Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 52 - Momen Yang Tak Mungkin Terlupakan


__ADS_3

Agas mengendarai motornya dengan kecepatan sedang seraya menikmati indahnya kota di malam hati bersama orang yang ia cintai, walau hati wanita itu telah menjadi milik sahabatnya.


"Rania, emang perut lo nggak papa pakai jeans gitu?" kepo Agas.


"Kenapa kak?" tanya balik Rania seraya memajukan sedikit tubuhnya untuk mendengar ucapan Agas.


"Perut lo nggak papa kalau celana gitu? Kan lo hamil?"


"Nggak, kayak biasa kok kak. Nggak bakal ke gencet juga," jawab Rania.


"Syukurlah, takutnya kenapa-napa," gumam Agas.


Menempuh perjalan kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka berdua sampai di pasar malam yang di maksud Agas.


Laki-laki itu membantu Rania membuka helm berjalan beriringan memasuki pagar setinggi pinggang sebagai pembatas pasar malam.


Keramaian yang di bayangkan Agas di luar ekspektasi, ia mengira tidak akan seramai ini. Ternyata sudah banyak perubahan di kota kelahirannya.


Tak ingin membuat Rania tenggelam di lautan orang yang tengah berlalu lalang menikmati keseruan pasar malam. Laki-laki itu langsung meraih tangan Rania dan menyatukan jari-jarinya.


"Biar nggak ilang," ucap Agas menarik Rania semakin dalam. "Lo mau makan apa?" tanyanya.


Rania mengedarkan pandangannya mencari pedagang yang mungkin ia sukai dan pilihannya tertuju pada kerumunan anak-anak. "Aku mau beli gulali kak. Ayo." Wanita itu menarik tangan Agas menuju penjual gulali.


"Pak, gulalinya satu ...." Rania menoleh pada Agas. "Kakak juga mau?" tawarnya.

__ADS_1


"Boleh."


"Dua pak," lanjut Rania menaikkan dua jarinya.


Setelah mendapat gulali, Agas mengajak Rania ke tengah lapangan, di sana banyak permainan seru yang bisa di mainkan orang dewasa seperti mereka.


Sekarang keduanya hanya datang untuk bermain, terlebih Rania tak ingin membeli apapun dengan banyak alasan yang terlontar di mulutnya.


"Rania mau naik bianglala nggak? Makan gulali sambil naik itu seru loh."


"Aku takut ketinggian kak," jawab Rania menahan langkah Agas.


"Lo bukan takut, tapi nggak biasa aja, percaya sama gue. Indahnya malam jauh lebih cantik jika di atas sana!" Ajak Agas penuh antusias.


Kepo akan perkataan Agas, Rania segera menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah lebar Agas.


"Coba buka mata lo," bisik Agas setelah berada di ketinggian.


"Nggak mau."


"Percaya sama gue." Agas kembali berbisik.


Perlahan-lahan mata Rania terbuka dan menutupnya kembali, hingga matanya tak sengaja melihat kembang api yang di di nyalakan orang lain.


Senyumnya mengengambang, ternyata ketakutannya tentang ketinggian selama ini tidak beralasan, tidak semua ketinggian itu menyeramkan.

__ADS_1


"Cantik banget," lirih Rania dengan mata berbinar.


"Lo juga," sahut Agas.


"Kok aku?"


"Terus lo tampan gitu?" tanya balik Agas. "Nih punya lo dah kempes belum di makan juga."


"Lupa kak."


Keduanya menikmati malam yang indah di atas bianglala dengan dua tusuk gulali lumayan besar. Sesekali Agas menjahili Rania dengan mengempeskan gulali Rania dengan kepalan Tangan.


Tawa keduanya sangat renyah, untuk sesaat Rania benar-benar melupakan masalah dalam hidupnya.


Sibuk tertawa, wanita itu tidak menyadari tatapan Agas yang penuh cinta.


Senang bisa liat lo tertawa selepas ini Ran, semoga selalu bahagia walau bukan gue alasannya.


"Lanjut nggak nih?" tanya Agas setelah putaran berakhir.


"Lanjut, boleh kan?"


"Boleh dong." Agas mengacak-acak rambut Rania karena gemes.


Ponsel? Agas sengaja menyuruh Rania menonaktifkannya agar Rangga tidak bisa melacak keberadaan mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2