Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 112 - Ubi Bakar Gosong


__ADS_3

"Mas mau kemana?" Rania mengekori suaminya yang telah rapi dengan pakaian santai, juga sudah wangi sehabis mandi sore.


Lelaki yang di tanya hanya menoleh sebentar dan melanjutkan langkahnya menuju nakas untuk mengambil kunci mobil. Apa istrinya lupa ingatan? Bukankah wanita itu yang menyuruhnya keluar untuk membeli sesuatu?


"Kan kamu yang nyuruh beli ubi bakar gosong sayang," jawab Rangga.


"Oh iya, lupa. Hati-hati mas."


Rangga mengulurkan tangannya seperti biasa, setelah Rania mencium punggung tagannya barulah ia mengecup kening wanita itu.


"Mas jangan lupa Rayna dan Relia di jemput ya, kayaknya mereka udah pulang!" pinta Rania ikut kedepan untuk mengantar sang suami. Padahal Rangga bukan berangkat kerja, melainkan belanja sesuatu.


"Nggak mau," jawab Rangga membuka pintu mobil dan naik begitu saja tanpa memperhatikan wajah cemburut Rania yang sangat mengemaskan.


"Kok gitu sih mas? Kejam banget sama ipar sendiri, padahal mas bakal lewatin sekolah mereka."


"Ya udah ikut kalau gitu."


"Nggak mau, aku udah ganti baju, malas keluar juga."


"Kalau gitu jangan nyuruh mas." Rangga urung menyalakan mesin mobil saat ponselnya berdering, ia melirik sebentar, dan tak ada niatan untuk menjawabnya sama sekali.


Melihat itu Rania jadi kepo sendiri, memiringkan kepalanya kedalam mobil untuk tahu siapa gerangan yang menelpon hingga raut wajah Rangga berubah drastis.


"Siapa mas? Kok nggak di jawab?"


"Asisten Ayah, bukan orang penting."


***

__ADS_1


Rania mengeleng tak percaya melihat kedatangan suaminya. Benar-benar keras kepala, sekali bilang tidak tetap tidak. Lihatlah baru saja mobil yang di kendarai Rangga terparkir Rapi di garasi, adik-adiknya juga turun dari taksi. Sungguh pemborosan bukan?


"Maaf ya mbak, hari ini Ina telat pulang banyak tugas soalnya," ujar Rayna langsung mencium punggung tangan Rania yang kini berdiri di teras depan.


"Aku juga mbak," sahut Relia melakukan hal yang sama.


"Nggak papa, asal nggak gelap pulangnya," ujar Rania.


Kedua adik-adiknya mengangguk dan langsung masuk ke rumah, sementara dirinya menunggu sang suami mendekat dengan kantong di tangannya.


Wajah Rania berseri-seri saat aroma ubi bakar menyengat di indera penciumannya.


"Makasih mas sayang." Ia mengecup pipi Rangga sekilas, lalu berjalan kedapur untuk menyiapkan ubi pesanannya.


Benar-benar ubi gosong, di permukaan kulitnya tak ada yang tak menghitam. Rangga hanya tersenyum melihat senyuman bahagia sang istri, ikut duduk di meja makan.


"Biar mas kupas."


Rangga mengangguk mengerti, tak ingin berdebat dan menganggu kesenangan sang istri. Setelah semuanya selesai di kupas, bukannya di makan, Rania malah memotong-motongnya sangat kecil lalu menyodorkan pada Rangga.


"Buku mulutnya mas!" perintah Rania.


"Lah kok mas?" heran Rangga menunjuk dirinya sendiri. Ayolah ia tidak suka ubi-ubian apa lagi di bakar dan gosong seperti itu. Bagaiaman rasanya? Pasti tidak enak.


"Aku pengen liat mas makan ubi ini. Pengen banget mas," rengek Rania.


"Sayang, mas bisa lakuian apa saja tapi nggak sama ...."


"Ya udah."

__ADS_1


"Eh ... iya ... iya mas makan, duduk jangan ngambek." Rangga menarik Rania agar tetap duduk, bisa berabe urusannya. Mereka baru saja baikan. Masa hanya karena makana ia harus bertengkar lagi.


"Ambekan banget sih nih bumil," gumam Rangga.


"Ngomong apa mas?"


"Enak, bangeeettt." Bohong Rangga.


Atensi keduanya teralihkan pada ponsel yang terus berdering menganggu aktivitas keduanya. "Kak Melisha? Ngapain nelpon mas?" tanya Rania penuh selidik.


"Nggak tau. Udahlah ngapain di urusin juga."


Di luar espektasi, Rania langsung mengambil ponsel Rangga dan menjawab panggilan dari mantan istri suaminya itu. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara, kali ini ia harus tegas. Semua orang sudah tahu bahwa ia istri Rangga, dan tidak ada salahnya jika ia marah saat Melisha menelpon suaminya kan?


"Ada apa kamu telpon suami saya?" tanya Rania setelah lama terdiam.


"Dimana mas Rangga? Kenapa kamu yang jawab telponnya?" tanya Melisha balik dengan nada sedikit ketus.


"Mas Rangga? Dia suami saya, dan hanya saya yang berhak panggil dia Mas."


"Rania jala*ng!" teriak Melisha hingga membuat Rania menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


Rangga? Laki-laki itu diam memperhatikan, sekarang ia takut melerai, takut salah di mata Rania lagi.


"Iya, kenapa Jala*ng?"


Byur


Air di mulut Rangga menyembur mendengar jawaban Rania. Laki-laki itu tertawa sangat renyah. Ah ia suka Rania yang seperti ini.

__ADS_1


...****************...


Tebar kembang jangan lupa💃💃💃


__ADS_2