
Rangga mengusap wajahnya kasar, menyandarkan tubuhnya pada sandarakan kursi seraya memejamkan matanya. Jangan mengira ia tidak terusik dengan perkataan sang istri tadi pagi yang mengatakan terus mendapat pesan dari seseorang.
Baru saja ia selesai mengurus tentang siapa yang menyabotase mobilnya, ia harus di hadapkan dengan masalah lainnya.
Deringan ponsel di atas meja membuat Rangga membuka mata dan menjawabnya, telpon itu daru sekretarisnya.
"Kenapa?"
"Polisi baru saja menghubungi saya Tuan, dia mengatakan orang yang telah menyabotase mobil Anda di bebaskan karena jaminan seseorang."
"Shitt," umpat Rangga. "Siapa?"
"Polisi tidak ingin menyebutkan namanya."
"Baiklah."
Rangga kembali meletakkan ponselnya di meja. Sekarang ia benar-benar sibuk mengurus perusahaanya yang perlahan-lahan naik setelah memasuki periklanan perusahaan Anggara Group. Tamu yang biasa hanya satu persatu kini mulai ramai.
Beberapa kamar sudah selesai di renovasi, juga bagian lobi dan restorannya masih tahap perbaikan. Tidak ada masalah dengan perusahaanya sekarang.
Karena tak bisa mengurus sesuatu secara bersamaan, dan tidak terlalu mengenal orang-orang di dunia hitam, Rangga memutuskan untuk menghubungi sahabatnya yang selalu siap siaga apapun yang ia minta.
__ADS_1
Baru saja menelpon, sambungan sudah terhubung.
"Halo bro lama nggak ketemu, dengar-dengar perusahaan lo mulai ramai di perbincangkan. Ck, nggak nyangka gue, lo punya jiwa bisnis juga," ujar Agas setelah sambungan terhubung.
"Demi anak dan Istri Gas," sahut Rangga.
Tawa di seberang sana terdengar. "Iyalah, lo kan nggak mau kalau gue ngambil dia karena lo sia-sian."
"Jangan mancing, gue nggak mood bercanda."
"Oke ... oke ... terus tujuan lo nelpon gue kenapa? Kangen? Ya gue tau lo pasti butuh bantuan gue lagi. Taiklah datang pas butuh doang lo! Tapi nggak papa karena gue sabahat terbaik yang pernah lo punya, fain-fain aja sih."
"Napa sih?"
"Gue mau minta tolong lacak semua nomor yang baru saja gue kirim ke elo. Satu bulan terakhir katanya Rania terus dapat pesan ancaman terus."
"Bukan ulah mantan istri lo kan? Mobil lo apa kabar pelakunya?"
"Pelakunya udah bebas karena ada yang nebus, kata polisi juga kasusnya nggak berat-berat amat cuma orang iseng di parkiran, tapi gue yakin tuh orang ada yang nyuruh dan ada sangkut pautnya sama pesan-pesan yang di dapat Rania. Gue juga curiganya Melisha, tapi nggak punya bukti."
"Nanti gue nyuruh teman buat lacak. Moga-moga aja itu emang Melisha pengen tak bawa kehotel rasanya," ujar Agas.
__ADS_1
Agas memang berbeda dengan Rangga walau memang mereka sahabatan, laki-laki itu mempunyai banyak teman-teman di luar batas wajar karena semasa sekolah dulu masuk geng-geng an berbeda dengan Rangga yang sibuk belajar, bergaulpun jika Agas yang memanggil dirinya.
Dan Agas tahu siapa yang harus ia suruh untuk melacak semua itu.
"Bawa aja sih masih perawan itu."
"Anjir, serius lo dia masih perawan? Lo nggak ada tergodanya gitu selama nikah?"
"Nggak, nggak bangun malah."
"Dahla mau heran tapi ini lo hobinya nyari dosa mulu. Dulu ada yang halal, muasinnya di club."
"Gue udah tobat sekarang, udah ada istri dan anak."
"Heh lo kira dulu lo punya apa? Babi?" kesal Agas, sekarang tobat karena punya istri, jadi selama ini Rangga menggap Melisha apa? Bahkan sahabatnya itu rela jajan di dunia malam daripada harus menyentuh istrinya sendiri.
"Beda Gas, sekarang gue cinta sama istri gue, nggak mungkin dong nyari pelampiasan di luar."
...****************...
Ritual tebar kembangnya jangan lupa ya💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹, komen yang banyak juga
__ADS_1