
Setelah semua pekerjaanya selesai dan Rangga sudah pergi, barulah Rayna dan Relia mengunjungi kamar mbaknya, mengetuk pintu sebelum masuk.
"Mbak, Ina boleh masuk nggak?" izinnya.
Karena kamar itu kedap suara dari dalam, Rania tak menyahut melainkan langsung membuka pintu kamar, tersenyum pada adik-adiknya.
"Boleh masuk aja, kalian butuh sesuatu?" tanya Rania mempersilahkan adik-adiknya masuk kemudian kembali menutup pintu.
Relia langsung duduk di sofa, sementara Rayna dan Rania duduk di pinggi ranjang.
"Mbak kenapa? Mata mbak tadi pulang-pulang sembab."
"Oh ini, mbak terharu pas periksa sama mas Rangga." alibi Rania
"Emang cuma itu? Kok Ina nggak yakin ya. Tapi itu hak mbak sih mau cerita atau nggak." Rayna merentangkan tangannya. "Sini peluk Ina."
Rania tersenyum, langsung memeluk Rayna sangat erat, beruntung ia masih mempunyai dua adik yang selalu menyayangi dirinya.
"Ish, Lia nggak di ajak." Lia langsung menerobos ikut berpelukan dengan kakaknya.
Ketiganya tertawa karena merasa lucu sendiri dengan tingkah mereka. Rania terlebih dahulu melerai pelukan itu. Menatap adik nya satu persatu.
"Kalian ada tau tentang ibu?" tanya Rania. "Misalnya ibu dari mana, kampungnya dimana?"
Ya, Rania memang tidak tahu ibunya Winarti berasal dari mana. Mereka tidak pernah pulang kampung ke halaman ibunya.
Kedua adik-adik Rania terdiam, saling melirik seperti menyembunyikan sesuatu, mereka juga baru tahu fakta yang sebenarnya saat Relia di suruh mencari baju bapaknya saat Rangga berkunjung ke kampung.
"Rayna, Relia!"
"Ah ya Mbak, itu kita ...."
__ADS_1
Ceklek
"Sayang ... Eh ada kalian, lanjut aja, aku tunggu di luar," ucap Rangga yang baru saja membuka pintu, hendak menutupnya kembali setelah mengetahui iparnya ada di dalam.
"Masuk aja bang, kita udah mau keluar kok. Mbak kita ke kamar dulu ya," pamit Rayna menarik Relia pergi.
"Pokoknya mbak nggak boleh tau dulu, gimana kalau dia sedih?" bisik Rayna setelah berada di luar kamar.
"Iya Mbak, takutnya ponakan kita juga kena imbasnya."
***
Rangga langsung meletakkan tas yang barisi berkas-berkas yang baru saja ia ambil di hotel. Mulai hari ini, Rangga akan fokus bekerja untuk mengembangkan hotelnya walau dengan pengetahuan pas-pasan tentang dunia bisnis.
"Udah lebih baik?" tanya Rangga menarik tengkuk Rania untuk mengecup kening wanitanya.
"Udah mas, gimana pekerjaan, lancar?" tanya Rania balik membantu Rangga melepas dasi juga kancing kemeja sang suami, kemudian meletakkan di keranjang kotor.
Rangga terlebih dulu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, takut ada kuman yang menepel dan malah menganggu sang istri juga bayinya.
"Mas Rangga udah makan?"
"Belum sayang," sahut Rangga.
Tak ada lagi balasan dari Rania, wanita itu berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuat sesuatu buat suaminya.
Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan angka 7.
"Mbak mau masak? Aku udah masak tadi, tapi nggak tau bang Rangga suka atau nggak."
"Dia nggak pemilih kok asal jangan seafood," jawab Rania.
__ADS_1
"Nggak ada kok mbak, mau Ina panasin?"
"Nggak usah biar mbak aja, kamu belajar gih, urusan rumah biar mbak aja."
Karena Rayna sudah memasak sesuatu, Rania tinggal memanaskannya saja dan menyajikan di atas meja. Baru saja akan memanggil Rangga, laki-laki itu sudah datang.
"Wangi deh," puji Rangga langsung duduk di samping sang istri.
Rania senyum-senyum sendiri, mengambil nasi dan memberikan pada Rangga. Menunggu respon laki-laki itu setelah mencicipi makanannya.
"Enak, tapi bukan kamu yang buat."
"Kok tau?"
"Rasanya beda sayang," jawab Rangga melanjutkan makanannya.
Mau sebanyak apapun makanan di hadapanya, Rangga bisa membedakan mana masakan sang istri dan yang bukan. Ada ciri khas tersendiri jika Rania yang memasak, rasanya lebih gurih, enak dan tentu saja ada cinta dan ketulusan di dalamnya.
"Aaa ... Mama juga harus makan dong." Rania membuka mulut menerima suapan dari Rangga.
"Mas, kalau aku tiba-tiba manja, mas ilfeel nggak sama aku?"
"Suka malah, mas suka kalau kamu manja, apa lagi nawarin tiap malam. Eh tapi jangan deh, nggak baik keseringan kalau masih di usia gini, nanti jalan 7 keatas mas Gas."
Uhuk
Rania langsung tersedak makanannya sendiri, apapun topiknya otak Rangga akan sampai kesanan, padahal tidak ada hubunganya sama sekali.
"Sabar sayang, mas pasti ngasih jatah."
"Mas, ish." Wajah Rania memerah.
__ADS_1
...****************...