
Pesta pernikahan yang di adakan Rangga berjalan sesuai rencana, sangat mewah dan di hadiri banyak orang penting. Teman-teman Rangga di dunia bisnis, hingga semasa kuliah dulu.
Laki-laki itu sengaja mengundang banyak orang hanya untuk memperlihatkan pada semuanya, bahwa Rania miliknya, Rania istri sahnya satu-satunya.
Ijab kabul kedua setelah melahirkan usai di ucapkan oleh Rangga beberapa menit yang lalu. Kini keduanya duduk di atas pelaminan bersama putra tercinta.
Banyak yang memberi selamat hingga Rania kewalahan sendiri. Rangga mengadakan pesta malam, dan kini pesta belum berakhir padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 10.
"Mas, aku bawa Rayyan ke kamar dulu ya, takutnya ke ganggu," izin Rania saat Rayyan tertidur padahal suara semakin gaduh.
"Mas temenin?"
"Jangan mas, nggak enak sama tamu, aku sama Lia aja." Tunjuk Rania pada Relia yang sedang berbincang dengan Arga, sementara Rayna sibuk mengurus kekasihnya yang juga ikut datang.
Sesampainya di kamar pengantin yang telah di siapkan Rangga. Rania menurunkan tubuh Rayyan perlahan-lahan agar tidak terbangun.
Percayalah, Rania sangat terkejut tadi karena pesta yang begitu meriah, ia mengira pesta akan berlangsung sederhana saja, penikahan ulang dan aqikah, setelahnya selesai. Ternyata tidak.
"Mbak Nia, mending susul bang Rangga aja, biar Rayyan sama aku. Lagian di luar berisik."
Rania mengangguk, sedikit lega Relia ingin menjaga Rayyan. Karena memang adik bungusnya itu tidak terlalu suka dengan keramaian.
Berada di keramian tapi terasa sepi, itulah yang dirasakan Relia di tengah pesta, entah karena apa.
__ADS_1
***
Rangga terkejut bukan main ketika melihat seorang wanita dengan pakaian terbuka berjalan semakin dekat dengannya. Ia tahu betul siapa wanita itu. Salah satu wanita yang pernah tidur dengannya saat di bandung dulu.
Bukan hanya Rangga yang terjut, Agas pun sama. Wanita itu sedikit bar-bar dan tidak tahu malu, jangan sampai membuat kekacauan di hari bahagia sahabatnya.
"Hay Rangga lama nggak ketemu, gimana kabar kamu?" ujar wanita itu basa basi. "Gue kangen sama sentuhan lo," bisiknya dengan nada sedikit menggoda.
"Jenita!"
"Mas Rangga."
Panggil Agas dan Rania berbarengan.
Rangga sedikit mendorong tubuh Jenita agar menjauh darinya, tak ingin Rania salah paham.
"Sa-sayang, Rayyan sama siapa?" tanya Rangga sedikit gugup, langsung mengamit pinggang Rania, dari raut wajah Rania, sepertinya belum tahu situasi yang terjadi, sangat tenang.
"Sama Lia mas," jawab Rania melirik wanita di hadapan Rangga, ia tersenyum tulus.
"Temannya mas Rangga ya?" sapa Rania ramah.
"Mantan teman ranjang lebih tepatnya," jawab Jenita dengan senyuman.
__ADS_1
"Ternyata lo di sini Ta, gue cari kemana-mana." Agas langsung merangkul pinggang Jenita dengan mesra. "Sorry Ga, Ran. Cewek gue mabuk berat, gue pamit dulu." Laki-laki itu langsung menyeret tubuh Jenita agar keluar dari lingkungan pesta, kesal akan tinggah wanita tidak tahu diri.
"Teman Ranjang?" beo Rania menatap kepergian Jenita dan Agas.
Wanita itu ikut duduk saat Rangga menariknya, masih mencerna kalimat barusan.
"Mas, teman ranjang maksudnya gimana? Mas pernah tidur sama dia?"
Rangga menelan salivanya kasar, mengenggam tangan Rania erat. "Semua itu cuma masalalu sayang," jawabnya.
"Jadi benar wanita itu pernah tidur sama mas?" tanya Rania dan dijawab anggukan oleh Rangga.
"Kenapa panik gitu? Cuma masalalu kan? Sekarang udah nggak punya hubungan lagi, benar kan mas?" Rania menuntut jawaban.
"Iya sayang, itu dulu sebelum mas pacaran sama kamu. Mas berani bersumpah ...."
"Aku percaya sama mas, jangan buat aku kecewa ya mas. Impian aku cuma mau bahagia sama mas dan anak-anak kita tanpa ada orang ketiga," lirih Rania walau hatinya sedikit sakit.
Tapi itu semua hanya masa lalu suaminya, menerima Rangga, itu artinya ia menerima semua masa lalunya mau baik atau buruk sekalipun.
"Makasih udah percaya sama mas."
...****************...
__ADS_1
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น