Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 86 - Bumil Pemalas


__ADS_3

Dengan penuh senyuman, Rangga turun dari mobil dan masuk ke rumahnya. Ia tidak mendapati sang istri di ruang tamu, hanya ada Rayna dan Relia.


"Mbak kamu mana?" tanyanya.


"Lagi mandi bang," jawab Relia seraya kembali memasukkan ciki kedalam mulutnya.


Rangga hanya ber oho ria, langsung menuju kamar menemui sang istri.


"Dasar bumil malas, udah jam setengah 12 baru mandi," gumam Rangga melongarkan dasinya yang sedikit sesak. Ia berjalan menuju kamar mandi, coba-coba memutar handel pintu.


Seringai licik tercetak jelas di wajahnya saat handel itu terputar, pertanda pintu tidak di kunci.


"Sayang, Mas ...."


"Aaaaahhhhh, mas Rangga ngapain masuk!" teriak Rania langsung menutup wajahnya karena reflek.


Harusnya ia menutup tubuhnya agar tidak terlihat, tapi otaknya seakan blang mengira jika menutup wajah Rangga tidak akan melihatnya.


"Ekhem." Rangga berdehem, menetralkan degup jantungnya melihat pemandangan yang mengoda iman. Tubuh polos sang istri di bawah guyuran air sangat seksi di matanya, jangan lupakan perut buncit itu.


"Shiitt," umpatnya langsung melepas kemeja begitu saja dan menghampiri sang istri, menarik pinggang wanita itu agar menempel pada tubuhnya yang masih terhalang kain.


"Ngapain nutup wajah hm? Percuma, yang lain keliatan," bisiknya semakin membuat Rania merinding. Salahkan dirinya karena tidak mengunci kamar mandi, ia mengira Rangga tidak akan datang secepat ini.


"Mas Rangga, minggir! Aku kedinginan." Rania mencoba mendorong tubuh Rangga, wajahnya terasa sangat panas, tubuhnya merinding. Sekarang ia benar-benar dalam bahaya.

__ADS_1


"Biar mas beri kahangatan," bisik Rangga memepetkan tubuh Rania kedinding kamar mandi. kini keduanya sama-sama basah karena guyuran air shower.


"Ak-aku ... anu ... itu, hhmmpp." Suara Rania tengelam karena benda kenyalnya telah di raup begitu saja oleh Rangga.


Tubuh yang hampir ambruk karena sentuhan tangan kekar Rangga di tubuhnya membuat Rania refleks mengalungkan tangan di leher sang suami.


Tanpa sadar, tubuh Rangga juga sudah polos tanpa sehelai apapun. "Ngapain baru mandi hm? Dasar bumil pemalas," ujar Rangga setelah melepas ciumannya, mengusap bibir Rania yang setengah terbuka.


"Sengaja biar mas liat kamu madi hm?"


"Bu-bukan itu, tapi tadi aku nggak mood mandi. Penggennya tidur mulu," gugup Rania.


"Mas Rangga!" Rania semakin mengeratkan pegangannya di leher sang suami, saat laki-laki itu menganggat tubuhnya hingga kakinya melingar di pinggang sang suami.


Ia memejamkan mata saat benda tumpul itu melesat begitu saja dengan mudahnya.


"Mas langsung segar yang," ujar Rangga setelah lengkap dengan pakaian santainya.


"Iyalah segar, habis ngecas juga," gumam Rania mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Langsung full," bisik Rangga memeluk Rania dari belakang.


"Ish, udah mas. Waktunya makan siang, mas pasti lapar."


Rania melerai pelukan Rangga, mendorong tubuh itu dari belakang agar keluar dari kamar, bisa bahaya jika mereka tetap di dalam sana.

__ADS_1


Di dapati rumah sepi, sepertinya Rayna dan Relia ada di kamar masing-masing, karena waktunya tidur siang.


"Mas, makan dulu, liat hpnya nanti aja," tegur Rania. Rangga sekali suap, pasti fokusnya ke hp lagi.


Rania bukan cemburu atau curiga, ia hanya ingin Rangga makan dulu setelahnya mengurus yang lain. Kesehatan lebih dari segalanya. Jangan sampai hanya karena uang suaminya sakit.


"Bentar lagi sayang, ini mas lagi ngajuin kerjasama sama perusahaan iklan, kali aja ada yang lirik," jawab Rangga.


Rania mendengus, merebut piring Rangga. Menyendok beberapa lauk di campur nasi. "Aaa ... mangap kalau gitu biar aku suapin."


Rangga tersenyum, membuka mulutnya menerima suapan dari sang istri. "Lebih enak ternyata kalau di suapin gini."


"Tebak siapa yang masak?"


"Kalau capcainya mas nggak tau, tapi kalau ayamnya kamu lah," jawab Rangga.


"Pantesan mau jadi dokter, teliti banget, sampai rasa aja di hapal," gumam Rania.


"Apapun semua tentang kamu. Mau nanya apa? Ukuran Itu?" Melirik buah dada Rania. "Atau itu?" Melirik bagian bawahnya. "Ultah, hari jadian? Hari pernikahan? Makanan, warna, apa hm?"


"Iyadeh, aku ngalah."


...****************...


Babang Rangga mah nakal

__ADS_1



__ADS_2