Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 50 - Biji Buah Naga


__ADS_3

Sudah dua hari sejak Rangga menelpon Agas tengah malam. Laki-laki itu sengaja mematikan ponselnya untuk menjera Rangga karena selama ini tidak ada pergerakan untuk melindungi Rania.


Seperti janjinya pada Rania, Agas berangkat setelah pulang dari kampus, tak lupa membeli buah pesanan wanita itu.


Sekitar jam 5 sore, Agas sampai di rumah neneknya dan di sambut hangat oleh Rania yang sedang menyapu di teras.


"Kak Agas," sapa Rania langsung menghampiri Agas seperti kedatangan seorang suami, bedanya, Rania tak mencium tangan laki-laki itu hanya mempersilahkannya masuk, kemudian menyuguhkan segelas kopi hangat.


Nenek Nena ada pengajian bersama tetangga yang lain, dan akan pulang setelah shalat isya.


"Udah kayak nyambut suami aja," gumam Agas menyeruput kopi buatan Rania.


Laki-laki itu memandangi Rania yang berjalan menuju dapur.


Apa yang gue lakuin salah? Menjauhkan Rangga dari Rania?


"Kak Agas, makasih buahnya," ucap Rania tiba-tiba ikut duduk di hadapan Agas membawa nampang kecil berisi buah naga. Tak lupa ada pisau di sekitarnya.


"Nggak gratis."


"Huh?"


"Temenin gue ke pasar malam ntar. Malam minggu gini, selalu ada pasar malam."


"Tapi ...," ragu Rania.

__ADS_1


"Jadi nggak mau nih? Padahal gue udah rela bawain lo buah naga?"


"Ish, kak Agas nggak ikhlas, tapi nggak papa deh, tapi izin sama nenek dulu," pasrah Rania membuat Agas tersenyum.


Laki-laki itu kembali terdiam, memperhatikan aktivitas Rania yang terbilang aneh. Gadis itu membelah buah naga menjadi dua bagian, tapi belum juga di kerik isinya.


Dengan telaten, Rania memindahkan satu persatu biji yang sangat kecil itu kedalam wadah.


"Ran, itu bijinya bisa di makan," ujar Agas.


"Aku enneg liatnya kak," jawabnya.


Agas berpindah tempat, duduk di samping Rania, mengambil alih nampang, dan merebut buah di tangan Rania.


"Kotak untuk daging tanpa biji mana?" tanya Agas.


Sepeninggalan Rania, Agas dengan telaten memindahkan biji buah naga itu. Percayalah ini adalah hal tergabut yang pernah Agas kerjakan seumur hidupnya, mungkin jika biji semangka masih masuk akal, tapi ini?


Ia sungguh tidak percaya, keinginan wanita hamil selalu di luar nalar. Namun, Agas suka mengerjakannya, terlebih untuk Rania.


"Ini." Rania menyerahkan kotak persegi pada Agas.


"Mending lo diam aja, atau ngerjain sesuatu, biar gue yang selesain ini."


Tangan Rania yang sempat terulur, kembali di sembunyikan. "Kak Agas mau makan apa? Biar aku buatin untuk makan malam nanti."

__ADS_1


"Terserah, yang bisa kamu aja."


***


Agas menghampiri Rania di dapur dengan senyuman mengambang setelah tiga buah naga selesai di hilangkan bijinya.


"Ran gue taro sini ya, gue kedepan dulu!" pamit Agas.


Karena tak tahu mau melakukan apa, Agas tidur selonjoran di sofa sembari bermain ponsel. Banyak panggilan tak terjawab dari Rangga. Namun, ia tak mengubrisnya.


"Beri pelajaran dikit kayaknya seru nih," gumam Agas.


Diam-diam Agas mengambil foto Rania yang sedang memasak di dapur, membuat story di aplikasi hijaunya, tak lupa menprivasikan semua teman kontak selain Rangga.



Calon istri idaman🌹


Tawa agas pecah saat Rangga langsung melihat stroynya, membuat Rania yang berada di dapur heran.


"Kak Agas kenapa?"


"Aaahhh, gue nggak papa, cuma lagi nonton film lucu aja," jawab Agas dengan sisa ketawa yang ada.


"Masakannya dah jadi Kak, ayo makan dulu!" panggil Rania.

__ADS_1


"Bentar!"


...****************...


__ADS_2