Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 41 - Nenek Nena


__ADS_3

Lama Agas membujuk Rania, meyakinkan wanita itu akan selalu aman di bawah pengawasanya. Awalnya Rania menolak dan tetap keras kapala ingin pergi sendiri. Namun, Agas tetap memaksa hingga wanita itu nurut padanya.


Bukan karena Agas egois, tapi ia tidak ingin Rania hidup di kota orang tanpa siapapun, terlebih Rania sedang hamil muda.


Keduanya sampai di rumah neneknya Agas sekitar jam sembilang malam, dan Rania sudah tertidur mungkin karena lelah. Tak enak membangungkan wanita itu. Agas meninggalkannya seorang diri di mobil.


Laki-laki tampan berahang tegas itu mengetuk pintu rumah sederhana yang tak lain milik neneknya, ibu dari ibunya.


"Nenek, udah tidur?" ucap Agas sedikit berteriak, hingga sosok wanita dengan wajah keriput karena di makan usia membuka pintu.


Wanita itu tersenyum, dengan tangan bergetar ia meraih rahang tegas Agas. "Ya ampun Agas, ini beneran cucu nenek kan? Kemana aja kenapa baru pulang?" ucapnya.


Agas ikut tersenyum, memeluk wanita tua itu. "Iya ini Agas nenek. Maafin Agas, mama sama Papa karena jarang pulang. Nenek baik-baik aja kan?"


"Nenek baik-baik aja, ayo masuk nak." Agas mengikuti langkah neneknya masuk kerumah sederhana itu, ikut duduk di sofa.


Saat wanita itu ingin beranjak, Agas langsung menahannya, ia dapat menebak, neneknya akan menyiapkan minuman dan Agas tidak perlu itu.


"Mama sama Papa kamu kapan kesini nak?"


"Mereka masih sibuk Nek. Nenek yang di suruh ke rumah juga nggak mau. Oh iya Agas bawa teman kesini, nggak papa kan?" Agas mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Teman? Terus teman kamu kenapa nggak masuk? Dimana dia?"


"Tidur di mobil Nek. Teman Agas perempuan, rencananya mau nitip di sini nemenin Nenek. Dia istri teman Agas, lagi hamil tapi ada masalah sama suaminya, nggak papa kan?"

__ADS_1


Agas meringis, memperhatikan raut wajah penuh keriput di hadapannya, ia takut mendapat penolakan dari wanita tua keras kepala di depannya.


"Mau tinggal di sini? Sampai kapan?" tanya nenek Tua itu.


"Rencananya gitu, nggak tau sampai kapan."


"Bukan pacar kamu?"


"Bu-bukan Nek, Agas belum punya pacar!" Sanggah Agas.


"Nenek." Agas memelas. "Boleh ya, dia orangnya rajin dan baik kok."


"Baiklah!"


"Ah, nenek memang baik cantik lagi," puji Agas mengecup pipi neneknya. Ia beranjak dari duduknya dan kembali kedapan untuk menemui Rania.


"Kamarnya dimana?"


"Kamar yang tengah, kebetulan baru Nenek beresin tadi."


Agas hanya mengangguk mengerti, membopong tubuh Rania masuk ke kamar di ikuti nenek tua itu.


Membaringkan tubuh Rania sepelan mungkin agar tidak terbangun.


"Tidur yang nyenyak bumil," gumam Agas sebelum menutup pintu kamar.

__ADS_1


Nenek Agas yang bernama ibu Nena itu tak ikut keluar dari kamar, melainkan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Rania yang seperti kedinginan.


"Dari raut wajahnya, sepertinya banyak nanggung beban," ucap Bu Nena mematikan lampu kamar.


Wanita tua itu menatap cucunya penuh selidik yang kini tidur selonjoran di sofa. "Nenek bukan wanita tua bodoh ya, kamu suka kan sama istri teman kamu itu?" tuduh bu Nena.


"Si-siapa bilang? Agas nggak suka, cuma mau nolongin aja," gugupnya.


"Kamu juga mau tinggak di sini?"


"Nggak nek, Agas besok pulang. Agas titip Rania."


"Masuk kamar dan tidur, awas nenek liat kamu nyusup ke kamar .... siapa tadi namanya?" tanya bu Nena.


"Rania Nenek sayang," gemes Agas.


"Nenek panggil Nia aja kalau gitu, kepanjangan."


"Dasar nenek tua pikun," ledek Agas.


"Agas, nggak boleh gituin orang tua!" tegur Nena.


"Canda nenek sayang." Agas mengecup pipi Nena sebelum masuk ke kamar paling belakang.


Rumah yang di tempati wanita itu tidak bertingkat, tetapi mempunyai 3 kamar. Kamar yang di tempati Rania malam ini, adalah milik ibu Agas dulu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2