
Mobil pak Dermawan baru saja sampai di parkiran rumah sakit. Hari itu, pak Dermawan akan mengajak Liora untuk bertemu salah satu dokter yang akan membantu Liora selama magang di rumah sakit nanti. Sebagai calon dokter, Liora harus banyak belajar dari dokter dokter seniornya.
Pintu terbuka, pak Dermawan, Liora dan Rangga turun dari mobil, kemudian Liora menggandeng tangan mungil Rangga dan akan berjalan bersamanya seperti biasa. Namun Tiba tiba Rangga melepas genggaman tangan liora dan membuat gadis cantik itu bingung, baru akan bertanya namun bocah tampan itu sudah berteriak
"Jacminn"
Tak jauh dari mereka ada Dika yang sedang menggandeng tangan putri kecilnya akan memasuki lobby rumah sakit. Sontak saja Dika dan Jasmin berbalik dan melihat keluarga pak Dermawan berjalan menuju arah yang sama. Rangga yang kegirangan pun langsung berlari ke arah Dika dan Jasmin dengan wajah merah menggemaskan tak ketinggalan senyumnya yang begitu manis menghiasi bibir mungil merah miliknya
"Om" Sapa bocah tampan itu sudah persis anak bujang yang ingin mendekati anak gadisnya.
"Rangga, kok ada disini?" tanya Dika bingung karena tidak melihat Zara
"Iya Om, Langga cama aunty dan Opa" jawab Rangga
"Jacmin" sapa Rangga melihat gadis kecil cantik itu terlihat jutek sekali saat melihat Rangga. Sifat juteknya itu sangat menurun dari sang Ayah saat berhadapan dengan lawan jenis.
"Pak Dermawan" ucap Dika dengan sopan,
"Dika, kalian disini" ucap pak Dermawan. Keduanya saling berjabat tangan
"Iya pak, mau jemput bundanya Jasmin. Kok Rangga bisa sama bapak ya?" Tanya Dika dengan penasaran
"Iya, Rangga itu cucu saya, Anaknya Zara dan Angga. Hidup ini terlalu sulit untuk di tebak Dika. Oh iya kenalkan ini putri bungsu saya, adiknya Angga, Liora Dermawan" ucap Pak Dermawan
Dika tersenyum dan Liora juga tersenyum pada Dika. Semua orang terlihat tersenyum namun tidak untuk Jasmin, gadis cantik itu seperti enggan untuk tersenyum, padahal Rangga terus saja tersenyum padanya.
"Mau coklat?" Rangga mengeluarkan coklat dari dalam tas kecil yang dia bawa.
Jasmin menggelengkan kepala, gadis kecil itu tidak mau memakan coklat
"Nanti gendut" Jawabnya membuat semua orang terkekeh
"Tidak akan gendut, makannya cuma cedikit" jawab Rangga. Sebenarnya Jasmin tertarik dengan coklat yang diberikan Rangga, dari bentuknya sangat unik tapi gadis kecil itu malu malu.
"Ambilah Jasmin, itu coklat yang Aunty bawa dari Jerman, rasanya tidak terlalu manis, masih manis Jasmin saat tersenyum" ucap Liora dengan begitu manis
Gadis kecil itu tersipu, lalu mengangguk dan mengambil coklat yang diberikan Rangga
"Telima kacih kak" ucap gadis kecil itu
"Iyah" Jawab Rangga tersenyum tak kalah manis
"Oh iya Dika, kalau begitu kami duluan ya, karena kami ada janji dengan Dokter Rahayu" ucap pak Dermawan
"Baik pak, silahkan,, kami akan ke poli anak menunggu bundanya Jasmin" ucap Dika
"Dadaa Jasmin,,," ucap Liora merasa gemas dengan gadis kecil itu
"Ddaaa Aunty" jawab Jasmin tersenyum kecil
"Kakak pelgi ya" ucap Rangga, rasanya dia tidak ingin pergi meninggalkan gadis kecil itu
"Pelgilah" jawab Jasmin tak sesuai harapan Rangga.
"Hem" sahutnya
__ADS_1
"Jasmin,,, tidak baik seperti itu pada kak Rangga" tegur Dika
"Maaf, Pelgilah kak" ucap Jasmin, Rangga mengangguk lalu berjalan mengikuti Opa dan Aunty nya. Sesekali bocah tampan itu masih menoleh ke belakang untuk melihat gadis kecil yang selalu jutek saat bertegur sapa dengannya.
"Ayo kita jemput bunda" ucap Dika pada putrinya
"Iya yah" jawab Jasmine.
Sementara itu di ruangan Dokter Angga,
Jane tersungkur di lantai hingga hampir mencium kaki Zara, hal itu lah yang membuat Zara sampai menyebut nama wanita itu karena kaget. Sedangkan Rizal tengah berdiri tegang, karena dia yang tidak tau jika ada orang dibalik pintu dan malah membuat seorang dokter tersungkur
"Jane?!" Zara membuat wajah Jane terangkat ke atas dan saling bersitatap, sungguh Jane sangat malu, karena bukan hanya ada Zara dan Angga tapi juga ada orang lain di ruangan itu yang melihat dirinya tersungkur, rasanya dia sudah kehilangan muka saat itu.
"Dokter Maafkan Saya, saya tidak tau kalau ada orang di belakang pintu. Tadi saya mau keluar" ucap Rizal.
"Rizal, kamu keluar, dan tutup pintunya" ucap Angga
"Baik dokter" jawab Rizal lalu keluar dengan cepat dari ruangan itu dan menutupnya kembali.
Zara menarik kakinya dan Dokter jane mulai berdiri.
