
Mendegar musibah yang menimpa Rania, Rangga langsung pulang malam itu juga tanpa istirahat atau makan malam. Semua pekerjaanya ia titipkan pada Lingga.
Laki-laki itu baru sampai di ibu kota sekitar ham 12 malam, menempuh perjalanan kurang lebih setengah hingga sampai di rumahnya.
Tanpa memberi salam Rangga langsung membuka pintu rumah karena membawa kunci cadangan. Di lihatnya Rayna dan Relia tidur dengan posisi duduk di ruang tamu tepat di depan kamarnya.
Tak ingin menganggu siapapun, Rangga langsung membuka pintu kamar dan mendapati kamar gelap gupita.
"Sayang. Rania!" tak ada sahutan.
Rangga menyalakan senter hp menuju ranjang lalu menghidupkan lampu. Hatinya terasa sakit mendapati sang istri tidur di kaki ranjang tanpa pengalas apapun. Rambut yang acak-acakan juga mata sebeb, pipi memerah dengan bekas tangan di sana.
Mata Rangga memanas, bulir-bulir bening sebentar lagi akan tumpah. Ia menyesal meninggalkan istrinya hanya karena pekerjaan. Rangga bejongkok untuk mengelus pipi memerah itu.
"Maaf," lirih Rangga.
Sentuhan Rangga berhasil membangungkan Rania, wanita itu langsung menepis tangan Rangga dari pipinya. "Pergi! Aku mohon jangan bunuh anak aku!" bentak Rania.
"Ini mas Sayang, tenangin diri kamu." Rangga manarik Rania untuk di dekapanya. Namun, tak bertahan lama karena wanita itu keburu melerai.
Rania memukul dada bidang Rangga saat tersadar orang itu adalah suaminya. "Kamu jahat Rangga, kamu jahat! Semua yang kamu katakan hanya omong kosong. Katanya kamu mau lindungin aku, kamu bakal jaga anak aku tapi mana? Anak aku mau di bunuh tapi kamu nggak ada!"
"Aku mau pergi! Sudah aku katakan, aku lebih baik kehilangan kamu daripada anak aku! Aku nyesal nikah sama kamu!"
"Semua janji yang kamu ucapkan cuma omong kosong!"
__ADS_1
"Rania sadar sayang, tenangin diri kamu."
"Pergi! Harusnya aju pergi jauh dan nggak ngingkarin janji pada mereka!"
"Ak-aku muak ...."
Brugh
"Rania!" teriak Rangga saar Rania jatuh tak sadarkan diri.
***
Rangga memandangi wajah damai Rania yang kini berbaring di atas berangkar. Ia baru saja bertemu dokter yang mengakatan, Rania mengalami stress berlebihan. Dan semua itu bisa bedampak buru bagi kesehanan bayi yang ada dalam kandunganya.
Laki-laki itu duduk di samping brangkar seraya mengengam tangan dingin Raia, mengecup berkali-kali.
"Maafin mas karena nggak becus jaga kalian. Mas janji ini yang terakhir mas ninggalin kalian berdua saja. Jangan tinggalin mas ya," gumam Rangga.
"Jangan bunuh anak aku, aku janji bakal pergi dari hidupnya," gumam Rania dibawah alam bawa sadarnya, bahkan wanita itu sampai meteskan air mata.
"Nggak bakal ada orang yang melukai anak kita Ran, mas janji!"
Mata yang baru saja mengeluarkan air mata perlahan-lahan terbuka. Tatapan kosong Rangga dapati di sana.
"Sayang, ada yang sakit? Butuh sesuatu?"
__ADS_1
"Aku mau pergi," jawab Rania.
"Mau kemana? Mas ada di sini buat jagaian kamu. Mas nggak bakal biarin orang lain lukain kamu lagi. Sarapan dulu ya, setelah itu kita jalan-jalan."
Rania mengeleng, mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Rasa khawatir yang berlebihan dalam dirinya membuat ia sterss sendiri.
"Anak aku."
"Anak kita baik-baik aja Ran." Rangga membimbing tangan Rania menuju perut buncinya. "Anak Papa baik-baik aja kan di dalam sana?"
Perut buncit itu berdenyut seakan merespon pertanyaan Rangga, membuat laki-laki berusia 24 tahun itu tersenyum.
"Baik-baik aja kan?"
"Iya," jawab Rania di sertai anggukan kepala.
"Sekarang jangan sedih lagi ya. Semuanya baik-baik aja." Rangga beralih duduk di pinggir brangkar, menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya
"Makan ya sayang, demi anak kita."
"Iya."
...****************...
Jangan lupa ritual tebar kembangnyaπππππππππ
__ADS_1