikit mahal."


"Tapi bersih neng," sahut pak Dadang.


"Hehehe iya sih pak, tapi kita pakai media tanah aja."


Pak Dadang mengangguk patuh." Kira-kira berapa karung neng?"


Rania langsung melirik Rayna yang sedang menyusun beberapa barang agar terlihat lebih rapih. "Berapa Ina?"


"Satu-satu aja dulu mbak, lagian kita pakai sistem pot jadi nggak bakal banyak tanah juga."


"Oh sip neng, nanti saya bawa kesini kalau udah dapat."


"Makasih pak, mau bantu kita."


"Heheh iya neng sama-sama, mari."


...****************...


Bunga mawarnya jangan lupa di tebar ya🌹🌹🌹🌹🌹💃💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2