"Ada apa kemari?!" tanya Zara dengan nada sangat ketus
"Aku,, " Jane mengusap keringat di keningnya setelah berlari larian membuatnya berkeringat
"Aku,, ingin meminta maaf padamu Zara" ucap Jane
"Maaf?!" jawab Zara
"Iya,,,"
"Aku benar benar minta maaf Zara, aku khilaf melakukannya. Waktu itu Bryan bercerita denganku soal kamu, dia menjelek jelekkanmu, Lalu Saat aku di ruangan suster suster juga sedang membicarakamu. Lalu aku terbawa arus pembicaraan mereka, dan aku katakan apa yang Bryan katakan padaku Zara" ucap Jane menyeret Bryan untuk menyelamatkan karirnya
"Kau pikir aku tidak tau tabiatmu Jane Maretha Putri?! bukan kan sejak dulu kau begitu senang menjatuhkan harga diri ku di depan orang lain?!, Jika aku sebutkan satu per satu, mungkin sampai malam baru selesai! Suamiku,, Cepat usir wanita ini!" Zara memberikan perintah untuk menggertak Jane. Zara pun sudah berdiri dengan berkacah pinggang dan ingin pergi, namun Jane memeluk kakinya hingga dia tidak bisa berjalan
"Jangan, jangan usir aku dari rumah sakit ini Zara, aku mohon. Aku sangat butuh pekerjaan ini, aku masih banyak cicilan, rumah, mobil, tas, arisan , tolong Zara,,, jangan minta suamimu untuk memecat ku. Aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan bekerja saja disini, tidak akan macam macam lagi. Aku janji Zara" Jane terlihat sangat takut di pecat, bahkan wanita itu sudah menangis sambil memeluk kaki Zara
"Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi padaku!" cetus Zara
"Kau bisa pegang janjiku Zara, jika aku melakukan lagi, aku akan menerima apapun konsekuensinya yang kamu berikan padaku" ucap Jane dengan segukan
"Jika kau melakukan nya lagi, kau siap melepas gelar doktermu?!" tanya Zara membuat Jane mendongak menatap Zara
"Ya," jawab nya
"Oke, Sekarang lepaskan kakiku! aku memaafkanmu dan kembalilah bekerja" ucap Zara, dengan cepat Jane melepas kaki Zara lalu berdiri
"Terima kasih Zara" ucap Jane sambil mengusap air matanya dan tersenyum.
"Aku pergi" Jane membungkuk sedikit lalu segera berlari keluar dari ruangan Dokter Angga dengan begitu senang karena Dia tidak di pecat dari rumah sakit besar itu.
"Kenapa tidak jadi di pecat?" tanya Dinda terkekeh melihat Zara yang terlihat sangat judes
"Soal pekerjaan dia itu dokter yg profesional, hanya masalah pribadi kak, lagian dia juga sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya, jadi lebih baik memaafkan daripada ada dendam tak berkesudahan. Di pantau saja kedepannya" jawab Zara
__ADS_1
"Iya, tidak baik menaruh dendam didalam hati" Sahut Dinda
Di tempat lain, Pak Dermawan tengah berbincang dengan dokter Rahayu dan Liora, sedang Rangga sudah terlihat bosan karena tidak ada yang mengajaknya bicara. Tak lama pintu diketuk, lalu Dokter Rahayu menyuruh masuk, Rizal masuk kedalam dengan membawa minuman yang sudah di pesan dokter Rahayu melalui susternya.
"Loh Rizal?!" Ucap pak Dermawan saat melihat Rizal, begitu juga dengan Liora dan Rangga
"Pak Dermawan,,, ada disini juga?" tanya Rizal
"Iya, saya mengantarkan Liora karena akan magang di rumah sakit ini" Jawab Pak Dermawan dan Liora tersenyum kecil namun Rizal hanya berani melirik sedikit. Lalu Rizal menyuguhkan minuman di atas meja dengan sedikit gemetar
"Kamu kerja disini?" tanya Pak Dermawan dengan tersenyum
"Iya pak, saya di kasih pekerjaan sama Dokter Angga di bagian pantry" Jawab Rizal
"Ohh begitu,,," ucap pak Dermawan
"Iya pak, Oh iya Dokter apa ada yang bisa saja bantu lagi?" tanya Rizal pada dokter Rahayu
"Tidak ada, terima kasih" jawab Dokter Rahayu
"Kalau begitu saya pamit, permisi" ucap Rizal
"Opa, Langga mau ke luangan papa" ucap Rangga yang sejak tadi sudah seperti patung
"Rizal, saya minta tolong antarkan Rangga ke ruangan Dokter Angga bisa?" tanya Pak Dermawan
"Dokter Angga? papa?" Rizal sedikit bingung
"Rangga anaknya Dokter Angga" sahut Liora
Rizal dibuat tersadar, jika Rangga anak dokter Angga, berarti dokter Angga anak pak Dermawan, jadi mereka pemilik rumah sakit ini, kepala Rizal terasa kunang kunang sekarang.
"Bagaimana bisa?!" tanya Pak Dermawan saat melihat Rizal tampak bingung sendiri
"B,,,bisa pak,, saya akan antarkan,," jawab Rizal dengan tergagap. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi, apalagi memiliki niatan untuk menatap putri cantik di depannya itu, Minder.
"Ayo om" ucap Rangga
"Iya,," jawab Rizal
Lalu Rangga dan Rizal keluar dari ruangan itu.
"Ya Allah,,,, bermimpi saja aku tak berani,,," Rizal mengelus dadaa nya sendiri.
.
.
.
.
.
Senin Oh senin,,,
__ADS_1
Hallo cemuaaa, kenalin aku Jasmine,