Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 111 - Aku Cemburu!


__ADS_3

Bohong, apa yang di katakan Rania saat di mobil pada Rangga semuanya bohong, lihatlah wanita berbadan dua itu tidak menepati janjinya pada Rangga.


Setelah sampai di rumah, jangankan memasak, mengajak Rangga berbicara saja engang. Tak ada masalah untuk Rania, hanya saja ia cemburu pada wanita di masalalu Rangga.


Wanita itu kini duduk di kursi kebun belakang rumah, menikmati angin sore dengan segelas susu juga cemilan di pangkuannya.


Tak ada embel-embel hp di tangan Rania melainkan buku-buku kedokteran yang kebetulan ada di tasnya saat pergi dari rumah Nenek Nena. Wanita itu sangat ingin ke sana, ia juga sudah mengajak Rangga dulu, tapi apa daya suaminya masih sangat sibuk.


Meski di cueki oleh Rania, laki-laki itu tak ada putus asanya mendekati lagi dan lagi. Rangga ikut duduk di samping Rania, menatap wanita itu sangat dalam dengan raut wajah yang sangat mengemaskan.


"Sayang?" rengek Rangga.


Rania melirik, langsung menutup buku di tangannya. "Kenapa?"


"Kok gitu jawabnya? Biasa panjang lebar, kamu masih marah sama mas?"


"Terus aku mau nanya apa? Kan manggil, udah seharusnya dong aku tanya 'Kenapa?' " jawab Rania.


"Apa sayang. Biasanya nyahut gitu."


Rania langsung beranjak. "Gitu aja kok repot banget," gerutu Rania meninggalkan Rangga di kebun belakang.


"Sayang aku lapar!" teriak Rangga.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk membuat sesuatu untuk Rangga, lagi pula sebentar lagi adik-adiknya pulang, pasti mereka lapar setelah beraktivitas di luar sana.


Grep


"Udah dong ngambeknya," ujar Rangga memeluk Rania dari belakang, menumpu dagunya di pundak sang istri, sesekali maju untuk mengendus ceruk bagian depan Rania.


Tangan kekar Rangga tentu saja tidak tinggal diam, mulai nakal meremas sesuatu di balik daster tipis Rania.


"Jangan ganggu mas," tegur Rania.


"Udah dulu ngambeknya."


"Iya udah."


"Udah nggak marah."


"Bohong."


"Mas Rangga!" tegur Rania, hampir saja ia mendesah karena kelakuan laki-laki itu. Rania berbalik menatap sang suami.


"Umur aja yang muda, penjelajahannya ada di mana-mana, gimana tuh rasanya ganti lobang tiap hari? Enak dong, puas banget pasti merasa paling jago. Bangga banget di pamerin sama teman-temannya 'Nih gue dong tiap hari nidurin perempuan, makanya jadi tampan' Halah belum kenal penyakit," cibir Rania meluapkan semuanya.


"Pasti puas banget nggak di batasin ini itu karena banyak uang."

__ADS_1


"Kamu cemburu?" Rangga mengulum senyum, sekarang ia baru sadar akan satu hal, sepertinya wanita yang sedang mengandung anaknya tengah di liputi api cemburu karena masa lalu.


"Iya! Baru peka?" jawab Rania tak jadi memasak apapun, masuk ke kamar dan menutupnya.


Kenapa Rangga selalu memacing emosinya? Hari ini laki-laki itu selalu salah di mata Rania apapun yang di lakukan.


Rania meringkuk di atas tempat tidur, menangis tanpa sebab padahal semuanya udah selesai, Rangga sudah jujur tentang masalalunya dan sudah meminta maaf. Tapi ia masih sakit hati, dan kecewa. Rasanya membayangkan Rangga meniduri dan mengagahi wanita lain selain dirinya sangat sakit. Ia cemburu, buka ia yang pertama. Sementara Rangga selalu pertama untuknya.


Cinta, tubuh, pacar. Semuanya Rangga dapatkan untuk pertama kalinya.


"Udah ya ngambeknya, udah nangisnya sayang. Mas salah kalau buat kamu cemburu. Kamu mau apa hm? Biar mas kabulin."


"Aku mau ubi bakar gosong, mas dulu nggak beliin, alasan di suruh cepat pulang. Bilang aja nggak sayang sama aku sama anak kita juga. Toh kalau aku marah dan nggak dapat jatah juga nggak masalah, bisa tuh jajan di luar. Udah banyak uang dan tampan, mudah banget dapat wanita."


"Ck." Rangga berdecak, langsung menarik Rania agar bangun dan duduk menghadapnya, jadilah mereka saling tatap di atas ranjang.


"Udah? Sekarang mas yang mau ngomong serius. Mas nggak suka di bantah, mas emosian jangan sampai lepas kendali dan bentak kamu. Mas minta maaf, udah di maafin kan? Tapi kok sikapnya gini? Dosa sayang diemin suami, nuduh suami yang nggak-nggak. Berapa kali mas tekankan, mas udah berubah sejak kenal kamu. Setelah ngambil kesucian kamu malam itu, mas nggak pernah main lagi sama siapapun. Wajah kamu selalu ada di bayang-bayangan mas setiap kali akan tergoda. Bukti kalau kamu itu ada di hati mas Rania, di alam bawah sadar mas sekalipun itu cuma ada kamu. Kamu!"


Rania membeku, pertahanannya runtuh, ia luluh begitu saja, langsung memeluk sang suami. "Maaf, tapi aku beneran cemburu."


"Di maafin, tapi jangan gini lagi, mas nggak suka yang. Mas nggak bisa di diemin sama kamu, rasanya mas nggak punya semangat hidup.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tebar kembang dan pencet votenya๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ. Komen dan like juga.


__ADS_2