Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 133


__ADS_3

Rangga menghembuskan nafas panjang setelah berada di depan gedung tinggi yang sangat menyeramkan. Untung saja ia bisa lolos dari pertanyaan-pertanyaan ibu hamil yang tak mengizinkannya pergi dengan dalih perasaanya tidak enak.


Laki-laki itu melangkahkan kakinya memasuki gedung. Gelap, itulah yang pertama Rangga dapati, padahal di luar, matahari sangat terik. Membutuhkan usaha keras hingga ia bisa sampai di lantai paling atas tempatnya janjian.


Di sana banyak anak muda seumuran Relia sedang berkumpul, beberapa dari mereka menghembuskan asap rokoknya, salah satunya adalah Arga yang ia tahu anak dari pak Alvi.


Apa orang tua laki-laki itu tau bahwa anaknya seberandal ini? Merokok dan semacamnya?


"Pak Rangga!" sapa Arga dengan senyumnya.


"Dimana orang itu?" tanya Rangga setelah membalas salaman ala laki-laki dari Arga.


Arga hanya menunjuk salah satu ruangan, mengantar Rangga masuk kesana, dimana seorang laki-laki tengah di ikat, jangan lupakan wajah babak belur pertanda sudah di hajar habis-habisan.


"Titipan dari om Rayhan."Arga menyerahkan map coklat lumayan tebal pada Rangga. "Waktu dan tempat di persilahkan!" perintah Arga yang kini bersandar di daun pintu, akan menyaksikan penyiksaan babak kedua untuk laki-laki yang sok-sok an menjadi pembunuh bayaran padahal ilmu bela dirinya di bawah rata-rata.


"Lepasin dia, tidak adil rasanya jika memukul tanpa ada perlawanan!" perintah Rangga dengan tangan terkepal. Ini saatnya ia melampiaskan emosi dalam dirinya, emosi karena Melisha, emosi karena Ayahnya dan emosi karena laki-laki yang mencoba membunuh istrinya.


Rangga maju setelah pembunuh bayaran itu dilepaskan. Langsung melayangkan tendangan putar membuat pembunuh bayaran itu jatuh tersungkur ke lantai.


Ia berjongkok, menarik kerah kemaja pembunuh bayaran itu. "Kenapa kau diam saja? Ayo pukul saya sialan!" maki Rangga. "Jangan mengira kau akan bebas setelah ini."

__ADS_1


Bugh


Darah segar mengalir di mulut laki-laki itu saat satu injakan mendarat di perutnya.


"Habisin aja Pak! Percuma, dia nggak bakal melawan, udah Ko dia semalam," ujar Arga greget sendiri apa lagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri hari itu.


Seperti kerasukan, Rangga benar-benar memukuli tubuh pria pembunuh bayaran itu hingga terkapar tak sadarkan diri.


Satu kalimat yang berhasil keluar dari mulut pria pembunuh bayaran itu sebelum hilang kesadaran.


"Saya cuma meminta keadilan, jika saya masuk penjara maka Nona Melisha pun sama."


Rangga tak langsung pulang kerumah setelah bertemu Arga, tidak mungkin ia pulang dengan baju berlumuran darah seperti ini. Laki-laki itu sengaja membeli baju di toko, sebelum ke kantor polisi untuk menyerahkan semua bukti.


Rayhan benar-benar orang yang bisa di andalkan. Hanya dalam waktu tiga hari, laki-laki itu mampu mengumpulkan semua bukti. Di dalam map itu ada beberapa video, termasuk Video CCTV yang sempat hilang saat Rangga memeriksanya sendiri, yaitu video di parkiran dimana Melisha menyuruh seseorang, juga video penyerangan di pekarangan rumahnya. Belum lagi hp yang di gunakan Melisha untuk meneror Rania.


Rangga sampai di rumah sore hari, setelah mengurus laporan pada polisi, tak lupa ia membuat salinan jaga-jaga ada kecurangan atau penghapusan barang bukti seperti yang sudah-sudah.


"Katanya makan siang di rumah, tapi pulangnya sore," sambut Rania dengan wajah cemberut, ia merasa di tipu oleh suaminya sendiri.


"Mas kebablasan ngobrolnya sama teman-teman Yang. Jangan cemberut gitu dong, gemes mas jadinya." Rangga mengamit pinggang sang istri masuk kerumah.

__ADS_1


"Ish aku udah lapar nungguin mas."


"Kamu belum makan?"


"Belum, kata mas tadi mau pulang bawain aku mie ayam. Sekarang mie ayammya mana?"


"Shitt," umpat Rangga, matilah ia melupakan janjinya pada Rania.


Rania memicingkan matanya. "Jangan bilang mas nggak beli? Padahal aku udah lapar."


"Anu ... sayang, mas bukannya lupa tapi ...."


"Sengaja!"


"Nggak gitu, yaudah, ayo kita makan di luar aja," ajak Rangga menarik tangan Rania. Namun, di tepis pelan oleh Rania.


"Itu juga bajunya kenapa beda? Sebenarnya mas dari mana?"


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2