
Hari mulai gelap, bahkan sebentar lagi tengah malam, Rayna dan Relia izin ke kemar terlebih dahulu. Keduanya tidur di kamar seperti biasa.
Karena Rania juga mulai mengantuk, wanita itu juga beranjak. "Mas Rangga, sama kak Agas tidur di kamar ibu aja. Aku tidur sama Ina. Maaf kalau kalian nggak nyaman, di sini cuma ada dua kamar."
"Santai aja," sahut Agas.
"Nggak ada, enak aja. Kita pengantin baru kalau kamu lupa. Biarin aja Agas tidur di sini!" sanggah Rangga egois.
"Anjirlah, namanya aja pengantin baru, benihnya udah tumbuh," sindir Agas.
Rania hanya senyum kikuk, Agas dan Rangga memang sahabat, tapi hidup keduanya terasa hampa tanpa bertengkar dalam sehari.
"Semalam aja Mas, kasian kak Agas."
"Nggak usah kasian sama gue Ran. Mending lo urus laki lo. Takutnya ntar gue yang di raba-raba lagi di kamar."
__ADS_1
Rania meringis, Rangga dan Agas selalu saja mulutnya tidak bisa di filter, ngomong seenaknya. Apa kedua laki-laki itu tidak tahu bahwa ia sangat malu jika membahas hal seperti ini?
"Tuh lo tau, ayo!" Rangga langsung beranjak menarik tangan Rania masuk ke kamar.
Bukan tidak tahu diri, hanya saja Rangga tidak akan nyaman tidur dengan laki-laki, begitupun dengan Agas. Tidur sesama jenis bagi seorang laki-laki rasanya aneh, berbeda dengan perempuan, mau pelukan saja tidak masalah.
Saat sampai di kamar, bukannya langsung tidur, Rania mengambil bantal juga selimut di dalam lemari. "Aku ngasih kak Agas dulu mas," izin Rania.
"Hm, jangan lama mas cemburuan orangnya," sahut Rangga.
Rania kembali setelah membawakan Agas pelengkapan tidur, merangkak naik ke ranjang yang tidak terlalu besar. Kasurnyapun tidak empuk. Mungkin semalaman Rangga tidak akan nyaman.
Tetapi suaminya ngotot ingin tinggal, terlebih Rangga mengajak adik-adik Rania ikut ke Kota. Dimana mereka harus mengurus surat pindah Relia terlebih dahulu sebelum meninggalkan kampung halaman.
"Kan aku udah bilang Mas, disini nggak nyaman. Lagian Mas pasti sibuk, belum lagi kuliah mas ...."
__ADS_1
"Nyaman kok, apa lagi meluk kamu kayak gini. Udah, nggak usah mikirin Mas. Mas juga nggak sibuk, nggak lanjut kuliah juga," gumam Rangga memejamkan matanya seraya memeluk erat tubuh Rania yang sedikit berisi.
"Kok nggak lanjut? Sayang loh Mas, beberapa tahun lagi."
Rangga membuka mata, tersenyum seraya menatap mata Rania yang membulat karena kaget. "Kamu lebih penting dari apapun Ran. Cita-cita bisa aku kejar suatu hari nanti, tapi nggak dengan kamu. Lagian semua buku aku di bakar sama Melisha."
"Rania?"
"Iya mas?"
"Kamu nggak papa hidup sederhana dan apa adanya? Mas belum bisa ngasih apapun, sebelum pulang ke Kota mas janji bakal beli rumah yang layak buat kamu." Tatapan Rangga semakin dalam.
Sekarang ia tidak punya apa-apa. Hotel yang berada di tangannya baru juga naik perlahan-lahan. Berkeja menjadi dokter? Tidak semudah yang orang lain banyangkan.
Rangga baru lulus sarjana, masih ada 2 tahun lebih untuk menepuh perjalanan kedokteran yang sebenarnya. Hanya lulus sarjana saja tidak ada apa-apanya. Rangga masih harus menempuh tahap pendidikan profesi. Dimana dia akan berkerja atau istilah lainnya Koas di rumah sakit tanpa di gaji. Waktunya hanya untuk rumah sakit, dan belajar di kampus.
__ADS_1
Jika Rangga kuliah sekarang, bagaimana dengan istrinya nanti? Mau makan apa Rania? Belum lagi biaya kuliahnya. Itulah mengapa Rangga ingin fokus menjalankan hotel terlebih dahulu dengan serius.
...****************...