
Senyuman Rania belum juga hilang setelah kembali dari kamar Rayna dan Relia, respon kedua adiknya sangat lucu dan ia tidak sabar untuk memberitahukan sang suami. Rania duduk tepat di samping Rangga yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Gitu dong senyum kan cantik bumilnya Rangga," ujar Rangga mengacak-acak rambut Rania.
Sementara wanita itu hanya tersipu, menyandarkan kepalanya di dada sebelah kiri Rangga.
"Tau nggak mas respon mereka apa pas aku bilang 'Ina, Lia kalian di panggil sama mas Rangga' "
"Apa emangnya?"
"Kita ada salah ya Mbak, padahal udah ngerjain pekerjaan rumah tadi. Jawabnya gitu mas." Rania tertawa, apa lagi saat mengingat ekspresi kedua adiknya
Ternyata Rayna dan Relia takut pada Rangga, padahal suaminya sangat baik dan ramah. "Wajar sih mereka takut, wajah mas galak nggak kayak sifatnya. Auwww ...." Rania mengusap hidungnya karena sentilan Rangga.
"Wajah mas tampan ya, nggak garang," ralat Rangga.
Pembicaraan keduanya terhenti karena kedatangan kedua gadis belia yang memasang wajah panik, apa lagi saat Rania memanggil tanpa memberitahu alasannya.
"Benar kan mas?" tawa Rania kembali terdengar, entah kenapa moodnya malam ini sangat baik, apa-apa pasti tertawa.
"Jangan tambah buat mereka takut Ran," tegur Rangga. "Ayo duduk ngapain berdiri di situ? Kayak orang lain aja," lanjutnya.
Keduanya langsung duduk berhadapan. Rania sedikit menyingkir dari tubuh Rangga, baru sadar posisinya terlalu intim dan mesra.
__ADS_1
Rangga mengeluarkan beberapa Lembar browsur dan meletakkanya di atas meja, itu ia temukan saat keluar tadi.
"Lia, coba liat-liat dulu, sekolah yang menurut kamu bagus," perintah Rangga.
"Mbak Nia!" kesal Rayna, ekpresi paniknya berubah cemberut. Ternyata Rania mengerjai dirinya.
"Kalian juga, baru di panggil udah nrgatif aja."
"Ini beneran bang, mbak? Lia bakal sekolah lagi?" tanya-nya tak percaya, ia mengira sekolahnya harus kandas.
"Coba pilih salah satunya, tapi kalau menurut Mas sama Rania yang tiga paling atas itu," sahut Rangga menunjuk browsur paling atas.
Tanpa menunggu waktu, Relia langsung mengambil dan meneliti 3 browsur itu. "SMA Angkasa, SMA Nuri, dan SMA Nusantara," lirihnya, ia menatap Rania dan Rangga. "Abang dulu sekolah di mana?"
"Kalau abang lulusan SMA Angkasa," jawab Rangga.
"Kalau Mbak bakal pilih ini," celetuk Rayna langsung mengambil brosur berwarna gold hitam, bertuliskan SMA Angkasa, entah kenapa itu begitu keren di matanya.
"Kalau mbak sih yang ini." Rania ikut menarik brosur berwarna biru bertuliskan SMA Nusantara.
Rangga terkekeh geli, pilihan istrinya memang tak pernah salah sebagai orang pintar, dan pilihan Rayna juga tidak salah sebagai gadis bar-bar. Rangga memeluk sang istri dari samping.
"Baiklah, mas bakal jelasin ketiga sekolah itu daripada nanti salah pilih." Sebenarnya jika berbicara dengan adik-adik Rania Rangga sedikit bingung menempatkan posisinya, antara memanggil dirinya abang atau Mas. Jadi panggilan pada dirinya sendiri sering berubah-ubah.
__ADS_1
"Mas lulusan SMA Angkasa, di sana tuh perkumpulan para cowok tampan. Contoh mas misalnya." Narsis Rangga menyugar rambutnya kebelakang di sambut kekehan kecil dari ketiga perempuan itu. "Tapi rata-rata cowok tampannya anak geng motor, sekolah di sana di jamin seru. Kalau SMA Nusantara sekolah penuh ambisi, perkumpulan anak-anak pintar, setiap semester pasti ada saja perlombaan kepintaran antar kelas. Intinya siap di tuntut untuk pintar dan nilai di atas rata-rata. SMA Nuri sekolahnya juga bagus, sayangnya cuma mihak orang berkuasa, walau yang berkuasa salah, mereka akan membenarnya."
"Menurut Lia suka yang mana?"
"Fiks kalau aku sih SMA Angkasa," celetuk Rayna, impiannya dari dulu adalah sekolah di sekolah yang ada anak geng motornya.
"SMA Angaksa aja kalau gitu bang," cengir Lia.
Kini tatapan Rangga tertuju pada Rayna. "Coba cari kampus yang menurut kamu bagus, bentar lagi penerimaan mahasiswa baru, mas belum sempat nyari."
"Ak-aku kuliah? Serius bang, mbak?" Mata Rayna berkaca-kaca mendegar itu semua.
"Beneran, Mas Rangga mau kalian nyelesain pendidikan, jadi jangan sia-sia in ya," sahut Rania di balas anggukan oleh keduanya.
"Peluk!" Kedua gadis beli itu merentangkan tangan. Namun, urung karena ucapan Rangga.
"Nggak ada peluk-peluk, istri mas ini." Rangga terlebih dahulu memeluk Rania dari samping dan mengecup puncuk kepalanya.
"Mas, malu ih."
"Ngapain malu, mereka udah tau kita udah nikah kan? Lagian cuma meluk sayang."
...****************...
__ADS_1
Hayo ada yang tau nggak ketiga sekolah di atas, pembaca Setia Otor pasti tau, apa lagi SMA Angkasaš¤.
Jangan lupa lempar kopi dan taburkan mawar yang banyak biar wangiš .