Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 126


__ADS_3

Usai mencuci semua sayuran dan menyimpannya ke lemari pendingin. Rania langsung masuk ke kamar tak peduli dengan Rangga yang terus mengikutinya.


Wanita itu mengambil baju ganti kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena gerah, juga tubuh lengket. Ia tersentak saat sebuah tangan melingkar di perutnya tiba-tiba.


"Maafin mas. Mas nggak tau cara panennya," bisik Rangga.


"Kan bisa nanya kalau nggak tau, bukan main iya aja," jawab Rania langsung melerai pelukan Rangga, mengeringkan rambut panjangnya.


"Sayang?"


"Apa?"


"Jangan ngambek sama mas, kamu nggak kangen apa? 4 hari loh."


Rania tidak mendengarkan, bumil itu masih kesal karena kelakuan Rangga pada pohon tomatnya. Ia berjalan keluar kamar, takut jika berada satu kamar dengan Rangga ia langsung luluh.


Rangga jika sedang membujuk melebihi setan, membuat siapa saja akan terlena akan ucapan laki-laki itu, tidak heran banyak wanita yang dia dapatkan dulu.


Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar, menyusul Rania ke ruang Tv. Baru saja akan memeluk suara Rayna terdengar membuatnya urung.


"Ina kangen banget sama mbak, maaf nggak bisa jagain di rumah sakit. Tapi janji bakal jagain di rumah, dua hari kedepan Ina nggak ada kelas." Rayna memeluk Rania erat.


Khawatir akan keadaan kakaknya juga calon ponakan yang ada di perut Rania.

__ADS_1


"Mbak tau kamu sibuk. Gimana sama Radit?" tanya Rania membalas pelukan Rayna.


Mendengar istri tercinta menyebut laki-laki lain, Rangga segera mendekat, berdiri tepat di belakang kursi tempat Rania duduk.


"Siapa, Radit?"


"An-anu bang, pacar Ina di kampung."


"Oh kirain," gumam Rangga ikut duduk di kursi satunya.


Sesekali melirik Rania dan Rayna yang masih berpelukan. Tidak tahukah wanita itu bahwa ia juga ingin berada di posisi Rayna?


"Ina, kamu nggak ada niatan mandi terus makan?" tanya Rangga terkesan mengusir.


Rayna langsung mengambil tasnya di meja kemudia masuk ke kamar menyisakan Rangga dan Rania saja.


Merasa ada kesempatan, Rangga langsung pindah duduk di samping sang istri. Memeluk pinggang Rania dari samping, tak lupa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.


"Sayang udah ih ngambeknya, kamu nggak tegas sama mas? Manusia tempatnya salah loh. Tuhan aja pemaaf, masa ummatnya nggak."


Kalau saja Rania tidak takut dosa, mungkin ia sudah mencibir suaminya itu. Memang kesalahan Rangga tidak fatal, tapi ia sungguh kesal melihatnya.


"Mbak Nia udah pulang?" Pertanyaan konyol itu keluar dari si bungsu.

__ADS_1


"Udah, sibuk banget sampai baru pulang." Rania memasrahkan tangannya yang di cium oleh Relia.


"Heheh iya mbak, Lia daftar osis, nggak papa kan?"


"Nggak sih menurut mbak, bagus malah lebih aktif banyak teman, sana gih makan sama Ina!"


Sebelum Relia pergi, ia sempat melirik kakak iparnya yang seperti anak kecil. Sementara yang di lirik sangat acuh, bahkan tidak merubah posisinya.


Relia mengerakkan bibirnya seolah bertanya 'Kenapa' tanpa mengeluarkan suara, dan hanya di jawab kedikan bahu oleh Rania.


"Udah meluk-meluknya, nggak malu apa di liatin sama Lia?" Rania berusaha melerai setelah kepergian Relia.


"Nggak mau Yang, sebelum kamu maafin."


"Iya aku maafin."


"Nggak mau, kamu masih ngambek sama mas. Mas janji deh bakal beliin kamu tomat sama cabai yang banyak nanti."


"Mas Rangga!"


"Nggak Mau pokoknya." Rangga semakin mengeratkan pelukannya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tekan vote dan tebar kembang sebanyak-banyaknya 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹💃💃💃💃💃💃💃💃


__ADS_2