Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 152


__ADS_3

Di penjara


Petugas lapas membuka jeruji besi mengiring para tahanan untuk olahraga pagi di lapangan yang telah di siapkan di sana.


Berbaur bersama para napi dari kasus ringgan hingga berat. Di saat-saat seperti ini Melisha hanya merenungi nasibnya di sudut lapangan seorang diri. Tak ada yang ingin berteman dengannya karena sikapnya yang arogan, bahkan lebih banyak yang membenci wanita itu.


Melisha sedikit tersadar akan apa yang ia lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan, hanya karena cinta yang besar untuk Rangga, membuatnya terobsesi untuk memiliki laki-laki itu.


Menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan cinta Rangga kembali. Namun, semua yang ia lakukan malah membuat Rangga semakin jauh padanya.


Hampir kehilangan suami dan cintanya karena wanita lain dan tak ingin rugi sendiri. Melisha mulai mengurusi warisan dan harta kekayaan mertuanya, apa lagi saat tahu 40% dari saham Fan grup akan jatuh ketangan anak Rania.


Di sanalah Melisha mulai hilang akal berniat membunuh Rania. Jika tidak bisa memiliki Rangga, maka setidaknya harta yang ia dapatkan.


Lamunan wanita cantik dengan rambut acak-acakan itu harus buyar karena kedatangan dua laki-laki gagah. Melisha terkejut mengetahuinya. Mereka dalah orang suruhannya dulu. Pria yang ia suruh menyabotase rem Rangga, juga pria yang ia bayar untuk membunuh Rania.


"Senang bertemu anda Nona," sapa pria pembunuh bayaran dengan seringai liciknya.


Laki-laki itu mengelus dagunya seraya meneliti tubuh Melisha dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Mau apa kalian?" takut Melisha.


Pria botak yang ia bayar untuk menyabotase rem Rangga, mencengkram dagu Melisha sangat kuat, hingga menimbulkan ringisan kesakitan dari Melisha.


"Karenamu aku harus di ceraikan oleh istriku!" geram laki-laki itu menghempaskan wajah Melisha kesamping.


Tak ada yang menyadari posisi mereka betiga karena berada sangat ujung, sementara petugas lapas hanya memperhatikan tahanan yang berkerumun.


"Karena kau, aku tidak bisa menyaksikan putri pertamaku lahir," kali ini pembunuh bayaran menarik rambut Melisha agar mendongak.


"Maafkan Saya, tolong jangan siksa saya!" Mohon Melisha langsung bersujud tepat di hadapa dua pria itu.


"Kau harus membayar semuanya!" geram Pria penyabotase.


"Hiks, tolong ampuni aku."


"Kita akan ampuni, tapi layani kita-kita dulu."


"Ma-maksud anda apa?"

__ADS_1


"Seret dia."


Pembunuh bayaran mengedarkan pandangannya memastikan bahwa petugas lapas sedang tidak berpatroli. Pria itu menyeret tubuh Melisha melewati kerumunan para tahanan.


Tak ada satu orangpun dari mereka yang berniat menolong, kalaupun ada tidak mungkin terang-terangan, jika hidup mereka tidak ingin bernasib sama.


Hidup dalam tahanan harus bersikap egois dan sedikit tega untuk bertahan hidup.


"Tolong!" teriak Melisha setelah tubuhnya di hempaskan kedalam toilet laki-laki.


Namun, kedua pria itu seakan tuli, dendam dan naf*su bangkit bersamaan dalam diri mereka apa lagi sudah sebulan tidak menyentuh perempuan.


Melisha terus memohon saat kedua pria itu akan memperkosa dirinya, ia takut. Sekuat tenaga Melisha memberontak walau itu sulit dan menyakiti tubuhnya. Terus berteriak meminta tolong.


Keberuntungan masih berpihak pada Melisha, sebelum semua pakaiannya di lucuti petugas lapas datang dan langsung mengamankan kedua pria itu.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2