Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 44 - Wasiat Nyonya Fania


__ADS_3

"Anda memanggil saya Tuan?" tanya seorang pria setelah sampai di ruangan CEO Fan Group.


Laki-laki tampan yang tak lain adalah Rangga langsung mendongak saat mengetahui pengacara yang mengurus surat wasiat ibunya sudah datang.


"Silahkan duduk!" perintahnya dengan suara dingin dan datar, beranjak dan ikut duduk berhadapan dengan sang pengacara.


Rangga sedang mengusahakan untuk memindahkan beberapa saham menjadi miliknya walau itu sangat sulit, karena wasiat sudah di tandatangani mendiang ibunya.


"Saya ingin tahu wasiat ibu saya yang sebenarnya, apa jika saya menceraikan Melisha semuanya akan baik-baik saja?" tanya Rangga.


Pengacara yang di ajak bicarapun terdiam, mengeluarkan map yang berisi warisan dari Nyonya Fania yang tak lain ibu Rangga. Pengacara itu menyerahkan berkas pada Rangga, kemudian menjelaskan secara rinci.


"Dari yang telah di sepakati mendiang nyonya Fania, jika Anda menceraikan nona Melisha maka saham perusahaan sebanyak 50% akan jatuh ketangannya, dengan kata lain nona Melisha menjadi pemegang saham terbesar. Karena milik Anda dan Tuan Edwin hanya 25%."


"Dan sebaliknya, jika Nona Melisha yang menceraikan Anda, maka saham 50% itu akan jatuh ke tangan Anda Tuan," jelas sang pengacara membuat kepala Rangga begitu pening.


Ternyata mengurus perusahaan tak semudah yang ia bayangkan. Terlebih selama ini ia belajar tentang makhluk hidup dan kesehatan.

__ADS_1


"Apa tidak bisa di ubah sama sekali? Misalnya harta gono-gini?" tawar Rangga.


Bukan serakah atau tak ingin berbagi, tapi Rangga tidak mau perusahaan peninggalan ibunya jatuh ketangan orang lain.


Selama ini alasan Rangga tak ingin menceraikan Melisha terlebih dahulu karena saham 50% itu. Jika ia menceraikan Melisha, maka ayahnya juga tidak punya hak penuh pada perusahaan lagi.


Rangga memijit pangkal hidungnya yang terasa nyut-nyutan. "Siapa saja yang tau tentang ini?"


"Nona Melisha dan Tuan Edwin sudah tahu ini sejak awal Tuan," jawab sang pengacara lugas.


Berhasil megundang kepalan tangan di balik meja.


Rangga sengat murka, ternyata benar dugaannya, Melisha bertahan bukan hanya mencintainya, tapi menginginkan kekayaan orang tuanya.


Rangga jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu sebelum dirinya menikah dengan Melisha.


Malam itu, Ibunya ada perjalanan bisnis dan kecelakaan saat perjalanan pulang. Karena mengalami kecelakaan parah, Fania di larikan kerumah sakit dan harus di operasi.

__ADS_1


Sayangnya, stok darah di rumah sakit sedang habis, dan golongan darah Rangga tidak cocok untuk ibunya.


Edwin dan Rangga kelabakan mencari pendonor untuk Fania, bahkan rumah sakit mengumumkan.


Bagi yang mempunyai golongan darah AB+ tolong merapat ke sumber suara jika ingin mendonorkannya. Orang yang bersedia akan mendapatkan imbalan yang lumayan besar.


Dan saat itulah Melisha muncul dengan senyuman menawarkan diri menjadi pendonor untuk Fania.


Operasi berjalan lancar, dan nyawa Fania selamat karena pertolongan dari Melisha.


"Terimakasih nak, sudah mau membatu istri saya," ucap Edwin kala itu sangat bersyukur nyawa istrinya terselamatkan.


Rangga? Laki-laki itu duduk di sudut ruangan, karena shok akan kabar ibunya.


"Sama-sama Tuan, mari saya pergi dulu," sopan Melisha dan melenggang pergi dari ruang rawat yang sangat mewah di rumah sakit.


Tak ada niatan di hati Melisha mengharapkan imbalan dari Edwin dan keluarganya, niatnya hanya untuk membantu.

__ADS_1


...****************...


Flashback Belum selesai ya, dan akan di lanjut di part selanjutnya😊


__ADS_2