Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 117 - Curhatan Rayna


__ADS_3

Percayalah senyuman Rania hanya di luar saja, dalam hatinya ia ingin menangis tak rela Rangga pergi walau seminggu saja. Lambaian tangan Rania melemas setelah mobil Rangga tidak terlihat lagi.


Air matanya tumpah begitu saja. "Ish cengen banget padahal mas Rangga cuma pergi bentar bukan selamanya," gumam Rania mengusap air matanya sendiri.


***


Sudah jam 10 malam. Namun, mata Rania tak kunjung terpejam, bahkan wanita berbadan dua itu masih ada di ruang keluarga memandangi Tv dengan tatapan kosongnya.


Rangga sudah berjanji untuk mengabari setelah sampai, tapi sekarang belum ada kabar dari laki-laki itu membuatnya sangat khawatir. Di telpon percuma, ponsel Rangga tidak aktif, begitupun dengan Lingga.


"Mbak Nia kok belum tidur?" tanya Ina ikut bergabung dengan kakaknya di ruang tamu.


"Belum ngantuk."


"Sama mbak, aku juga belum ngantuk." Rayna tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak. Suasana hati gadis itu juga sedang tidak baik-baik saja beberapa hari belakangan ini.


"Ada masalah di kampus? Kok lesu gitu?" tanya Rania dan di balas gelengan oleh Rayna.


"Udah beberapa hari bang Radit aneh mbak, nggak kayak dulu. Sekarang cuek terus sering nggak aktif gitu, aku kan jadi negatif thingking," curhat Rayna.


"Mau tau kunci hubungan biar langgen? Saling percaya satu sama lain Ina. Coba kamu positif thingking, dia lagi sibuk kerja belakangan ini sampai nggak ada waktu. Dan parahnya kalau kamu mikir yang nggak-nggak nyatanya Radit lagi kesusahan."


Rayna terdiam, benar apa yang di katakan Rania, kenapa bisa ia berpikir kalau Radit selingkuh?

__ADS_1


"Makasih mbak, udah buka pikiran Ina."


"Hm, sana gih tidur, besok ada kelas kan? Oh iya kalau ada apa-apa atau uang jajan kamu habis, tanya mbak, jangan malu."


"Iya mbak, kalau gitu Ina ke kamar ya. Mbak juga jangan begadang, nanti ponakan aku sakit loh."


"Iya nggak Ina, sama gih, mbak masih mau nonton."


Sepeninggalan Rayna, Rania juga kembali ke kamarnya walau matanya tak bisa terpejam.


"Mas Rangga kemana sih?" gumam Rania, hatinya mulai kalut.


Senyuman terbit di bibir seksinya kala ponselnya berdering menampilkan nama Rangga di sana.


Di seberang sana, suaminya seperti habis mandi, terbukti rambutnya yang basah.


"Maaf sayang, mas nggak sempat buka hp langsung ketemu rekan kerja. Mas mau selesaiin semuanya cepat-cepat biar bisa pulang."


"Aku tadi khawatir sama mas, takut terjadi sesuatu."


"Mas baik-baik aja. Tidur gih, mas temenin, atau mau mas nyanyiin sesuatu?"


"Mau."

__ADS_1


Rania langsung berbaring menghadap kiri, menyandarkan ponselnya di bantal bersiap untuk tidur seraya mendengarkan suara merdu sang suami.


Mata yang tadinya tak ingin terpejam langsung berat setelah melihat wajah sang suami.


"Mas Rangga?" panggil Rania.


"Kenapa sayang?"


"Tadi ada sekretaris ayah nelpon katanya mau cerita sama mas. Coba deh mas angkat aja dulu, siapa tau penting kan?"


"Nggak usah berurusan sama mereka!"


"Tapi aku takut ayah mas kenapa-napa."


"Rania, mas capek sayang. Jangan mancing ya apa lagi tentang ayah."


"Iya maaf," gumam Rania tak lagi membahas sekretaris ayah mertuanya.


Ya siang tadi Rania mendapat beberapa telpon dari seorang laki-laki yang mengaku sebagai asisten ayah mertuanya, dan memaksa ingin bicara dengan Rangga.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2