
"Nggak bisa Gas, ibu Rania nggak kayak ibu pada umumnya, Rania tuh udah kayak anak tiri. Bahkan ibu Rania tega jual Rania ke gue 200 juta!" kesal Rangga.
Beberapa minggu yang lalu sebelum kejadian Rania di ganggu oleh Melisha. Rangga mendapat telpon dari Winarti yang menyuruhnya tidak perlu mengirim uang bulanan lagi. Cukup mengirim uang 200 juta, maka Winarti tidak akan menganggu kehidupan wanita itu, dengan kata lain, Rangga sudah membeli Rania.
Karena tak ingin wanita yang ia cintai terus di bulan-bulani ibunya sendiri, hari itu juga Rangga langsung mentransfer uang ke rekening Winarti. Dan sekarang yang Rangga takutnya, Rania di jual kepada laki-laki lain.
"Ma-maksud lo?" kaget Agas di seberang telpon, bahkan beberapa teman-teman tengkrongannya langsung menoleh. "Rania nggak baik-baik saja?" lanjut Agas.
"Hm. Lo tau kita bisa dapat alamat Rania dimana?"
Hening, Agas tak bersuara, laki-laki itu sedang memikirkan cara untuk mendapatkan alamat Rania. "Lo sebaiknya pulang ke sini dulu, kita bicarain solusinya," pinta Agas.
***
Di kota Bandung, Agas segera pamit pada teman-temannya. Langkah kaki panjangnya menuju kafe tempat kerja Rania dulu, berharap bisa mendapatkan informasi dari sana.
"Dewi, lo tau kampung Rania dimana?" tanya Agas setelah sampai di depan meja kasir.
Laki-laki itu tanpa menunggu waktu langsung bertanya. Sama dengan Rangga, ia ikut khawatir setelah tahu bagaimana sifat ibu Rania.
__ADS_1
Bisa-bisanya ada seorang ibu yang tega menjual putrinya sendiri. Rania wanita yang baik hati dan ramah pada semua orang, kenapa hidupnya selalu dalam masalah? Agas bingung akan hal itu.
Tapi terkadang orang baik, memang selalu di beri ujian lebih agar mereka tahu di mana batasan kebaikannya.
"Nggak tau, Rania nggak pernah cerita tentang kampungnya," jawab Dewi membuat harapan Agas pupus sudah.
"Coba lo cek kepesertaan karyawan, siapa tau ada," usul Agas.
"Rania baik-baik aja kan Gas? Setelah lo bawa pergi dia nggak pernah ngehubungin gue lagi," lirih Dewi seraya mengecek data-data semua karyawan.
Ya Wanita itu sudah bekerja hampir 3 tahun lamanya di cafe, hingga ia di percaya oleh bosnya mengelola cafe.
Helaan nafas terdengar, dimana lagi Agas akan mencari alamat Rania?
***
Jika kedua laki-laki tampan sedang mencari keberadaan Rania. Maka wanita yang di cari sudah sampai di kampung halamannya. Senyum wanita itu mengembang setelah turun dari angkot, berjalan menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Banyak tetangga yang menyapa dan Rania membalasnya dengan senyuman.
Kampung Rania cukup jauh dari Kota, ia berangkat pagi dan baru sampai saat matahari mulai tenggelam.
__ADS_1
Kening wanita itu mengernyit mendapati mobil mewah berwarna hitam berada di depan rumahnya.
"Ibu kedatangan tamu?" gumam Rania.
Tentu saja Rania mengira seperti itu. Tidak mungkin ibunya mempunyai mobil semewah itu, makan saja secukupnya.
"Mbak Rania!" Teriak Rayna langsung menghampiri Rania di depan rumah bersama Relia.
Rayna adalah adik Rania yang pertama, sedangkan Relia adik paling bungsu. Mereka tiga bersaudara perempuan semua. Rayna tahun ini lulus SMA dan Relia baru naik kelas 1 SMA.
Relia langsung menarik tangan Rania. "Kenapa mbak Rania pulang? Ayo mbak harus pergi sekarang," ujar Relia.
"Benar mbak, ayo Rayna antar mbak. Ibu bohong kalau dia sakit, Ibu mau nikahin mbak sama bang Jeky," timpal Rayna ikut menarik tangan Rania agar segera pergi.
Kedua adik Rania itu sangat menyayangi mbaknya, dan tak ingin jika Rania menikah dengan Jeky, duda di kampungnya. Jika hanya duda itu tidak masalah, tetapi Jeky sering menyiksa istrinya hingga tidak ada yang bertahan.
"Akhirnya kamu datang nak, ibu rindu." Suara itu berhasil menghentikan aksi Rayna dan Relia, kedua gadis itu langsung menyingkir, mereka takut pada ibunya.
...****************...
__ADS_1