
Karena Edwin tidak bisa bicara secara jelas Rania memutuskan untuk memberi pria paruh baya itu kertas dan bolpoin. Takut Edwin ingin membicarakan hal serius. Namun, terhalang karena kesusahan.
Rania memperhatikan pergerakan Edwin yang kini mengoreskan tinta sedikit demi sedikit di atas kertas putih. Sementara Rangga yang sudah terlanjur kersal, duduk di sofa seraya memejamkan matanya.
Ponsel di saku jasnya berdering, dengan nomor baru. Ia langsung menjawab panggilan itu dan memilih keluar dari kamar.
"Halo, apa benar ini pak Rangga?" tanya seorang cowok di seberang telpon.
"Iya benar, ada apa?"
"Saya Arga ponakannya om Rayhan. Target berhasil di ringkus, malam ini. Kalau bisa segeralah ke gudang ... dan beri pelajaran secara langsung!"
"Oh baiklah, saya akan kesana segera," sahut Rangga.
Laki-laki itu memutuskan sambungan telponnya dengan seringai licik. Tidak sia-sia ia meminta pertolongan pada Rayhan, terbukti kurang dari seminggu dia berhasil melumpuhkan lawannya.
Rangga kembali ke kamar, dan mendapati Edwin menyerahkan kertas pada Rania. Penasaran akan isinya ia langsung merebut kertas itu. Rahangnya mengeras setelah membaca isinya. Ini sebuah penghinaan dan Rangga tidak suka itu.
Ia meremas kertas di tangannya kemudian melempar ke tampat sampah yang ada di dalam kamar.
"Rania bisa tinggalkan mas sebentar di kamar bedua saja sama ayah?"
__ADS_1
"Bi-bisa, tapi jangan bentak-bentak ayah mas dia lagi sakit," pesan Rania sebelum keluar dari kamar. Sebenarnya Rania penasaran dengan isi kertas yang di tulis Edwin tadi, tapi apa daya, melihat mata memerah Rangga sudah membuatnya ciut.
Tepat saat pintu tertutup, di situlah amarah Rangga benar-benar di ubun-ubun, tangannya terkepal dengan tatapan sangat tajam, seakan pria di hadapannya adalah musuh bukan ayahnya.
"Asal kau tau Tuan Edwin yang terhormat, istriku bukan wanita murahan seperti yang kau katakan barusan!" ucap Rangga penuh tekanan, matanya sampai berkaca-kaca karena kecewa pada ayahnya.
Apa pria di hadapannya ini tidak melihat berapa tulus Rania menyayangi dirinya?
"Dia wanita terhomat dan hampir mendekati sempurna! Aku yang membawannya masuk kedalam hubungan rumit yang bergelar pelakor. Dia bekerja di bar bukan keluar masuk bar bersama laki-laki lain. Kau tidak tahu penderitaan yang di alami istriku karena menantu kesayanganmu itu!" bentak Rangga.
"Penghibur laki-laki? Itu senua omong kosong Tuan Edwin. Istriku tidak serendah itu. Dan satu lagi, jangan pernah kau katakan bawah anak yang ada di kandungannya adalah anak laki-laki lain, atau kau benar-benar akan kehilangan putramu untuk selamanya!"
"Rwanggwa," panggil Edwin dengan susah payah, pria itu takut putranya buta akan cinta dan berakhir di manfaatkan
Usai meluapkan amarahnya, Rangga keluar dari kamar dan membanting pintu sangat keras.
"Mas Rangga ...."
"Pulang!"
"Tapi aku belum pamit sama ayah."
__ADS_1
"Cukup Rania cukup! Jangan bantah mas Lagi!" bentak Rangga.
Rania terdiam, mengikuti langkah Rangga menuruni satu persatu anak tangga. Karena suaminya berhenti tiba-tiba di anak tangga terakhir, ia jadi menambrak punggung kekar laki-laki itu.
"Mas Rangga, udah mau pulang ya?"
Mendengar suara wanita lain, Rania hendak mengintip di balik punggung Rangga, tapi belum sepat, suara tamparan yang begitu jaring terdengar.
"Puas kau menfitnah istriku hm? Bukan Rania yang murahan tapi kau!" Rangga menunjuk Melisha dengan tangan bergetar.
Malam ini Rangga benar-benar hilang kendali, setelah membawa isi kertas berupa hinaan dari Edwin, dan pria paruh bayah itu mengatakan Melisha yang memberikannya bukti tentang kebusukan Rania.
"Dan kau adalah wanita paling tidak tahu malu yang pernah aku kenal selama ini!" Rangga senyum seinis. "Tinggal di Mansion dan ingin menguasainya, berlagak seperti nyonya padahal hanya mantan istri! Apa kau tidak punya malu? Keluar dari rumahku sekarang juga!" usir Rangga.
Rania? Wanita itu hanya mampu meremas ujung jas Rangga. Nyalinya sudah hilang setelah di bentak tadi.
"Aku nggak mau! Aku nggak akan keluar dari rumah ini sebelum surat cerai itu keluar dari pengadilan," jawab Melisha.
"Dasar Wanita gila!"
...****************...
__ADS_1
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น