
"Kenapa papa dan mama diam saja? dan ekspresi wajah mereka tidak terbaca. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Angga terus bertanya tanya
"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mengambil keputusan sekarang! Aku yakin papa dan mama tidak akan setega itu pada ku!" Batin Angga lagi
Kemudian Angga ingin berdiri dan Zara membantunya
"Papa dan mama Setuju ataupun tidak, Angga akan tetap menikah dengan Zara!" Ucap Angga setelah berdiri tegak meski harus di bantu Zara
"Kak,,," ucap Zara
"Aku sudah berjanji padamu, kita akan kawin lari kalau orang tua ku tidak bisa menerima mu dan Rangga!" ucap Angga
"Tidak begitu kak, restu orang tua itu sangat penting dalam hubungan pernikahan" ucap Zara
"Tapi mereka tidak mau merestui kita? aku harus bagaimana?! aku tidak ingin kita berpisah lagi, sudah cukup 5 tahun kita berpisah. Aku tidak akan bisa melihatmu menikah dengan pria lain untuk kedua kali Ra. Aku tidak mau hatiku hancur lagi untuk kedua kali" ucap Angga
"Ayo kita pergi, aku masih bisa mencukupi semua kebutuhanmu dan Rangga..." ucap Angga lagi dengan tatapan serius
Angga dan Zara terus berjalan, meski tertatih mereka terus berjalan menuju pintu keluar.
"Ayo pa,, ma,, hentikan kami, please pa,, ma,,, aku tau kalian pasti tidak akan tega. Hentikan langkah kami pa,, ma,," Batin Angga berharap kedua orang tua nya akan menahan mereka berdua untuk pergi.
"MAU KAU BAWA KEMANA CUCU DAN CALON MANTUKU?!"
deg!
Langit mendung seakan runtuh berubah menjadi terang benderang. Dadaa yang terasa sesak sejak tadi rasa langsung meledak begitu saja. Harapan Angga terkabul, doanya terjawab begitu cepat.
Langkah Zara dan Angga terhenti tepat didepan pintu, Debaran jantung keduanya semakin kencang saat mendengan kalimat yang diucapkan Pak Dermawan saat itu. Keduanya sama sama mematung, lalu keduanya berbalik. Disana pak Dermawan juga sudah berbalik badan menatap keduanya dan ibu Marissa sudah berdiri menatap keduanya.
Semua terdiam,,
"Kau mau bawa kemana mereka?!" tanya Pak Dermawan lagi
__ADS_1
"Kawin lari pa! kalau orang tua tidak memberi restu, maka apa lagi yang bisa di lakukan jika anak kebelet kawin?!" jawab Angga
"Dasar anak nakal!" sahut mama
"Terus kami harus bagaimana ma?" jawab Angga
"Enak saja kalian mau pergi tanpa menikah lebih dulu!" ucap papa Kemudian merentangkan kedua tangannya lebar lebar dan tersenyum pada Angga dan Zara yang masih berdiri di dekat pintu.
Zara dan Angga menangis haru, lalu keduanya berjalan pelan menghampiri pak Dermawan
"Terima kasih pa!"
Angga dan Zara, kedua anak itu sudah berada di dalam pelukan pak Dermawan. Bahkan Zara dibuat semakin menangis, karena perasaan haru bercampur bahagia.
"Ya. Jika tidak begini, kalian tidak akan mendapat hukuman! dasar anak nakal! bisa bisanya kalian diam diam kawin !" Pak Dermawan menepuk kedua anak itu sedikit keras. Bukannya diam, Zara dibuat semakin menangis
"Maaf kan kesalahan kami pa" ucap Angga
Ibu Marissa mengulas senyum, hatinya lega. Meski dia juga kecewa dengan apa yang dilakukan Angga dan Zara di masa lalu, tapi keduanya sudah memberikan cucu yang begitu tampan. Tidak mungkin dia tega melihat cucunya hidup terlantar lagi,,
"Iya pa, secepatnya Angga akan datang menemui kedua orang tua Zara" jawab Angga
"Terima kasih pak, karena bapak,, sudah mau menerima,,, saya dan Rangga" ucap Zara dengan segukan
"Bagaimana aku tidak menerima kamu? Anak ku yang nakal ini sudah membuatmu susah selama bertahun tahun, bahkan dia sudah membiarkan kamu dan cucu ku hidup susah!" ucap Pak Dermawan
"Tapi,, semua bukan salah kak Angga pak, saya juga salah. Seandainya saat itu saya masih berfikir jernih, mungkin semuanya tidak terjadi seperti ini. Tapi,, saya sangat mencintai anak bapak" ucap Zara dengan berani mengatakan itu pada pak Dermawan
"Secinta itu kamu pada putraku!" sahut Ibu Marissa yang sejak tadi diam karena tidak ada yang mengajaknya bicara. Zara berbalik dan menatap Ibu Marissa yang sudah tersenyum seperti biasa.
Zara kembali meneteskan air mata, sungguh dia terharu, dia bahagia.
"Iya,," Jawab Zara dengan mengangguk dan menyeka air matanya
__ADS_1
Lalu Ibu Marissa merentangkan tangannya ,
"Kemarilah" ucap Ibu Marissa pada Zara
Zara mengangguk, lalu berjalan mendekat pada Ibu Marissa dan langsung memeluknya.
"Maafkan Zara bu,,,, Maaf" ucap Zara dengan deraian air mata
"Mama sudah memaafkan kamu, terima kasih kamu sudah menjaga cucuku dari dalam kandungan sampai sebesar sekarang. Terima kasih kamu tidak berfikir untuk menggugurkannya saat itu. Maaf atas semua ketidaktauan kami, andai kami tau sejak dulu, pasti kami tidak akan membiarkan kamu dan cucu kami hidup susah" ucap ibu Marissa
Zara tak kuasa bicara lagi, dia hanya bisa menangis di pelukan ibu Marissa
"Telfon pak Anwar untuk membawa Rangga kesini" Pak Dermawan menyuruh Angga untuk menelfon pak Anwar.
Sedangkan Pak Anwar dibawah sedang menemani Rangga makan eskrim di minimarket .
"Hallo pak, tolong ajak Rangga kembali ke apartemen saya" Ucap Angga
"Baik ,," jawab pak Anwar
Setelah menelfon pak Anwar, Semuanya duduk di ruang tamu. Melihat wajah Angga lebam begitu membuat Zara tidak tega. Dia pun mencari es dan obat untuk mengobati luka lebamnya.
"Apa kalian sering melakukannya, sampai Zara langsung hamil begitu?" bisik pak Dermawan pada Angga
"Papa!"
.
.
.
.
__ADS_1
Bahahahaha ada ada aja pertanyaan pak Dermawan nih! 🤣
Jawab Ngga, Jawab lo! 🤪