Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Par 74 - Acuh Lebih Baik


__ADS_3

Karena tidak tahu harus mengerjakan apa lagi setelah mencuci, Rania iseng berjalan ke depan rumah yang lebarnya hanya satu meter di batasi pagar kayu setinggi pinggang. Wanita itu menyiram bunga-bunga yang terlihat cantik. Tidak di ragukan lagi siapa yang menanamnya. Rayna si hobi berkebun.


Asik menyiram bunga hingg Rania tidak menyadari ibu-ibu yang sedang berkumpul tak jauh dari rumahnya memperhatikan dirinya. Kebetulan pos ronda di huni ibu-ibu jika pagi-pagi seperti ini.


"Eh liat deh, Rania kok tubuhnya kayak aneh gitu ya," celetuk salah satu ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikan Rania. Tantu saja wanita itu mendengar celotehan ibu-ibu yang sepertinya sengaja memperdengarkan.


"Saya curiga dia tuh hamil di luar nikah," sahut ibu yang lainnya.


"Hooh, liat aja perutnya besar gitu, kalau kenyang mah nggak bakal sebesar itu kali."


Rania mencoba menulikan pendegarannya. Memang perutnya setelah menikah menjadi semakin besar entah karena apa, padahal sebelum nikah perutnya tidak terlalu membuncit.


Apa ini cara sang Kuasa menutup aib seseorang?


"Lucu ya baru satu hari nikah hamilnya sekitar tiga bulanan. Emang dasarnya nakal ya nakal aja."


Rania ternsetak saat seseorang langsung menutup telinganya, orang itu tak lain adalah Rangga. Rania berbalik kemudian melempar senyum hangatnya yang terbalut luka.


"Ayo masuk, di luar panas," ajak Rangga.

__ADS_1


Laki-laki itu sengaja menghampiri Rania saat mendengar suara ibu-ibu yang mulai memojokkan Rania. Rangga membimbing Rania hingga duduk di kursi rotan.


"Nggak usah keluar rumah sampai kita pulang nanti. Aku nggak suka dengar obrolan mereka. Jangan sampai Mas hilang kesabaran dan berbuat ulah," ujar Rangga dengan nada sedikit dingin.


Tidak ada seorang suami yang suka jika istrinya di gunjing seperti itu.


"Nggak papa Mas, di kampung udah biasa kok kalau ada ibu-ibu ngomongin orang gitu. Lagian apa yang mereka katakan benar, aku hamil di luar nikah."


"Rania!" tegas Rangga.


Rania tersenyum, memeluk lengan Rangga dan mengelusnya. "Jangan emosi sayang, hidup tanpa mendengarkan penilain orang lain jauh lebih indah."


"Hati terbentuk dari sel parenkimal dan juga sel non parenkimal. Sel parenkimal dalam hati di sebut ...."


"Syutt. Mas nggak mau dengar penjelasan kamu." potong Rangga. Padahal niat Rangga ingin memuji sang istri, yang berhati malaikat, eh malah di jawab dengan teori kedokteran.


Rangga mengeluarkan sesuatu di dompetnya dan memberikan pada Rania. "Buat belanja harian, Mas tau kamu nggak punya uang, tapi malu minta kan?"


"Ak-aku ..."

__ADS_1


"Aku suami kamu, dan kamu istri aku. Uang aku milik kamu juga sayang, kalau ada apa-apa ngomong ya, jangan di pendam sendiri."


"Tapi ini terlalu banyak Mas."


"Masih ada ya wanita nggak suka uang?" Alis Rangga saling bertaut. "Kalau uang yang mas berikan terlalu banyak menurut kamu, di tabung sayang." Rangga tak lupa mengeluarkan kartu miliknya. "Sekarang kamu yang ngatur keuangan. Nggak nerima bantahan."


Mulut yang semula terbuka, kembali menutup karena jari Rangga.


"Beruntung banget Rania punya suami kayak Rangga," ujar Rania semakin erat memeluk Rangga.


"Rangga juga beruntung punya istri berhati malaikat kayak Rania."


Tatapan keduanya saling mengunci dengan senyuman.


"Anak kita beruntung karena punya Papa yang baik."


"Anak kita beruntung karena punya Mama yang baik."


Keduanya tertawa setelah mengucapkan kalimat itu. Rangga mengelus rambut Rania dengan sayang, dan sesekali mengecupnya. "Siap-siap gih, kita ke sekolah Lia sekarang." Perintahnya di jawab anggukan oleh Rania.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2