
"Sayang kenapa natapnya gitu amat hm? Kelamaan nunggu?" tanya Rangga setelah berada di depan meja resepsionis
Tanpa merespon, Rania meletakkan bekal yang ia bawa di atas meja kemudian sedikit berjinjit untuk meraih kemeja bagian atas Rangga. Memasang kembali kancing kemeja paling atas agar dada suaminya tidak terlihat.
Sebenarnya dada Rangga tidak terlihat karena hanya dua kancing yang lepas, tetapi rasa cemburu Ranialah yang terlalu berlebihan hari ini.
"Ngapain buka kancing kemeja gitu di tempat kerja? Biar di godain cewek?" Rania ngedumel sendiri.
Rangga menarik sudut bibirnya kalau saja ini bukan tempat umum, ia sudah memberi hukuman yang pas untuk sang istri.
Eits, hukuman yang kalian maksud, berbeda dengan hukuman di otak Rangga, terlebih istrinya sangat mengemaskan jika sedang kesal.
"Mas tadi buru-buru sayang, sampai nggak sempat ngancingin. Tau sendiri mas orangnya nggak suka pakaian formal, di kampus aja pakai kemeja kancing rapi kalau lagi butuh aja," jawab Rangga mencari pembelaan.
Karena memang dasarnya ia tidak ada niatan menggoda siapapun. Rania sudah lebih dari cukup. Ia tidak akan menduakan apa lagi tergoda pada wanita lain. Buat apa? Istrinya sangat cantik, baik dan pengertian, berpikir dewasa, selalu bisa mengimbangi dirinya. Rania sudah mendekati kata sempurna di mata Rangga, jadi ia tidak punya alasan lagi untuk mendua.
"Alasan," gumam Rania walau itu memang benar adanya. Ia jarang melihat Rangga berpakaian formal dulu, mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur cumburu, moodnya juga sudah berubah.
"Aaaaa ... perut mas perih lapar banget sayang," rengek Rangga tanpa memperdulikan orang sekitar, mengambil alih bekal di atas meja kemudian mengamit pinggang sang istri pergi dari sana.
Percayalah, telinga Rangga hampir meledak di lobi hotel, entah Rania mendengarnya atau tidak. Tetapi bisikan beberapa orang yang mengenal dirinya sangat menganggu. Mereka menuduh Rania yang tidak-tidak, menjadi selingkuhan, dan menganggapnya sebagai pelakor.
Terlebih mereka lebih mengasihani Melisha padahal mereka tidak tahu apa-apa. Rangga tidak sabar menunggu surat pengadilan keluar untuk mengumumkan pada semua media bahwa ia dan Melisha tidak punya hubungan apa-apa lagi.
__ADS_1
Di dalam lift, Rangga terus mengenggam tangan sang istri dan mengelusnya.
Percayalah, Rania sedikit terusik dengan pembicaraan tamu Rangga di lobi, tapi apa daya semuanya memang benar, dia pelakor dan dulunya sebagai selingkuhan. Rania hanya bisa menelan pil kekecewaan demi menutupinya pada Rangga.
"Masih marah sama mas? Cemburu hm?"
"Tau," sahut Rania.
Keduanya sampai di ruangan Rangga. Ruangan yang lumayan rapi, tidak terlalu besar dan terlihat kuno sedikit.
"Duduk sayang, jangan berdiri mulu." Rangga mambimbing sang istri duduk di sofa.
"Mama, Papa lapar ih, kok belum di suapin makannya?" Rangga kembali manja pada Rania saat wanita itu melamun.
"Ah maaf mas, hehehehe."
Pletak
Sendok mendarat di kepala Rangga begitu saja. "Nak liat Mama, dia jahatin Papa mulu," adunya seraya melirik perut buncit Rania, seketika wanita itu tertawa sembari mengelus kepala Rangga.
"Refleks sayang, sini aku suapin biar kepalanya nggak sakit."
Dengan senang hati, Rangga langsung mendekat menunggu suapan cinta dari sang istri. Ah rasanya sangat menyenangkan manja dan dimanja oleh istri sendiri.
__ADS_1
"Gimana, suka?"
"Harus nanya lagi? Padahal jawabannya udah pasti," guman Rangga seraya mengunyah makanannya.
Tok ... tok ... tok.
"Permisi tuan saya boleh masuk?" tanya Lingga sekretaris Rangga.
"Masuk aja," sahut Rania lebih dulu. Wania itu sedikit mengeser duduknya agar sedikit menjauh dari Rangga.
"Kenapa?" tanya Rangga setelah Lingga berada di hadapannya.
"Pihak dari Angga group baru saja menghubungi saya Tuan. Mereka ingin bertemu untuk membicarakan kerjasama yang anda ajukan," lapor Lingga.
"Kapan?"
"Sore di luar jam kerja Tuan."
"Baiklah."
...****************...
Ekhem duh apa lagi ini? Siapa Anggara Group perusahaan bergerak di bidang apa tuh? Kok ngajak ketemu di luar jam kerja?
__ADS_1
Kira-kira CEOnya siapa?ðŸ¤
Ritual kembangnya jangan lupa💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