
Rania memandangi koper yang berisi pakaian dan beberapa kebutuhan penting lainnya, tekat untuk meninggalkan cita-cita dan cintanya susah bulat. Ia belum punya tujuan yang jelas. Namun, pergi sudah menjadi pilihannya.
"Semangat Rania demi anak kamu," gumamnya mengelus perut ratanya. Sangat di untungkan ia belum merasakan ngidam berlebihan, hanya mual di pagi hari itupun tidak terlalu parah.
Usai bersiap-siap, Rania berangkat ke kampus. Kali ini ia memakai cardigang over size agar lekuk tubuh juga perutnya tidak terlihat, ia takut orang lain tahu kehamilannya.
Demi menghindari bisik-bisik yang bisa saja menyakiti hatinya, Rania memakai headset hingga sampai di ruangan tempatnya UTS. Itupun di dalam ruangan beberapa mahasiswa meliriknya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Rania kembali memperhatikan penampilannya takut ada yang salah.
Nggak mungkin mereka tahu aku hamil, perut aku masih rata.
***
Satu jam telah berlalu, akhirnty UTS Rania selesai, wanita itu berjalan di sekitar koridor untuk pertama kalinya setelah kepergian Rangga. Biasanya Rania akan berjalan di pinggir lapangan tak peduli dengan sinar matahari terik.
Langkah Rania perlahan-lahan berhenti melihat kerumunan di mading. Karena penasaran dengan info terbaru kampus, wanita cantik berbadan dua berbalut cardigan itu segera mendekat, sedikit menerobos kedepan.
Jantung Rania seakan berhenti berdetak melihat fotonya juga Ss pesan yang pernah ia kirimkan pada Rangga.
__ADS_1
Ss saat ia mengaku hamil anak laki-laki itu kini terpajang sangat besar di mading utama. Belum lagi fotonya yang sengaja di edit sehina mungkin, foto saat di club. Juga foto pernikahan Rangga dengan istrinya.
Perlahan kaki Rania melangkah mundur dengan dada bergemuruh, belum lagi tatapan mengintimidasi dari orang-orang di sekitarnya. Ia berlari sekencang mungkin menghindari semua hinaan yang akan tertuju padanya.
Namun, semuanya sudah terlambat, mungkin semua mahasiswa Fakultas kedokteran sudah melihatnya dan paling parahnya menyebar ke berbagai Fakultas lain di kampus.
"Dasar wanita murahan, mau aja jadi selingkuhan, kalau gue udah bunuh diri tuh."
"Hahahah lucu banget wanita kampung itu."
"Yakin nggak tuh hamil anak kak Rangga? Secara keluar masul club."
"Jadi pelampiasan dan pemuas nafsu kak Rangga aja bangga."
"Pasti istri sahnya sakit hati."
"Dasar wanita tidak tahu malu!"
"Wanita penggoa!"
__ADS_1
"Ada ya pelakor kek gitu? Dih!"
Rania menutup telinganya karena tak sanggup mendengar semua cacian yang keluar dari teman-teman kampusnya. Wanita itu selalu salah di mata orang lain.
Rania jatuh tersungkur di tengah lapangan karena lelah juga penglihatan buram karena air mata.
"AKU BUKAN PENGGODA!" teriak Rania di tengah lapangan di saksikan banyak orang.
"Kenapa selalu aku yang di salahkan?" Rania hendak berdiri, tapi kakinya terasa lemas.
"Huh, mana ada maling teriak maling!" seru yang lainnya melempar apa saja yang mereka pegang pada Rania membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Apa yang kalian lakukan sialan? Apa kalian sudah sesuci itu hingga menghakimi Rania seenaknya? Berhenti melempar atau gue tebas leher kalian!" bentak Agas berapi-api. Laki-laki itu sangat murka melihat Rania di permalukan.
Tidak tahukan semua orang Rania juga korban? Orang yang paling menderita adalah wanita itu.
Agas memeluk tubuh Rania yang bergetar di tengah lapangan, menghalau berbagai lemparan dari orang-orang sekitar.
"It's okey," gumam Agas mencium puncuk kepala Rania. "Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya.
__ADS_1
Merasa sudah tidak ada lagi yang melempar, Agas membimbing Rania berdiri, memasangkan jaket di bahu wanita itu. Tubuh Rania basah kuyup karena minuman dari beberapa orang, juga noda sambel dan semacamnya.
...****************...