Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 141


__ADS_3

Mendengar kabar perceraian putra dari keluarga Fan, membuat pengacara yang menangani warisan keluarga Fan berkunjung ke Mansion untuk menyelesaikan semuanya, hingga dia tidak lagi menanggung beban yang begitu besar.


Dan di sinilah mereka berkumpul di ruang tamu mansion mines Melisha yang sudah masuk ke jeruji besi pagi tadi karena dokter sudah mengonfirmasi bahwa wanita itu sudah baik-baik saja.


Rangga tak henti-hentinya mengelus tangan sang istri yang akhir-akhir ini sering mengeluhkan sakit pinggang sedikit demi sedikit.


"Ayah mau duduk di sofa juga?" tanya Rania pada Edwin, tapi di jawab gelengan oleh pria itu.


Edwin lebih nyaman di kursi roda, lagi pula akan menyusahkan orang lain jika pindah-pindah tempat di saat kakinya tidak bisa di gerakkan.


"Kalau boleh tau kenapa anda meminta kami untuk berkumpul? Bukannya semua sudah jelas, dan kami percaya itu. Anda bisa langsung mengurus pemindahan saham sesuai yang tertera pada surat wasiat," ujar Rangga memulai pembicaraan mewakili sang ayah.


"Maaf sebelumnya Tuan Edwin, dan Tuan Rangga. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan ini," sesal pengacara keluarga Fan.


"Maksud Anda apa?" heran Rangga.

__ADS_1


"Begini Tuan, wasiat beberapa bulan yang lalu yang saya perlihatkan ada sedikit kekeliruan, saya melupakan satu kalimat lagi. Saya juga sudah memberitahu Nona Melisha tentang keteledoran saya."


"Ck, tidak perlu bertele-tele, langsung inti saja, istri saya ingin istirahat." Suasana hati Rangga tiba-tiba memburuk saat nama Melisha di sebut. Ia sangat membenci nama itu.


Pengacara itu menelan salivanya dengan susah sebelum berucap. "Saya akan membacakan wasiat sekali lagi." Pria itu menjeda. "25% saham perusahaan jatuh ketangan Tuan Edwin begitupun dengan Tuan Rangga. Sisa sahan 50% akan jatuh ketangan nona Melisha karena di ceraikan oleh Tuan Rangga, tapi ...."


Alis Rangga saling bertaut menunggu kelanjutan kalimat pengacara keluarganya.


"Tapi Nona Melisha bisa mendapatkan itu semua jika memiliki seorang anak yang merupakan pewaris Fan Group. Karena 40%, saham untuk penerus Fan Group."


"Benar Tuan, dan Nona Melisha sudah tahu ini."


Tanggan Rangga terkepal hebat, sekarang ia tahu apa motif Melisha ingin membunuh Rania dan Anaknya. Apa lagi jika bukan karena saham 40% itu. Ternyata ibunya tidak pilih kasih, ibunya memikirkan anaknya.


Dan alasan Melisha mengompori Edwin tentang bayi yang di kandung Rania bukan darah daging Rangga, agar wanita itu tidak mendapatkan warisan karena mengandung keturunan keluarga Fan.

__ADS_1


"Karena Nona Rania sedang mengandung, makan Nona Rania berhak untuk mendapatkannya. Boleh bubuhkan tanda tangan Nona sebagai persetujuan pemegang saham, dan ikut berpartisipasi dalam perusahaan mewakili bayi Anda!" pinta sang pengacara.


Rania bergeming, mentap Rangga yang juga menatap dirinya dengan senyuman. Laki-laki itu mengangguk sebagai tanda persetujuan. Namun, Rania urung menandatanginya, ia merasa tidak berhak mendapatkan itu semua.


"Maaf pak, saya tidak berhak untuk itu, jika itu memang milik anak saya nanti, maka serahkan semuanya pada mas Rangga sebagai suami saya. Saya hanya seorang istri, tidak sepatutnya mencampuri urusan seperti ini," tolak Rania halus menyerahkan semuanya pada Rangga.


"Sayang, itu punya kamu."


"Nggak mas, yang paling berhak disini adalah mas, bukan aku," jawab Rania.


"Sosok Fania kembali hadir di Mansion ini dengan versi yang berbeda," batin Edwin memperhatikan Rangga dan Rania yang sedang adu argumen.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1



__ADS_2